10/14/2019

Lima Bentuk Sistem Pemerintahan di Dunia

Apero Fublic.- Beberapa jenis sistem pemerintahan pada masa moderen, muncul. Hancurnya paham feodalisme telah membuka pintu bagi aliran-aliran pemikiran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di dunia. Selama ribuan tahun sistem monarki absolut menjadi sistem pemerintahan. Dari sistem ini muncul paham feodalisme dan pengkelasan masyarakat.

Ada tiga kelas masyarakat, pertama kelas bangsawan, kelas orang kaya atau tuan tanah, dan kelas rakyat biasa. Di dunia barat ada kelas rohaniawan (pastur dan paus). Memasuki abad ke-19 sistem monarki dan feodalisme memasuki keruntuhan. Sehingga muncul sistem-sistem pemerintahan baru yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Berikut ini bentuk-bentuk pemerintahan di muka bumi saat ini.  

1. Pemerintahan Monarki
Monarki adalah suatu sistem pemerintahan yang berpusat pada satu kekuasaan, yaitu raja. Istrilah monarki diambil dari bahasa latin monos dan archein.  Monos berarti satu dan arcein bermakna pemerintah. Orang-orang monarki bersifat feodalisme. Mereka melegetimasi keberhasil dan keagungan mereka dengan simbol-simbol, bukan dengan prestasi.

Simbol seperti menang perang, mahkota, banyaknya budak, banyaknya prajurit dan banyaknya harta. Munculnya ide parlemter telah memecahkan sistem monarki dua kelompok. Yaitu, bentuk monarki absolut dan monarki parlementer. Monarki absolut adalah monarki yang sistem pemerintahan berpusat pada satu orang pemimpin, seperti raja, sultan, kaisar, tsar, firaun. Dalam pergantian kepemimpinan menganut sistem dinasti, turun-temurun dalam satu keluarga.

Sedangkan monarki parlementer adalah monarki yang bergabung dengan demokrasi. Dimana raja atau sultan hanya sebagai simbol pemerintahan. Sedangkan kepemimpinan pemerintahan di pilih oleh dewan atau rakyat, yaitu perdana mentri. Sistem pemerintahan monarki adalah sistem pemerintahan tertua di dunia.


2. Pemerintahan Sosialisme.
Sosialisme buah pikir dari Klarmax dan Friedrich Engels. Mereka memunculkan sistem kesamaan manusia. Membentuk masyarakat tanpa kelas dan kasta-kasta. Munculnya sosialisme bentuk penentangan terhadap feodalisme dan kafitalisme. Dalam perkembangan ada dua kelompok sosialisme, yaitu sosialisme kiri dan sosialisme kanan.

Puncak dari sosialisme kiri adalah kebangkitan komunisme di seluruh dunia. Berdirinya Uni Soviet, Republik Rakyat Tiongkok, Korea Utara dan lainnya. Sosialisme kiri menyebar keseluruh dunia, seperti ke Indonesia, Korea Selatan, Kamboja, Timor Leste, Kuba dan lainnya. Indonesia menginvasi Timor Leste karena dorongan Amerika Serikat dan Sekutu.

Mereka tidak menyukai ada negara komunis di Asia Fasifik. Peran Amerika Serikat sangat nyata saat ikut membantu kekuatan militer suatu negara menghabisi kelompok komunis. Kekuatan militer mendahului pihak komunis yang ingin merampas kekuasaan. Karena komunis apabila sudah kuat pasti merampas kekuasaan dan memberlakukan partai tunggal.


Memang, kelompok sosialisme kiri ini selalu merampas pemerintahan dan berbuat sekulerisme total terhadap negara dan rakyatnya. Sosialisme juga berperan dalam menumbangkan dominasi feodalisme. Meruntuhkan paham yang mana kaum bangsawan merasa lebih berhak memimpin dengan alasan darah biru atau manusia pilihan. Sosialisme pada awalnya adalah pemikiran yang baik untuk sebuah pemerintahan.

Namun ketika sistem sosialisme menganut Leninisme dan komunisme menjadi sangat buruk. Sehingga menjadi bentuk feodalisme baru, yaitu feodalisme negara. Untuk sosialisme kanan tetap menjadi sosialisme yang mengedepankan kemanusiaan. Paham sosialisme kanan ini berpadu dengan demokrasi. Sehingga tidak lagi memerintah dengan tangan besi, dapat kita lihat sekarang seperti Rusia. Dapat kita saksikan kebebasan beragama telah kembali. Masyarakat telah hidup sesuai dengan kaidah yang berlaku di Rusia (2019).


3. Pemerintahan Demokratisme.
Demokratisme berkembang memasuki abad ke dua pulu. Paham diambil dari kebudayaan latin. Di motori oleh Amerika Serikat sebagai negara demokrasi pertama di abad moderen. Amerika serikat yang merdeka dari Inggris pada 4 Juli 1776, mendirikan negara demokrasi pertama. Sebab pendirian negara demokrasi karena negara ini berdiri bukan karena kebangkitan suatu dinasti kerajaan.

Tapi dibangun oleh berbagai suku bangsa pendatang di dataran benua Amerika (koloni Inggris). Karena tidak mengakui seorangpun sebagai raja. Maka muncul ide mencari kepemimpinan dan sistem negara secara bersama-sama. Pengaruh budaya latin (Yunani), serta trauma dengan kekejaman gereja pada abad pertengahan.

Maka mereka mendirikan negara secara bersama-sama, yaitu negara demokrasi. Demokratisme hampir sama dengan sosialisme. Anti feodalisme dan anti monarki. Dalam perkembangan ke seluruh dunia. Paham demokrasi ternyata tidak dapat melebur secara menyeluruh di dunia Timur. Maka muncul dua sifat demokrasi, yaitu Demokrasi Barat dan Demokrasi Timur.


