7/01/2019

Syair Cerita. Tanya Jiwaku

Apero Fublic.- Syarce. Waktu itu malam yang sepi sekali. Semua orang telah pulang ke kampung yang jauh. Sedangkan aku sendirian pulang ke sebuah gubuk ditempat yang terpencil. Aku jauh dari keluarga, ibu dan ayah, dan semua saudara-saudaraku. Hari-hari aku lalui dengan kesepian dan kesendirian.

Hanya buku-buku yang menjadi temanku sehari-hari. Sedih hati begitu merasakan kesepian hidup ku. Tiada pernah aku tau bagaimana indahnya dicintai dan disayangi oleh seseorang. Cinta selama ini hanyalah membuat sakit di relung hatiku. Belum aku temukan, ada seseorang yang ingin bersamaku.

Ada cita-cita yang aku perjuangkan di sini, ada banyak mimpi yang ingin aku jadikan kenyataan. Aku berjuang berusaha untuk merubah sejarah hidup ku. Aku berusaha kuat dan sabar. Aku berusaha tegar dalam kesendirian ini. Sering aku memberi perhatian dan kepedulian pada orang-orang. Namun semua itu tidak pernah aku dapatkan dari siapa pun. Aku mengeluh, ya Allah, ya Tuhan ku, aku manusia biasa, keluhku.

Aku membutuhkan seseorang di sampingku. Jiwaku bertanya, dalam kerasnya cita-cita ku, apakah benar yang aku lakukan ini tuhan. Aku takut cita-cita ku akan berakhir seperti sebuah mimpi di pagi hari. Aku benar-benar membutuhkan seseorang. Aku membutuhkan sesuatu yang dapat menguatkan tekadku. Aku butuh orang yang dapat menguatkan hati ku. Tiada henti jiwa aku bertanya? Benarkah jalan yang aku pilih ini.

TANYA JIWA KU

Tanya jiwa ku pada semesta.
Pada waktu di mana, tak ku kenal.
Wahai malam yang berintik.
Hitam awan yang menggantung.
Seisi gelap dalam waktu, malam.
Secerca kelip bintang.
Kunanti dan kutunggu.
Dalam rintik dan gelap.

Menyapa sendu seluru nasib.
Wahai malam kapan aku tertawa.
Wahai gelap di mana jalan ku.
Buta dalam sengsara, terpejam dalam nestapa.
Aku tak tau hidup ini.
Kusam dalam seribu duka.
Sedihlah bilaka hidup ini, sepanjang zaman.

Bila hanya mengeruk duka.
Untuk menghapus air mata.
Ke mana jua aku mengadu.
Mampukah malam hitam menjawab.
Bisikan jiwa yang merana.
Aku, aku ke mana.

Kadang tangis, kadang jeritan.
Sesering mungkin serintih-rintihnya.
Ya Allah, jawablah tanya jiwaku.
Hanya padamu aku mengharap.

Lelah aku mencari.
Aku.

Malam itu gerimis dan gelap, tiada bintang-bintang, apalagi sang rembulan. Aku terbaring ditikar pandan yang lapuk. Dibawa atap-atap daun ilalang gubuk reot milikku. Di bukit sepi itu, aku menimba ilmu, dengan belajar dan belajar. Dibalik itu aku memendam harapan-harapan. Kisah ini telah kutulis di dalam hatiku. Hati yang penuh luka-luka.

Dara yang menetes itu aku jadikan tintanya dalam menulis. Penderitaan ini bagai tidak berujung, dan kesepian jiwa bagai tiada akhirnya. Laluku pejamkan mata, kemudian beberapa butir air mataku mengalir, di cela-cela lekuk pipiku. Hanya tuhan yang tahu, di balik gelap malam-malam  sepi, terbaring jiwa yang kalah dan lemah. Itulah aku, sang penderita dalam sejuta kemalangan hidup.

Oleh: Joni Apero.
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra
Palembang, 15 Juni 2016.
Kategori. Syarce Fiksi.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment