10/15/2019

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Apero Fublic.- Kisah ini telah tersampaikan turun temurun. Pada masyarakat di Pedatuan Bukit Pendape. Yang berkisah tentang asal muasal, Bukit Pendape. Harap dikenang anak cucu di sepanjang zaman.    Kisah ini, berawal dari Negeri Melayu Tue (Tua). Tersebutlah sebua negeri tua di kaki bukit barisan dan Gunung Dempo. Negeri yang berkebudayaan sangat tua.Dikenal dengan nama Peradaban Megalitikum.

Itulah negeri pertama orang-orang Melayu. Bukti-bukti sejarah terhampar berupa batu-batu berukir, tempayan kubur batu, lesung batu dan menhir. Kawasan negeri tua itu, sekarang dikenal menjadi beberapa wilayah, yaitu Kotamadia Pagaralam, Kabupaten Lahat, Empat Lawang, Muara Enim, Baturaja dan daerah sekitarnya.

Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu beratap daun rumbia, berdinding kulit pohon, berlantai bilah bambu. Pemukiman mereka dipagari dengan kayu atau bambu, mereka namakan Talang. Talang-Talang itu bersatu menjadi satu kawasan negeri. Namun sayang belum ada nama negeri itu. Kalah itu, negeri tak bernama di pimpin oleh Puyang Datu Penguaso Bukit. Suatu hari dia berpikir tentang nama negerinya.

Lalu dia memanggil para tetua, hulubalang, laskar, dan datu-datu Talang. Bermusyawara tentang nama negeri. Berkatalah Puyang Paniti Bukit, dia seorang Hulubalang negeri itu.

“Kami menyerakan nama pedatuan sesuai yang Puyang ketahui. Sebab Puyang yang memimpin pedatuan. Semua pun sepakat, kalau nama negeri Puyang Datu Penguaso Bukit yang menamai.

Suatu sore yang cerah, pergilah Puyang Datu Penguaso Bukit berjalan-jalan di sekitar pedatuan. Mendatangi talang-talang rakyatnya, naik bukit turun bukit, kadang dia menyeberangi sungai. Dia mencari ilham nama pedatuan. Tibalah beliau di sekitar bekas ladang, yang mulai menjadi hutan belukar. Jalanan setapak mulai sepi, hanya beberapa penduduk berlalu.

“Datu, mau kemana kiranya, sampai jauh kesini.” Tanya seorang warga yang berlalu dia menggendong bunang padi besar. Istri dan tiga orang anaknya mengiring dari belakang.

“Tak ada, Dinda. Hanya berkeliling-keliling saja.” Jawab Puyang Datu. Warga itu berlalu dan tinggallah puyang sendiri.

Dikiri kanan jalan terdapat banyak rumput putri malu. Berbunga indah, yang didatangi banyak lebah madu, kupu-kupu dan kumbang. Tanpa sengaja Puyang terinjak daun-daun rumput Putri Malu, itu.

Saat beliau melihat daun rumput Putri Malu tampak mengkerut seperti menjadi layu. Berpikirlah dia akan perbedaan daun rumput putri malu, dengan daun tetumbuhan yang lainnya. Kalau daun lain tersentu hanya bergoyang. Tapi daun rumput putri malu malah mengkerut seperti layu. Terpikirlah terus menerus akan daun rumput tersebut.

“Daun yang malu seperti wanita yang pemalu. Hidup memang harus ada malu. Daun itu juga seperti melayu saat disentu. Aku juga sudah tidak sopan menginjak daun-daunnya. Kita harus menghormati semua mahluk hidup. Walaupun itu hanya rumput yang lemah berdahan rendah.” Pikir puyang.

“Kita sebagai manusia haruslah memiliki malu. Malu sudah tua berbuat tidak sesuai. Wanita juga perlu malu agar menjadi wanita terhormat. Jadi pemimpin yang tidak adil malu. Hidup memang perlu memiliki rasa malu.” Pikir puyang yang terus berjalan.

“Daun rumput itu me-layu, dahannya menjadi rendah. Manusia haruslah merendah, rendah hati. Tumbuh didekat tanah, haruslah manusia ingat asalnya dan kemana dia akan berakhir.” Kata hati puyang yang sudah berjalan pulang.

Itulah pikir Puyang Penguaso Bukit. Bagaimana kalau dia namakan negeri dengan Putri Malu. Tapi tidak sesuai sebab negeri bukan hanya untuk wanita. Daun rumput yang seperti layu terus berputar di benaknya. Maka dia namakan negerinya itu dengan nama Pedatuan Melayu. Lalu diumumkan pada semua rakyat nama pedatuan mereka. Dengan demikian, puyang Datu Penguaso Bukit juga dikenal dengan Datu Melayu.

*****

Puyang Datu Penguaso Bukit memiliki ilmu sakti yang bersifat turun temurun. Ilmu warisan keluarga ini hanya boleh diwariskan pada satu orang keturunan saja. Sehingga Puyang Penguaso Bukit memanggil dua anaknya, Pendape dan Marajo.

Puyang Datu berkata kalau dia ingin mewariskan ilmu Rajo Bumi. Ilmu menguasai kekuatan bumi. Pemiliknya tidak dapat dikalahkan. Sebab kalau dia terluka lalu dia tersentuh tanah, lukanya akan sembuh secara ajaib. Pemilik dapat menembus tanah dan berjalan di dalam tanah. Puyang Melayu sudah tua dan hendak mewariskan ilmunya.

Tapi ilmu Rajo Bumi hanya dapat diwariskan pada satu orang saja. Yang akan mewarisi adalah orang yang benar-benar berhati baik dan bersih. Untuk itu, Puyang Datu berkata agar kedua anaknya duduk mendekat. bersilah, dan pejamkan mata dan mengosongkan pikiran. Sebab ilmu sakti ini akan berpindah sendiri dan mencari tuannya yang cocok.

Kemudian Puyang Datu memejamkan matanya. Di dalam hatinya dia membaca mantra kesaktiannya. Sementara Pendape dan Marajo duduk bersilah dengan konsentrasi. Dalam waktu setengah jam kemudian. Tiba-tiba angin berhembus kencang. Awan hitam datang dan hujan turun lebat, petir menyambar dan kilat bersabung. Setelah keadaan cuaca tenang, muncul sebuah benda kecil terbang bercahaya dari mulut Puyang Datu.

Terbang mengitari Pendape dan Marajo. Lama benda kecil bercahaya seperti kunang-kunang itu terbang berputar-putar. Untuk memilih akan masuk kedalam tubuh siapa?. Tenyata ilmu Rajo Bumi memilih Pendape sebagai tuannya. Maka masuklah kedalam tubuh Pendape. Sehingga pendape-lah yang mewarisi ilmu sakti, Rajo Bumi, ilmu penguasa kekuatan bumi.

Marajo sangat tidak menyukai akan itu. Dia sebagai kakak merasa kalah dari adiknya. Memang Marajo orangnya keras dan ambisius. Marajo ternyata diam-diam menyimpan rasa kecewa pada Pendape. Teringat juga, lima tahun lalu dimana Pendape juga menikahi gadis yang dia sukai.

Seorang gadis cantik bernama, Putri Daun Pandan anak dari Puyang Lasemah. Putri Daun Pandan memang menjadi pujaan bujang-bujang pada masanya. Hati Marajo merasa kecewa dan iri pada Pendape. Walau Pendape adalah adik kandungnya sendiri. Suatu hari anak Pendape bertengkar dengan anak Marajo.

Marajo sangat marah sekali dan dia datang melampiaskan kekesalannya pada Pendape dengan alasan itu. Dua hari dua malam mereka berkelahi. Pendape hanya mengimbangi saja kakaknya. Dia tidak bermaksud berkelahi dengan kakaknya. Maka datanglah Puyang Datu melerai. Namun telah banyak batu hancur dan alam binasa.

Pendape menangkap isyarat lain. Kalau kakaknya membencinya dan tidak menyukainya. Namun dia mencoba bersabar dan mengalah. Puyang Datu akhirnya tutup usia. Jazadnya dimakamkan di dalam tempayan batu di sebuah bukit. Di dalam tempayang juga dimasukkan bekal kubur, seperti manik-manik, dan lainnya. Begitulah cara-cara orang Melayu zaman megalitikum menguburkan orang mati.

Persembahan juga diletakkan dibarisan menhir. Sebagai penghormatan pada arwah Puyang Datu. Pedatuan Melayu kehilangan pemimpin. Sehingga dilakukan pemilihan Datu untuk memimpin. Para tetua datang berkumpul dan menjelaskan kriteria pemimpin. Yang terkuat menjadi pemimpin dan yang dipilih oleh rakyat.

Pendape ingin ikut pemilihan menjadi Puyang Pedatuan Melayu. Tapi dia menolak karena kakaknya, Marojo berhak mewarisi kepemimpinan.

Sehingga rakyat dan tetua pedatuan mengangkat Marajo sebagai datu yang baru. Oleh rakayat, Marajo diberi gelar Puyang Rajo Batu. Sesuai keahliannya mengendalikan batu-batu. Tapi sayang sifat asli Marajo tidak berubah bahkan bertambah angkuh. Menjadi pemimpin membuat Marajo sombong dan semena-mena. Begitupun dengan perlakuannya dengan adiknya, Pendape.

Marajo selalu curiga pada Pendape, kalau-kalau dia akan mengambil alih kepemimpinan. Dia tahu kalau rakyat lebih mencintai Pendape dari pada dirinya. Marajo selalu mengawasi gerak gerik Pendape. Pendape tidak tenang, sehingga dirinya banyak melamun. Entah bagaimana dia meyakinkan kakaknya tentang kesetiaanya dan rasa sayangnya pada sang kakak. Datanglah dia pada mertuanya, Puyang Lasemah.

“Anakku, kalau demikian keputusanmu, laksanakanlah. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain keluarga kita.” Kata Puyang Lasema sedih. Ibu mertuanya meneteskan air mata. Besar akan kasihnya pada menantunya yang baik hati dan lembut jiwanya.

“Rahasiakan dahulu kepergianmu, agar tidak menjadi gaduh.” Kata ibu mertuanya, seorang adik ipar Pendape bernama Rawas mendengar semua percakapan dari dalam kamarnya. Sepulangnya Pendape, Rawas juga meminta izin untuk menemani kakaknya. Tentu ibu dan ayanya setuju agar anak perempuannya tidak terlalu sedih apabila ada adiknya yang menemani.

*****

Akhirnya, untuk menghindari pertarungan atau pertumpahan darah bersaudara. Pendape memutuskan pergi dari Pedatuan Melayu. Dia membawa anak istrinya. Seorang adik iparnya juga menyertai bersama keluarganya. Seorang kemenakannya yang sudah piatu bernama Serunting juga ikut. Ada juga sepuluh orang sahabat dan tetangganya yang ikut pindah untuk pergi membangun pedatuan baru.

Rombongan kecil terdiri dari tiga puluh keluarga itu pergi menembus hutan rimba saat pagi menjelang subuh. Tidak ada penduduk yang melihat kepergian rombongan mereka. Oleh pengikut Pendape dia diangkat menjadi pemimpin. Maka dia digelari Puyang Pendape Pancari Negeri. Bukan tampa alasan penduduk-penduduk yang ikut pergi.

Karena mereka merasa tidak suka dengan kepemimpinan Puyang Rajo Batu atau Marajo yang semena-mena. Mereka merasa tenang dan aman bersama Puyang Pendape yang berbudi luhur. Pada awalnya Puyang Pendape dan pengikutnya hidup berpindah-pindah. Banyak bertemu dengan kelompok-kelompok suku yang juga masih hidup nomaden kalah itu. Nomaden berarti hidup berpindah-pindah atau mengembara tidak menetap.

Ada yang berkelompok kecil dan cukup besar. Puyang Pendape mendekati mereka baik, lalu diajak bersama mereka. Sehingga menjadi banyak pengikut Puyang Pendape. Tidak berhenti disitu, penduduk Pedatuan Melayu yang telah kecewa dengan kepemimpinan Puyang Marajo juga banyak yang pergi diam-diam di malam hari menyusul Puyang Pendape.

*****

Puyang Pendape Pancari Negeri dengan pengikutnya membuka hutan belantara yang bertanah subur. Adik iparnya Rawas adalah adik juga teman setianya. Mereka akan memulai hidup baru. Bermacam jenis pohon besar-besar mereka tebang. Seperti pohon Ulin, pohon Meranti, pohon Merbau dan lainnya. Pohon paling banyak ditemukan pohon meranti, lalu talang mereka namakan Talang Meranti. Pohon juga dijadikan bahan membangun rumah.

Anak sulung Puyang Pendape juga giat membantu sang ayah dan warganya bekerja. Walau dia anak pemimpin tapi dia tidak sombong dan tidak berpangku tangan. Sehingga bertambah cintalah pengikut Puyang Pendape pada mereka.

Berbulan-bulan kemudian, rumah-rumah berdiri dan lahan pertanian terbuka. Beberapa talang telah didirikan untuk pendatang baru tiba. Baik yang dari Pedatuan Melayu atau dari orang suku pengembara. Mereka membangun balai pedatuan baru mereka, mengangkat prajurit, hulubalang, tetua dan datu-datu pemimpin talang. Terbentuklah sebuah pedatuan baru yang dinamakan, Pedatuan Pendape.

*****

Nun jauh di Pedatuan Melayu terkabar beritah maju pesatnya Pedatuan Pendape. Telah banyak penduduk Pedatuan Melayu yang pindah ke pedatuan baru itu. Penduduk sangat mencintai Puyang Pendape sebab dia pemimpin yang sangat bijaksana. Puyang Rajo Batu sangat khawatir akan wibawanya, dia iri dan gusar sekali. Dia takut semua penduduk di Pedatuan Malayu pindah ke Pedatuan Pendape. Maka malulah dirinya sebagai pemimpin. Sebelum semua itu terjadi, dia akan segerah bertindak pikirnya. Dia kemudian memanggil semua pembesar pedatuan.

“Aku mengumpulkan kalian semua untuk menyerang Pedatuan Pendape. Dia telah menantang perang dengan menghasut penduduk untuk pindah. Sehingga hampir setengah rakyat Pendape pindah ke pedatuan baru itu. Kalau kita tidak bertindak Pedatuan Melayu akan runtuh. Pedatuan Pendape adalah pemberontak, sedangkan orang pindah kesana adalah penghianat.Maka, jaga perbatasan tangkap yang akan pergi. Kalau melawan hukum mati.” Tegas Puyang Rajo Batu.

“Puyang, apakah tidak salah apa yang puyang katakan. Karena kita akan menyerang sanak saudara kita sendiri. Sedangkan Puyang Pendape adalah adik kandung Puyang. Sebaiknya dipikirkan ulang sebab kita satu asal, bersaudara, berkeluarga, kita juga semua sama-sama yaitu orang Malayu.” Kata Puyang Lahat Sakti. Dia seorang hulubalang dan seorang Datu Talang Enim. Enim berarti air yang tenang dan jernih.

“Wahai kemenakanku Puyang Rajo Batu, ada baiknya kita bermusyawara saja dengan Puyang Pendape. Seandainya ada rakyat kita yang pinda tanpa izin maka hendaklah dia mengembalikan.” Saran Puyang Lasema.

“Puyang Lasema. Apakah lantaran dia menantumu, sehingga engkau tidak mau menyerang pedatuan yang jelas-jelas hendak meruntuhkan pedatuankita. Kau ternyata bukanlah orang yang bijak, mencampur aduk urusan pemerintah dengan urusan pribadi. Lalu apa hakku sebagai pemimpin yang telah diangkat kalian. Apakah kalian hendak menjilat ludah, atau hendak menjadi pemberontak juga. Membangkang lalu menjadi penghianat pedatuan.” Puyang Marajo marah-marah, dia tersinggung karena terlalu banyak saran dan pertentangan.

Dia tidak suka dibantah dan dinasihati. Karena dia merasa dirinya sangat pintar dan benar. Maka semua hadirin diam, para hulubalang, tetua adat, para datu-datu, dan laskar akhirnya mematuhi perintah Puyang Rajo Batu.

Puyang Lasema dan Puyang Mahat tidak habis pikir mengapa Puyang Rajo Batu selalu membenci Puyang Pendape. Padahal saudara kandungnya sendiri. Puyang Lasema dan Puyang Mahat sudah tua dan mereka memiliki banyak pengalaman hidup dan wawasan memimpin. Tapi mereka tetap patu perintah pemimpinnya. Mereka bukan orang yang mementingkan urusan pribadi. Maka berangkatlah sepuluh ribu laskar Pedatuan Melayu menyerang Pedatuan Pendape.

Kabar akan adanya serangan sampai ke telinga Puyang Pendape. Dia juga tidak habis pikir mengapa kakaknya tega menyerang pedatuannya. Padahal dia adalah adiknya sendiri, sedangkan rakyatnya juga rakyat Pedatuan Melayu. Pergilah Puyang Pendape bertapa dimalam harinya di sebuah bukit kecil di sisi Talang Meranti. Di atas bukit kecil itu ada sebuahgoa kecil.

Entah apa yang dia dapatkan dalam pertapaannya itu. Namun semua rakyatnya tidak mengerti mengapa tidak ada persiapan perang. Semua sudah berkumpul di balai pedatuan dengan senjata di tangan. Puyang Pendape tampak tidak bersemangat, dia menyayangi semua rakyatnya dan rakyat saudaranya. Terpikirkan akan banyak janda dan anak-anak yang terlantar.

“Rakyatku semuanya, aku mencintai kalian semuanya dan aku tidak ingin kita berperang dengan saudara kita sendiri. Aku tidak meragukan kesetiaan kalian. Tapi yang kita dapat dari perang saudara ini, selain kesedihan. Kita akan mendengar jeritan saudara kita, atau tangisan anak istri kita. Hanya itu yang kita dapatkan.” Kata Puyang Pendape di hadapan semuanya. Semuanya terdia dan membenarkan kata-kata Puyang Pendape.

“Aku memerintahkan kalaian semua, termasuk istri dan anakku untuk mempersiapkan perbekalan untuk pergi lebih jauh lagi. Buatlah kelompok-kelompok kalian, lalu bangunlah talang-talang yang baru dimana saja dibumi ini. Bawalah bibit-bibit tanaman, ternak dan perabotan rumah tangga kalian. Gunakan senjata untuk berburu atau melindungi diri dari bahaya. Hanya itu perintahku, yang harus kalian taati semuanya. Pergilah.” Kata Puyang Pendape.

“Puyang, Puyang.” Beberapa orang Datu seperti ingin menentang keputusan itu.

“Cepat kemas barang-barang keluargamu, Mengertiiiiii.” Puyang Pendape marah, semua tidak dapat berbicara lagi. Puyang Pendape meminta Rawas pergi membawa anak dan istrinyapergi secepatnya.

“Rawas jagalah kakakmu, dan kemenakanmu pergilah secepatnya.” Pesan Puyang Pendape. Betapa sedih istri dan anak-anak puyang, tapi mereka harus segerah pergi dengan cepat meninggalkan pedatuan yang baru mereka bangun.

*****

Laskar Pedatuan Melayu sudah memasuki perbatasan Pedatuan Pendape. Gapura yang terbuat dari kayu beratap daun rumbiah kosong. Tidak satupun penjaga disana. Pasukan pertama Pedatuan Melayu membakar gapura. Meraka terus masuk untuk mengintai, bersikap waspada kalau-kalau ada jebakan atau mush bersembunyi.

Seorang prajurit di utus menemui Puyang Marajo di tendanya, melaporkan situasi. Tampak para hulubalang dan para datu mendampingi sambil mempelajari situasi. Puyang Marajo memerintahkan agar tetap berhati-hati. Sebab dalam perang, yang berperan adalah setrategi bukan jumlah. Perang adalah tipuan, bukan yang tampak. Perintah mengepung Pedatuan Pendape di jalankan.

“Hulubalang Pibang, lakukan ronda dan periksa bukit disisi pemukiman sesuai laporan pasukan pengintai.” Perintah Puyang Marajo pada seorang hulubalangnya.

Pasukan Puyang Marajo terus masuk tanpa halangan, mulai ada kelompok menemukan talang. Saat mereka masuk, talang telah kosong. Rumah terbuka dan kosong tidak ada perabotan. Mereka kemudian menyadari kalau talang telah ditinggalkan penduduknya. Begitulah semua talang-talang telah kosong, begitu juga balai pedatuan juga kosong.

*****

Pasukan sekarang mengepung Talang Meranti. Pasukan lebih banyak sebab diketahui Talang Meranti tempat kediaman Puyang Pendape. Namun mereka hanya menemukan dua orang nenek-nenek menumbuk padi. Sebuah keluarga dimana terdapat ibunya sakit para. Satu keluarga ayahnya sakit parah juga. Dua keluarga istrinya hamil besar, dan ada dua keluarga istrinya baru saja melahirkan. Sekitar sepuluh keluarga yang masih tinggal. Pasukan Pedatuan Melayu mengajak mereka perang dan mengadu keahlian silat.

“Kau hendak berperang dengan kami. Apa kau tidak melihat kalau kami orang biasa, bukan laskar. Selain itu, aku kenal dengan bapak kalian adalah saudaraku sepupuku. Apa kau begitu kurang ajar menodongkan senjata padaku. Aku ini masih uwa kau, mengerti.” Kata lelaki tua berumur lima puluhan tahun. Semua prajurit terkejut dan terdiam dan sadar kalau mereka memerangi keluarga sendiri.

“Pantaslah semuanya pergi, bukan sebab mereka takut, tapi menyadari kalau kita adalah saudara mereka.” Setelah itu, semua prajurit pergi dan meminta maaf. Ada juga dua orang prajurit tertarik pada anak gadis mereka, lalu diam-diam menikah dan menetap di Talang Meranti.

*****

Sementara itu, Hulubalang Pibang melakukan pengintaian di bukit, diikuti dua puluh pasukan terlatih. Tiba di atas bukit, mereka menemukan seorang laki-laki sedang duduk tenang dengan mata terpejam. Mereka mengepung lelaki itu, yang tampak tenang-tenang saja. Saat mereka mengenali, bersiap untuk menyerang.

“Dinda Hulubalang Pibang, benarkah kau akan menyerang dan membunuhku.” Kata Puyang Pendape.

“Tentu tidak, kanda. Hanya menuruti perintah Puyang Datu Pedatuan Melayu.” Katanya.

“Kau prajurit yang baik dan bertanggung jawab. Aku mengerti, biarlah urusan ini aku selesaikan dengan Kanda Marajo, katakan padanya temui aku disini.” Ujar Puyang Pendape.

*****

Puyang Rajo Batu diiringi beberapa pengikutnya mendatangi bukit dimana Puyang Pendape menunggu. Dengan amarah meluap dan kemaran dimana semua penduduk dan pasukan telah pergi entah kemana ditelan hutan rimba.

“Kau ingin menantang Aku. Sungguh kurang ajar dirimu. Kemana laskar dan rakyatmu. Mereka melarikan diri karena takut. Memaluhkan sekali, menyesal aku datang kemari ternyata pedatuanmu hanyalah kumpulan pengecut.” Kata Puyang Rajo Batu merendahkan.

“Mengapa kakanda selalu membenci aku. Aku sudah pergi jauh dan tidak mengusik kehidupanmu. Mengapa pula kakanda memelihara kedengkian dan kesombongan.” Jawab Puyang Pendape.

“Karena kau menghasut rakyat Pedatuan Melayu pindah ke pedatuan pengecutmu. Kau bermaksud melawan aku dengan diam-diam. Kau ingin menjatuhkan Aku. Kau pemberontak pedatuan sendiri. Oleh sebab itu, pemberontak harus dimusnahkan. Sebagai seorang pemimpin yang paling berkuasa. Pantang ada orang yang berani menginjak-injak martabat pemimpin, kau mengerti.” Setelah itu Puyang Rajo Batu bersiap menyerang dengan semua kesaktiannya.

*****

Terjadilah pertarungan hebat antara Puyang Rajo Batu dan Puyang Pendape.Pertarungan sudah berlalu selama tiga hari tiga malam. Sampai akhirnya Puyang Lasema dan Puyang Mahat datang menghentikan. Kemudian muncul juga Rawas untuk menjemput Puyang Pendape atas permintaan Istinya. Dia meminta agar Puyang Pendape dan Puyang Rajo Batu berhenti bertarung.

Namun Puyang Rajo Batu tidak mau berhenti. Dia benar-benar egois dan keras kepala. Sudah berkali-kali terjatuh dan muntah darah. Puyang Pendape juga sering terluka, namun saat tubuhnya tersentuh tanah kembali sembuh seperti semulah. Puyang Rajo Batu mengendalikan batu-batu besar dengan kekuatannya. Maka dalam pertarungan itu. Banyak batu-batu berterbangan di atas bukit kecil dan disekitar gua tempat Puyang Pendape bersemedi sebelumnya. Batu-batu yang berserakan itu masih dapat dilihat sampai sekarang di atas Bukit Pendape.

“Kanda apabilah engaku hendak mengalahkan Aku. Hanya dengan ditusuk dengan buluh perindu. Di sisi bukit ada buluh perindu, ambillah.” Kata Puyang Pendape seraya mengelak serangan-serangan berupa batu-batu besar yang dilemparkan Marajo. Marajo kemudian dengan cepat memotong runcing bambu dengan sekali pancung. Kemudian dia potong seukuran tombak. Lalu melompat dan melemparkan ke tubuh Puyang Pendape. Tanpa ampun buluh perindu itu menancap menembus dada Puyang Pendape.

“Wussss. Aaaahhhh.” Jerit Puyang Pendape. Semau yang menyaksikan terkejut dan bersedih sekali. Puyang Marajo merasa puas dan tertawa keras melihat bambu menancap di tubuh Puyang Pendape. Rawas melompat memangku tubuh yang roboh berlumuran darah. Terdengar pekik tangisnya, saat melihat kakak iparnya terluka parah.

“Kakkkkkk.” Jeritannya membahana. Puyang Lasemah dan Puyang Mahat menghampiri dan berlutut disisi mereka. Dari wajah mereka sangat terlihat duka mendalam dan kesedihan.

Rawas ingin mencabut potongan bambu menancap di dada Puyang Pendape. Tapi Puyang Pendape tidak mengizinkan, sebab dia akan sembuh dan hidup lagi karena kesaktian ilmu Rajo Bumi.  Dia tidak ingin berseteru lagi dengan sang kakak. Dia ingin menjadi peringatan untuk orang-orang Melayu agar jangan berseteru dalam keluarga dan perang saudara, orang Melayu haruslah bersatu katanya.

“Bak, aku kembalikan Nurna pada, Bak. Rawas, tolong jaga kemenakan kau dan kakakmu. Berikan pibang sakti ini pada Padukara." Seraya tangan memegang sarung pibang terselip di panggangnya. "Bilang, jadilah orang baik.” Kata Puyang Pendape dengan terbata-bata dan mulutnya mengeluarkan darah segar. Puyang Mahat tampak bersedih sekali. Sebab dulu Puyang Pendape muridnya dalam belajar silat. Puyang Pendape kembali berkata.

“Kebumikan jasadku di atas bukit ini. Tepat diatas bukit kecil dibawah rumpun bambu yang sering dibuat anyaman bubu.” Rawas tidak menanggapi. Dia sudah dikendalikan perasaannya, air matanya tidak tebendung lagi. Puyang Pendape berkata agar dia jangan bersedih. Sebab jalan hidup ditakdirkan oleh sang pencipta. Tugas manusia adalah berbuat baik. Karena sang pencipta ingin mengetahui hamba-hambanya yang baik dan buruk. Matanya mulai kabur, tangan Puyang Pendape terasa dingin dan memegang tangan Puyang Lasemah dan Puyang Mahat. Kembali dia berkata untuk terakhir kalinya.

“Kelak suatu masa di Pedatuan Pendape akan berdiri sebuah kota yang besar dan sejahterah, terkenal di seluruh dunia. Saat itu, penduduknya telah mendapat cahaya. Cahaya itu dibawak oleh seorang anak yatim piatu yang jujur. Nanti, anak keturunan rakyatku yang pergi akan kembali kesini membangun kota itu. Banyak juga orang asing yang akan datang. Pada saatu saat nanti, akan lahir seorang pemimpin yang akan memulai peradaban baru. Dia suka membaca, suka belajar dan menulis. Sebab, dunia akan terang oleh pengetahuan.” Kata Puyang Pendape, dan kemudian tubuhnya lunglai pertanda dia pergi untuk selamanya. Sesuai wasiatnya jenazah dikubur diatas bukit itu.

*****

“Bak, aku akan membangun Talang baru. Untuk mewujudkan cita-cita Kakanda Pendape. Untuk meluaskan Pedatuan Melayu. Sehingga Negeri Melayu bukan hanya di bukit-bukit dan kaki gunung saja. Tapi juga disemua dataran dan lautan.” Ujar Rawas. Rawas pergi membawa pibang sakti milik Pendape. Dia kemudian membangun Talang di sisi sungai besar, kelak dikemudian hari sungai itu bernama Sungai Rawas.

Puyang Lasemah dan Puyang Mahat kembali pulang ke Pedatuan Melayu. Kemudian meminta anak-anak atau siapa saja untuk turun pindah ke dataran rendah. Lalu membangun talang-talang baru. Banyak penduduk yang mengikuti saran itu. Sehingga tersebarlah penduduk Pedatuan Melayu. Mereka bermukim di pinggiran sungai-sungai dan menamakan sungai sesuai nama hal yang mereka temui atau nama pemimpin mereka. Akhirnya mereka lebih suka tinggal di dataran rendah, membuat Pedatuan Melayu ditinggalkan yang hanya menyisakan batu-batu megalitikum.

******

Tiga bulan kemudian setelah peristiwa itu, Serunting pulang ke Pedatuan Pendape. Dia yang suka berkelana kemana-mana untuk mencari ilmu kesaktian. Sekarang dia sudah menjadi orang sakti dengan julukan Si Pahit Lidah. Dia rindu dengan keluarga sang paman, Puyang Pendape. Serunting sekarang sudah berumur 27-an tahun. Betapa bahagia dia saat mendekati Pedatuan, dia rindu paman-bibinya yang dia anggap seperti orang tuanya. Saudara sepupunya pun pasti sudah besar pikirnya.

Saat dia sampai di Pedatuan Pendape merasa sangat heran sekali. Talang-talang yang dia lalui sepi dan bangunan rumah sudah rusak karena tidak teurus. Bahkan sudah ada yang roboh dan dimakan rayap. Halaman-halaman rumah juga tidak terawat, rumput telah tumbuh menjalar tinggi. Dia datangi setiap talang di pedatuan.

Sampailah dia di Talang Meranti yang masih ada beberapa rumah yang di huni. Dengan demikian dia dapat mencari informasi apa yang sudah terjadi. Dia bertamu kerumah seorang warga. Mereka menceritakan kalau pedatuan diserang Puyang Marajo dari Pedatuan Melayu. Keputusan Puyang Pendape adalah semua rakyat harus pergi dan menghindari perang.

“Begitulah ceritanya, Serunting.” Kata kakek itu, dialah kakek berani yang berbicara dengan prajurit muda tiga bulan lalu. Serunting sedih, dan dia merasa sangat menyesal pergi merantau terlalu lama.

“Bagaimana paman Pendape.” Tanya Serunting.

“Puyang telah pergi untuk selamanya, dia mengorbankan dirinya agar kita tidak perang saudara.” Jelas kakek itu. Serunting mengis sedih mengenang pamannya.

“Aiii nasippp. Bak dan Umak telah pergi, sekarang paman juga telah pergi.” Kata serunting sambil menangis. Semua menjadi haru, menasihati Serunting untuk sabar. Setelah itu, dia pergi ke bukit di sisi Talang Meranti dimana terdapat kuburan Puyang Pendape.

Di jalan mendaki bukit kecil itu, dia tidak sabar ingin cepat sampai di kuburan sang paman. Karena itu, dia merasa kalau bukit itu tinggi.

“Baru sepuluh tahun Aku merantau mencari ilmu bukit ini sudah tinggi sekali. Bagaimana kalau dua puluh tahun lagi, tiga puluh tahun lagi, seratus tahun lagi. Pasti bukit ini semakin tinggi dan tinggi.” Kata Serunting.

Serunting adalah Si Pahit Lidah, sehingga kata-kata yang dia keluarkan dengan hati dan emosi akan menjadi kenyataan. Dia mampu menyumpahi orang menjadi batu. Begitu juga bukit itu, dia kesal karena merasa telah meninggi, padahal dia yang tidak sabar. Di sana dia meratapi kuburan paman yang dia sayangi seperti ayahnya.

“Aku akan menghukum Puyang Marajo, yang telah berbuat jahat selama ini. Jahat pada rakyat dan jahat pada saudara sendiri.” Kata Seruntig atau Si Pahit Lidah. Pergilah dia menuju Pedatuan Melayu, dan menemui Puyang Rajo Batu di balai pedatuan.

“Hai Datu jahat, keluarlah temui Aku. Aku akan memberi hukuman padamu yang sudah tidak punya hati.” Teriak Serunting. Puyang Rajo Batu marah mendengar ada yang berani menantangnya. Dai menemui Serunting dan meminta kemenakannya untuk pergi dan jangan berani padanya. Namun Serunting menolak, lalu dia mulai menyerang. Hulubalang dan prajurit mencoba menghalangi namun sia-sia.

“Heaaaa.Heeaaa.” Begitulah teriakan pertarungan mereka. Berhari-hari mengadu kesaktian dan diakhir pertarungan mereka mulai melepas ilmu andalan. Batu-batu sebesar gajah beterbangan menghantam Serunting. Membuat Serunting kewalahan tapi dapat mengimbangi serangan itu.

“Heaaa. Sebatan bambu runcing dilempar serunting dan mengenai dada Puyang Rajo Batu. Tanpa ampun dia jatuh tersungkur dan tewas seketika. Selesai sudah tugas Serunting memberi hukuman pada Puyang Marajo Atau Puyang Rajo Batu.

Sementara itu, bukit dimana dikubur Puyang Pendape yang disebut Serunting selalu meninggi dan meninggi. Terjadi hal aneh, bukit benar-benar meninggi dan meninggi. Sehingga menjadi bukit yang tinggi sebagaimana sekarang ini. Orang bilang bukit itu meninggi sebab kata serunting yang tidak sabar ingin cepat sampai. Ada juga yang bilang meninggi karena kesaktian Puyang Pendape. Penduduk pun menamakan bukit itu dengan, Bukit Pendape.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 15 Oktober 2019.

Daftar Kata:
Puyang: yang berarti pemimpin. Bak: Ayah. Buluh: Bambu. Datu: Pimpinan Kampung. Pibang: Senjata tradisional Negeri Dataran Bukit Pendape atau Masyarakat Sungai Keruh. Nomaden: Kehidupan yang berpindah-pindah tidak menetap di suatu tempat. Memang zaman dahulu orang Melayu hidup nomaden baru kemudian berangsur-ansur menetap.

Sy. Apero Fublic

5 comments:

  1. Sumber dari mane, terkesan gunahan dari beberapr cerito... Dan bertentangan dengan yang beredar di masyarakat....

    ReplyDelete
  2. Name bukit itu Banape bukan pendape, itu yang diyakini masyarakat, ingat penggalian dan penulisan cerita ralyat harus ade etika penggalian minimalemperhatike yang beredar di masyarakat... Bukan asal bagus dan jadi

    ReplyDelete
  3. Cerita rakyat. Sama seperti yg diceritakan oleh kakek Ku.. Izin share Ya..

    ReplyDelete