Demokrasi Barat dan Demokrasi Timur jauh berbeda. Demokrasi barat bersifat bebas dan demokrsi Timur bersifat musyawara atau Demokrasi Kebersamaan. Demokrasi Barat sangat liar dimana demokrasi bertumpu pada individu. Sehingga mereka memperbolehkan warga negaranya berbuat melampaui batas, seperti menjadi pelacur atau menikah sesama jenis.

Karena sesuai dengan kebudayaan mereka yang tidak menegenal norma-norma adat, hukum agama yang haq, dan polah budaya kebiasaan dalam menilai kebebasan. Demokrasi Timur atau demokrasi di Indonesia yang bersifat kebersamaan dimana kebebasan individu tidak boleh bersinggungan dengan kebaikan secara umum.

Misalnya orang Indonesia boleh berkarya, boleh berbuat sesuatu asal tidak melanggar norma-norma yang berlaku di tengah masyarakat.  Seumpama membuat film tapi dia tidak boleh membuat film forno karena bersinggungan dengan kebaikan umum dan hak-hak umum. Hak-hak umum misalnya keagamaan, adat-istiadat, penjagaan moral bangsa, perlindungan anak dan sebagainya.


4. Pemerintahan Religiusme
Paham negara religiusme adalah negara yang menggabungkan konsep agama dan negara. Istilah religius diserap dari bahasa Inggris religious yang bermakna keagamaan. Paham negara agama ini baru muncul abad moderen. Negara agama hanya bisa dilakukan oleh negara yang mayoritas beragama Islam. Karena Islam memiliki tata hukum kehidupan yang dapat diikuti dan dikembangkan oleh pemeluknya.

Zaman moderen ini kita dapat melihat seperti Republik Islam Iran. Selebihnya belum ada negara agama yang berdiri. Pada zaman permulaan Islam, dihitung dari masa Rasulullah SAW, dan empat sahabat (Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali), negara dan agama bersatu. Selanjutnya pemerintahan Islam diteruskan monarki keislaman (kekhalifaan yang bersifat turun temurun), Kekhalifaan Umayyah, Abbasiyah, dan Turki Utsmani.


Agama Non Islam tidak dapat membangun negara agama. Sebab kitab suci dan ajaran tidak ada pengaturan kehidupan sosial dan hukum kenegaraan. Pernah di Eropa semasa abad pertengahan. Tapi itu sebatas pemberi restu atau rohaniawan walau memiliki pengaruh kuat. Sedangkan di dalam agama Islam memiliki semua hukum atau sumber hukum.

Sumber hukum Al-Quran, Hadis, dan ijmak ulama. Kalau kita lihat seperti Arab Saudi sesungguhnya bukan negara agama, tapi monarki. Namun ada banyak hukum Islam yang diterapkan secara kaffah. Dia Asia Tenggara ada Brunai Darussalam yang menerapkan hukum Islam. Tapi tidak dapat dikatakan negara agama, sebab dia masih bersistem monarki.


Untuk kasus Negara Israel bukan negara agama Yahudi. Tapi Negara Israel adalah negara yang mengatas namakan keagamaan Yahudi. Negara ini adalah kelompok orang-orang zionisme. Hukum negara mereka dibuat dengan hukum sekuler dan bukan hukum agama. Agama Yahudi hanya sebagai motor penggerak saja. Selain Yahudi kesamaan keturunan juga menjadi ukuran mereka. Kalau kita cermati negara-negara Eropa yang rakyatnya Kristen tapi negara mereka adalah negara sekuler, bukan negara agama Kristen.


5. Pemerintahan Otoritarianisme.
Pemerintahan otoritarianisme muncul ditahun-tahun setelah perang dunia kedua. Pemerintahan otoriter ini bentuk perlawanan Amerika Serikat terhadap komunis. Perang Dingin Amerika dan Rusia yang menyebabkan munculnya negara otoriter tersebut. Pemerintahan otoriter dipegang dan dikuasai oleh militer atau satu kelompok politik. Kemudian kekuasaan berpusat pada satu orang. Pemerintahan ini bersipat tangan besi dan kejam.

Hampir sama dengan metode monarki absolut. Membungkam suara rakyat dengan senjata. Pembodohan dan memiskinkan masyarakat yang dianggap membahayakan pemerintahannya. Di antara negara yang pernah menjadi negara otoriter seperti Indonesia pada masa Orde Baru, Korea Selatan, beberapa negara Amerika Latin dan sebagainya. Di Mianmar pembantaian Pemerintahan Militer terhadap Muslim Rohingya.


Amerika membantu militer mengambil alih pemerintahan. Kemudian militer membantai orang-orang komunis. Sampai sekarang korban kekejaman militer tidak diungkap. Sebab mereka ditutupi dan dimandulkan oleh Amerika Serikat. Namun apabila komunis menang mereka juga akan berlaku sama pada kelompok-kelompok yang berpotensi menghalangi mereka. Seperti rezim polpot di Kamboja yang membantai jutaan rakyatnya.

Kalau Jepang yang pernah ikut perang dunia kedua adalah negara monarki absolut. Italia dibawah Musolini, dan Jerman pada masa Partai Nazi bukan negara otoriter tetapi negara monarki parlementer. Walaupun ada parlemen tapi parlemen mereka itu mandul. Sehingga pemimpin pemerintahan dapat berbuat sesuka hatinya. Tiga negara bersekutu ini, Jepang, Jerman dan Italia pada masa itu disebut, negara fasis.


Oleh: Joni Apero

Editor. Selita. S.Pd
Palembang, 13 Oktober 2019.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment