6/29/2019

Surat-Surat Chairil Anwar Kepada H.B. Jassin


Apero Fublic.- Saat proses melahirkan sajak-sajak-nya, Chairil Anwar tidak mendapatkan ilham langsung muncul begitu saja. Dalam proses pemunculan sajak-sajak-nya, ada proses berpikir dan pengalam yang bermain. Chairil berusaha dengan sekuat tenaga melahirkan sajak-nya. Sehingga Chairil begitu keras berpikir dan mengolah imajinasi-nya. Dia berharap agar muncul sajak yang berkualitas.

Mungkin sebagian orang menulis sajak hanya perlu memainkan kata-kata saja. Namun tidak demikian dengan Chairil, keseriusan-nya itu tergambar dalam surat-surat-nya dengan sastrawan  H.B. Jassin. Seperti perenunangan, kadang berkata perlu di renungkan lagi, dan sebagainya.

Dalam surat tersebut ada juga tergambar bahwa Chairil menyatakan bahwa dirinya seorang seniman. Ia lebih suka menjadi seorang seni rupa dan sandiwara (mungkin teater) dari pada penulis. Dari suratnya tergambar, bahwa Chairil rupanya juga seorang kutu buku. Chairil berteman dekat dengan H.B. Jassin.

Sajak yang dia kirim kadang sajak yang belum begitu lengkap, sehingga ada sajak-sajak yang ia kirimkan kepada H.B. Jassin masih berupa rangkaian kata-kata yang belum sepenuhnya menjadi sajak-sajak, dan perlu untuk di renungkan kembali. Apabilah melihat tahun-tahun surat-surat tersebut, dia hidup dalam pergolakan besar republik kita.

Chairil juga melalui kehidupan sulit bersama para pejuangan kemerdekaan lainnya, dia melalui masa penjajahan Jepang, melalui masa-masa perang dengan Belanda. Sehingga Chairil menjadi saksi-saksi dari banyak peristiwa penting yang terjadi pada masa hidupnya.  Berikut adalah surat-surat Chairil Anwar.

15 Maret 1943


Jassin,
       Tadi datang. Rumah Kosong. Ada menunggun kira-kira sejam. Sementara itu ta’ dapat melepaskan tangan dari lemari buku. Kubawa
     1)      H.R. Hoist, De nieuwe Getroste
     2)      H.R. Hoist, Keur uit de Gedichten
     3)      Huizinga, In de schaduw van Morgen
     4)      Huizinga, Cultuur Historische Verkenningen.
Maksud datang tentu dapat Jassin menerka. Minta terima kasih 1001 kali,
Kalau sempat besok datang ke Balai Pustaka.
Jassin,
Aku tak bertukar. Masih seperti dulu juga lagi. Tapi kalau 10 hari lagi dihukum tentu lemah dan jinak.
Relaas perkaraku akan membuktikan aku ta’ bersalah.
Apa?! Disumpahi Eros.
                Kuminta padamu sekali lagi 1001 terima kasih.
                Aku Katakan: You are well.[1]

                                                                             Ch. Anwar                                                       
********

(Kartu pos, 8 Maret 1944)
                     d/a R.M. Djojosepoetro
                                                                                          Paron
                                                                                                   Jawa Timur

Jassin,
    Dalam kalangan kita sipat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati. Tapi hingga kini lahir aku hanya bisa mencampuri dunia kesenian setengah-setengah pula. Tapi untung bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian.
    Dalam perjalanan ini kedengar sudah bisa berkirim uang Sumatra-Jawa. Ini besar artinya bagiku, jiwaku tidak perlu kungkungan mengalami kantor setiap hari-hari seperti kebanyakan di antara kita sekarang.[2]
Sekian

Ch. Anwar, dalam perjalanan
Di Jawa Timur



******

(Kartu Pos, 8 Maret 1944)
                                                                                   d/a R.M. Djojosepoetro
                                                         Paron

Jassin,
                Tidak Jassin aku tidak akan kembali ke prosa seperti dalam pidato di depan “Angkatan Baru” dulu! Prosa seperti itu sebenarnya membumbung, mengawang tinggi saja, karena keintensiteitan menulis serasa aku mendera jadinya, tetapi tiliklah setelitinya sekali lagi, dengan prosa seperti itu aku tidak sampai ke perhitungan (afrekening). Sedangkan maksudnya aku akan bikin perhitungan habis-habisan dengan begitu banyak di sekelilingku.
                Dan garis-garisku sudah kudapat, harga sebagi manusia (menselijke waardigheid) dengan kepribadian. Lapanganku bergerak sudah kutahu pula, sebenarnya di mana-mana saja, tetapi jika di khusukan di lapangan kesusastraan, seni rupa dan sandiwaralah.
                Prosaku, puisiku juga, dalam tiap kata akan kugali-korek sedalamnya, hingga ke kernwoord, ke kernbeeld. (sudah kumulai dengan sajak-sajak penghabisan, “Di Depan Kaca”,
                Sampai sini,[3]


(tanda tangan Dhairil Anwar)


*******
(Kartu pos, 11 Maret 1944)
                  d/a R.M. Djojosepoetro
                          Paron

Jassin,
    Begini keadaan jiwaku sekarang, untuk menulis sajak keperwiraan seperti “Diponegoro” tidak lagi. Menurut oom ku, sajak itu pun tidak baik!
    Lagi pula dengan keritik yang agak tajam sedikit, hanya beberapa sajak saja yang bisa melewati timbangan.
    Tapi tahu kau, apa yang kuketemui dalam meneropong jiwa sendiri? Bahwa dari sajak-sajak bermula hingga penghabisan belum ada garis nyata lagi yang bisa dipegang.
    Jassin! Aku mulai dengan 10-15 sajak-sajak yang penghabisan di antara ada juga yang tidak bisa diterima sebagai sajak!!
Kita ketemu lagi,[4]


(tanda tangan Chairil Anwar)


*********

(Kartu pos, 11 Maret 1944)
                  d/a R.M. Djojosepoetro
              Paron

pagi

Jassin,
                Kubaca sajak-sajakku semua. Kesal aku, sekesalnya...,
Jiwaku tiap menit bertukar warna, sehingga tak tahu aku ap aku sebenarnya
                                                                                                                                                                                               

sore

  terasa kesanggupanku untuk menulis studi-studi tentang kesusastraan.
 Mesti ada yang sudah ditulisnya tentang kesusastraan, orang pujangga baru” kebanyakan epigones dari ’80...., epigones yang tak tentu tuju pulu lagi.


Ch. Anwar, dalam perjalanan
Di Jawa Timur.[5]

********** 

10 April 1944

Jassin,
                Yang kuserakan padamu – yang kunamakan sajak-sajak!
-          Itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.
Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan”
Musti di lalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.[6]

                                                                                        Ch. Anwar

 **********

Surat 10 April ini adalah bentuk kutipan dari buku H.B. Jassin, berjudul Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai II, oleh editor Antologi Puisi Chairil Anwar Aku ini Binatang Jalang. Editor sampai saat ia menulis buku ini tidak menemukan surat asli. Demikian tulisan ini sebagai informasi dunia sastra Indonesia. Semoga bermanfaat bagi para pemerhati dan peneliti sastra Indonesia.

Oleh: Ahmad Reni Efita
Editor. Selita. S.Pd.
Fotografer. Dadang Saputra
Sumber dan Hak Cipta: Pamusuk Eneste, (ed)., Aku ini Binatang Jalang, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012.

[1]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku ini Binatang Jalang, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), h. 113.
[2]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku ini Binatang Jalang, h. 114.
[3]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku ini Binatang Jalang, h. 115.
[4]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku ini Binatang Jalang, h. 116.
[5]Pamusuk Eneste, (ed).,  Aku ini Binatang Jalang, h. 117.
[6]Pamusuk Eneste, (ed).,  Aku ini Binatang Jalang, h. 188.


Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment