7/22/2019

Nia Pahrizul. Rindu Tak Bertuan.

Apero Fublic.- Syarce. Kemarin aku disini dengan sepi-sepi temaram menyambut malam. Berjalan sambil menelisik dalam remang pelita kecil. Kunang-kunang yang berlalu memberi arah. Bercahaya seperti permata yang terbang. Kemudian malam berbisik tentang cerita keindahan surga.

Berlangka kaki berhati-hati agar tidak tersangkut oleh duri godaan dunia. Menepis berbagai rayuan hitam anak-anak jalanan. Sehingga aku tidak banyak kawan dalam perjalanan ini. Aku memilih menjauh dari kehidupan orang-orang yang lupa dengan Allah. Tapi cobaan itu tetap datang.

Hati meronta ingin ikut mereka-mereka. Aku akan berusaha sabar dan kuat tekadku. Sehingga sepi tidak pernah jauh pergi. Namun tidak dapat mengusik hijrahku. Karena dengan cinta keluargaku lebih dari menggembirakan. Terkadang memang aku akui. Aku merindukan seseorang yang entah siapa, entah di mana, dan kapan dia datang menjemputku.

Rasa rindu yang aku abaikan ini, seakan kecewa denganku. Bersabarlah wahai hati yang lelah. Aku tahu, kau rindu dan ingin dirindukan. Dengarkan sabdaku: Wahai rindu, bersabarlah sebab dia yang berhak dirindukan belum datang dengan lamaran. Biarlah kau mengambang tinggi-tinggi di awan. Mengembara bersama hujan, lalu hanyut dalam keikhlasan. Rinduku yang tak bertuan.!!!

Rindu Tak Bertuan

Hujan adalah waktu,
Untuk mengingatmu.

Hujan,
Juga tidak pernah menyapaku lagi.
Tersenyumpun enggan

Hujan,
Memberikan arti
Sebuah kesendirian.

Apakah hujan begitu kejam?
Tidak !!!

Mungkin Aku.
Atau mereka yang dulu
Menghakimi kita.

Hujan
Selalu membuatku merindu
Entah pada siapa?
Mungkin.
Karena rinduku,
Belum Bertuan.

Seiring jalan aku meresapi dengan jalan takdir. Aku mengikuti takdir Allah dalam pencapaian apapun. Aku tidak pernah meminta semua dengan serakah. Termasuk rindu ini yang telah mengambang meminta rumah perpaduan. Rindu-rindu yang tidak lagi bersangkar itu membaur diantara embun pagi yang dingin.

Memutih diantara dedaunan dan bersembunyi di kelopak bunga-bunga. Bila menetes jatuh di rerumputan yang membisu karena beku. Tapi jalan-jalan itu terus aku tapaki. Sampai aku menemukan akhir dari jalan. Dimana ketentuan Allah berlaku untukku.

Semoga rindukan akan segerah memiliki rumah dimana kehangatan cinta memberikan nyaman di kereta takdir yang akan dilalui esok. Aku berharap roda-rodakeretaku akan kuat melalu jalan kerikil dan berlobang. Begitupun dengan rahmat dan nikmat dari Allah selalu tercurahkan. Dari kalbuku, dimana rinduku yang belum bertuan.

Oleh. Nia Pahrizul.
Editor. Selita, S.Pd.
Palembang, 21 Juli 2019.
Sumber foto. Nia Pahrizul.
Kategori. Syarce Fiksi.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment