7/14/2019

Perjuangan Yang Terlupakan

Apero Fublic.- Dunia aku ingin mengadu tentang suatu rasa. Rasa yang tak biasa, tetapi begitu luar biasa. Seperti langit yang menghampar biru, atau seperti ombak yang selalu bergoyang. Kalian tahu, kalau saat kita bersama, banyak hal yang terjadi diantara kita. Mulai dari bertengkar, kita kesal dan saling memarahi, saling menasihati, saling mengajak kebaikan, dan sebagainya.

Ketahuilah saat itu, tali kasih sedang mengikat kita satu sama lain. Selain itu, kita memiliki watak yang berbeda-beda, dan watak itu saling beradu. Sehingga menimbulkan perbedaan yang sangat terbuka dan keras. Saat itulah, kita sedang saling mengenal sesungguhnya. Kemudian kita beradu yang memercikkan api dan membakar hangus. Lama kita tidak saling menyukai, lama kita tidak saling peduli.

Saat itu, sesunggunya tali persaudaraan kita sedang merapat. Bersamaan angin yang berhembus, bekas bara mulai padam, lalu menjadi abu, yang berterbangan jauh. Perlahan bekas-bekas api itu ditumbuhi rerumputan hijau, pohon berbunga, lalu berdatanganlah kupu-kupu, kumbang, serangga, burung-burung pun menghampiri.

Tapi sayang kita tidak lagi di sana, untuk menyaksikan semua keindahan itu. Perlahan-lahan kita sadar, bahwa kita sedang ditipu oleh tali cinta kasih di antara kita. Dimana hati kita selalu diundang hadir kembali di mana waktu-waktu itu. Oleh karena itulah, satu rasa yang muncul di hati kita, yaitu rindu.
Perjuangan Yang Terlupakan
Di sebuah kampung tarbiyah, di bumi dua kebaikan yang banyak aturan. Kau dan aku pernah disini, menuai hari-hari yang beragam cerita. Aku tak tau mengapa kita bisa berteman dekat, padahal kau tau aku adalah santriati yang begitu bobrok dan berantakan di sekolah ini. Di tengah gempuran aturan yang bagiku mengekang dan membuat kewalahan, kau mengulurkan tanganmu, membantuku, mengajakku berubah perlahan demi perlahan.

Kau menyuruhku mengganti pakaian yang menyerupai laki-laki dengan pakaian yang lebih anggun. Saat ada acara yang mewajibkan kita memakai jilbab segi empat, aku mengaduh tak karuan, lebih mending aku tak ikut acara ini, sebab aku tak punya, tak bisa dan tak suka. Tapi kau malah meminjamkan jilbab, bros dan jarum padaku lantas mengajariku memakainya. Jelas saja aku malu dan merasa risih memakai pakaian seperti itu, “wah, kamu cantik sekali pakai jilbab seperti ini,” katamu waktu itu untuk membesarkan hatiku.

Ketika kau menyetrika pakaianmu, kau selalu menawarkan agar kau menyetrika pakaianku demi agar aku bisa tampil rapi, bahkan kau selalu membantuku bagaimana memadukan jilbab, baju dan rok agar terlihat indah, rapi dan tidak menor. Seperti nasihatmu “Allah itu indah dan suka dengan yang indah-indah”.

Tidak cukup sampai disitu, kau juga mengurusi kasurku. Membangunkanku di tengah malam untuk bermunajat kepada-Nya tak peduli seberapa sering aku menendangmu (gak sadar lo ya, lagi mimpi latihan karate soalnya). Kau mengingatkanku membereskan tempat tidur, rak buku, lemari dan menjemur kasur sesekali. Tentang PR, tentang hafalan, muraja’ah, shalat jama’ah, shalat sunnah semuanya kau urusi, bahkan hingga perasaanku, “Ney, suka itu wajar tapi sebaiknya tak perlu di umbar” begitu katamu. Kau juga memberiku buku-buku motivasi tentang bagaimana mengelola hidup termasuk rasa yang bergejolak di usia kita ini.

Aku memang begitu rempong. Bukannya tidak pernah di urusi oleh ustadzah, bahkan mereka begitu perhatian, mengontrol semuanya dari ujung kaki hingga ujung rambut dan dari bangun tidur higga kembali. Hanya saja aku sering melawan arus, mencari-cari celah kebebasan.

Sering kali, aku merasa kau begitu berlebihan kawan, aku ingin mengatakan padamu, biarkan aku dengan duniaku dan menjadi diriku sendiri. Bahkan sebenarnya usahamu merubahku akan berujung pada sia-sia. Bukankah kau lihat aku sering tidak peduli, merasa terpaksa dan mengulangi kebiasaan burukku?

Seiring waktu, satu persatu mulai kulihat buah perjuanganmu dan perjuangan guru-guru kita pada diriku. Aku memberanikan diri merubah penampilan pelan-pelan. Tapi aku tak kuat kawan. Banyak orang yang menghujatku, kata “tumben” “sok alim” begitu menggoyangkanku. Aku masih ingat, di malam itu kita bercerita. Saling curhat perihal kita yang dibilang sakit karena memakai kaos kaki di kampung.

Dibilang seperti ibu-ibu karena memakai jilbab langsungan yang menutup dada, dibilang kuper karena tidak berbaur dengan laki-laki dan terlebih banyak keluarga yang kurang suka dengan penampilan ini. Di malam itu, kau menguatkanku, menasihatiku dan bilang “kita harus istiqamah, dan pelan-pelan kita memberitahu mereka dan mengajak mereka untuk berubah juga”

Sayang sekali, itu adalah saat saat terakhir kita disana. Bertahun penempahan itu, kini baru terlihat buahnya yang masih kecil di ujung waktu. Aku takut, kelak sudah pisah aku kembali pada kebebasan yang pernah kuidam-idamkan, pada cita-cita lama yang pernah kau larang. Di ujung waktu itu kau berkata “Kita saling mengingatkan ya, walaupun sudah pisah” dengan mantap aku menjawab “Iya kawan”.

Setahun lebih telah berlalu, apa kabar kita kawan?
Maafkan aku yang dahulu membuatmu lelah, sekarang aku ingin berterimakasih, kau telah mengajariku bagaimana menjadi wanita shalihah. Sekarang lihatlah kawan, aku menyukai tempahanmu dulu dan aku nyaman dengannya. dimana kau kini, aku ingin berterima kasih. Tapi alangkah sedihnya saat aku menemukanmu kawan, kau berubah.

Foto-foto di sosmedmu memamerkan auratmu, kau lebih menyukai jilbab yang pendek tak menutup dada. Rok dan baju yang anggun itu berganti menjadi celana dan baju yang ketat, bahkan kau dengan nyamannya bergandengan dengan lelaki yang jelas belum halal untukmu. Kaos kaki, jilbab gede, manset semuanya hilang. Apa yang terjadi? Mengapa begitu jauh kau berubah?. Duhai, maafkan aku.

Aku menyayangkan diriku yang lalai, sahabatmu yang egois meninggalkanmu berjuang sendiri. Dimana aku saat kau membutuhkan dukungan di tengah lingkunganmu yang baru, dimana aku saat kau berusaha istiqamah dengan hijab dan akhlak baikmu, dimana aku saat kau menyukai seseorang, mulai tergoda dan sulit mengontrol diri. Dimana aku saat kau tunggang langgang disana, berusaha bertahan di dunia yang sangat berbeda, dimana aku? Perlahan kau kehilangan dirimu, kau membutuhkan siapapun untuk menguatkan hidupmu.

Ternyata diisana banyak orang yang peduli padamu, lalu mengajakmu ke dunia mereka yang baru, dunia yang dulu pernah kuidamkan. Sayang kau terlampau terwarnai, wahai, dimana aku saat satu persatu hiasan muslimah tanggal dari dirimu?.

Aku lalai, terlalu nyaman dengan duniaku tanpa peduli keadaanmu disana. Kawan, maafkan aku bila tak sesabar dan setelaten kau dulu. Izinkan aku menggandengmu kembali, berjuang bersama seperti nasihatmu dulu, seperti cita-cita kita dulu dan seperti harapan guru-guru kita. Oh ya, bukan maksudku aku sudah sangat baik, tapi perlahan aku ingin berubah menjadi lebih baik lagi, aku tau hatiku, akhlakku masih jauh dari kata sempurna, tapi seperti nasihat guru-guru kita dan nasihatmu dulu “tak perlu menunggu hati baik baru kita berhijab, seiring waktu kita akan diingatkan oleh hijab kita sendiri.

Kawan, bagaimanapun aku kini dan bagaimanapun kau kini, aku ingin kita akrab seperti dulu. Kita manusia yang tidak lepas dari salah dan dosa dengan iman yang naik turun dan godaan di mana-mana. Kita berhak memilih jalan hidup kita karena memang tak ada paksaan dalam hal ini. Tapi, disini aku masih sangat membutuhkanmu untuk berjuang bersama-sama, aku merindukanmu yang dulu. Kawan, masih ingatkah kau nasyid ini “jadikan rabithah pengikatnya, jadikan do’a ekspresi rindu, semoga kita bersua di syurga.”
(Foto kenangan Nelly Khairani Nasution bersama sahabat-sahabatnya sewaktu dibangku sekolah).

Oleh. Nelly Khairani Nasutioan.
Editor. Desti. S.Sos.
Yogyakarta, 30 September 2018.
Sumber Foto. Nelly Khairani Nasutioan.Catatan. Kata kawan bersifat majemuk. Artikel juga di publikasi di facebookNelly Khairani Nasution

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment