7/13/2019

Nur Aisyah. e-Antologi Puisi Religi

Apero Fublic.- Puisi religi adalah puisi yang bernafaskan agama. Dalam e-Antologi puisi religi termuat puisi-puisi yang menggambarkan ajaran agama. Apabila penulisnya seorang penganut agama Islam, maka puisinya akan bernafaskan ajaran Islam. e-Antologi puisi religi yang bertema Hiraku-Hijramu, memuat tentang nasihat-nasihat ahlak dan keimanan.

Mengajak istiqomah dalam beribadah dan menutup aurat. Pesan-pesan yang disampaikan akan menjadi nasihat, bentuk dakwa literasi, dan penguat bagi yang membacanya. Kenapa dikatakan penguat, sebab saat seorang membacanya dan dia tahu bahwa dia tidak sendiri dalam hijrahnya.

Kita dalam dakwa harus bersama-sama membentuk lingkungan kimaman. Bukan hanya lingkungan di alam nyata, tetapi juga lingkungan di dunia maya atau internet. Kurangnya bacaan yang baik, akan menyebabkan orang-orang mencari bacaan lainnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa di dunia ini lebih banyak manusia berbuat yang tidak baik.

Aku berhijrah, dan kalian berhijrah. Kalau kalian belum hijrah jangan membuli atau berusahalah untuk berhijrah. Terutama kaum muslimah, sebab kaum wanita mempunyai tanggung jawab mendidik anak supaya baik, dan bertanggung jawab dalam sosial masyarakat. Jangan bilang lelaki bajingan, kalau kita wanita sewaktu kecil tidak memberikan didikan yang baik pada anak laki-laki kita.

Sesungguhnya apabila wanita teguh, beriman, berahlak, tidak akan muncul lelaki hidung belang. Kadang wanitalah yang tidak teguh berpegang pada tali agama, Al-quran. Sehingga membuka kesempatan syaitan masuk menggoda dari semua sudut. Dari sudut hatinya, telingahnya, matanya, hingga nafsunya biologisnya. Hati wanita yang lembut dan baik itu dimanfaatkan syaitan agar dia terjerumus. Ayo hijrah saudara dan saudariku.

Kalau selama ini, wanita yang diminta hijrah. Semoga kedepannya kaum laki-laki juga mulai hijrah. Kalau kaum wanita menutup aurat maka kaum laki-laki mulai menundukkan pandnagannya. Sahabat semua, hijraku adalah hijramu. Jangan menyalakan syaitan karena menggoda, tapi sadarkah kita apakah sudah belajar tidak tergoda. Jangan salahkan godaan, tapi apakah sudah menggunakan akal, bukankah kita tahu antara yang benar dan yang salah.

Indahnya Kerudung

Tertulis jelas perintahnya untukku
Terpatri indah Rasulullah sampaikan
Tak lekang dimakan usia perintahnya bagiku
Tersalur masuk ke sanubari melekat di hatiku

Betapa indahnya kerudung diterpa angin
Sejuk dipandang menentramkan di hati
Bergetar asa mengharap, berdoa kuingin.
Tetap istiqomah mengenakannya, tulus di hati.

Kerudungku kewajiban dan kebutuhanku.
Lembut hati, juga kata, karena kerudung.
Laksana ratu tanpa mahkota, indah itu.
Itulah diriku tanpa memakaimu kerudung.

Sempurnahkan ahlak memantapkan hati.
Tersulut memancar aura tanpa diperlihat.
Cantik hati menambah pahalah, Terpatri.
Selalu terpandang harta dan juga tempat.

Oleh. Nur Aisyah.
Palembang, 4 Maret 2019.

Duhai Muslimah

Duhai salihah yang adam tunggu.
Duhai engkau bunga rona indah memikat
Jangan anggap remeh hijab dan ahlakmu
Jangan lupa kewajiban muslimahmu

Wahai engkau mutiara di laut biru
Namamu indah seindah artinya
Wahai engkau salihah rupa merak itu
Jadilah merak indah yang sulit ditangkap.

Duhai muslimah perindu jannah Allah
Libatkan Allah disetiap hijramu
Tempatkan Allah, paling atas dalam urusan cintamu.
Agar lancar tiada hambatan urusanmu.

Duhai muslimah pemilik mahkota emas
Curahkan asahmu dihadapan Allah.
Bentuk ahlakmu serupa hijabmu.
Indah, baik, terpuji dan aman dipandang.

Oleh. Nur Aisyah
Palembang, 4 Maret 2019.

Hayat Perindu

Telah lama diri ini menunggu,
Indahnya fitrah yg diberikan
Tetap saja hati ini bertaut menuju dirimu,
Ingatkan diri ini pada ya robb, pencipta qolbu
Alang alang membentang menebar warna
Nestapa merindu seluas lautan alang alang

Entahlah, tak terpungkiri,
Kerinduan ini tak tertahan, tak terjaga
Akankah dirimu yg disana,
Juga ikhlas menebar doa,
Pastikan sebut namamu disetiap doa
Untukmu wahai diri yg mengisi ruang kosong,
Tempat dan tepat penggerak qolbu
Rincikan kerinduan tak tertahan ini

Ilahi, sampaikan salam rinduku padanya,
yang selalu mengisi kerinduan belaka
Di bait-bait yang tertanam disetiap diksi,
Serupa kata kata berbentuk putus asa
Diri ini menjamah setitik cahaya,
Meneluk masuk tanpa permisi
Daari rindu mengekang rasa membentuk fatomargana

Aku khawatirkan fikirku untuk menduakan cintamu ya robbku
Ranaan melipurkan diri pada pencipta hati,
Sang maha pembolak-balik hati
Beginikah hayat para perindu?
Hayat diam tapi mendoakan
Begitu hebat menyayat setiap relung rasa,
Tapi membentangkan doa keajaiban.

Oleh. Nur Aisyah
Palembang, 30 Maret 2019.

Radang Mengangngah di Dada

Radang menganga menutup tak berubah
Berombak-ombak tawa merupa luka,
Juga tersendat bagai anak tangga
Pohon rindang tak semua menghasilkan matangnya buah
Terlihat jelas,
Tak semua baik tanpa masalah dalam rumah tangga

Terlihat tak terawat batang hidung anak bangsa
Karung rongsok dibawakan selalu terlihat,
Di setiap lampu merah dan persimpangan
Tubuh kusam, kotor, juga letih dan tak tentu arah menelangsa
Akankah rasa bersalah,
Melingkup diruang rongga disetiap simpang
Siapa? Siapa yang berperan? Siapa yang salah? antagonis?

Radang menganga tertanam pasti tumbuh,
Mencontoh antagonis.
Tak terlihat tak terjamah,
Tak tertebak di belakang muka dua
Pura-pura tolol hidupkan segala tipu sadis
Menutup mata dan juga hati,
Dalam radang yang menganga

Di radang menganga merongga luas milik kita
Batang hidung anak bangsa terpaksa melanglang buana
nelangsa tak tentu arah di desa maupun koto
Di negara tercinta ini,
Terdapat radang menganga membesar tercipta
Wahai calon generasi bangsa Indonesia,
Tutuplah radang yang menganga di dada negara ini.

Oleh. Nur Aisyah.
Editor. Selita. S.Pd.
Palembang, 31 Maret 2019.

Sumber foto. Nur Aisyah. Lokasi foto Sungai Lematang, Kota Lahat, Sumatera Selatan. #Kunjungi akun wattpad Nur Aisyah: Klik di sini.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment