6/24/2019

Surat Cinta Untuk Jodohku


Apero Fublic.- Surat Kita. Gaungan suara hati dalam doa. Menggema bagai di pegunungan malam. Rindunya hati seorang akan jodohnya. Hari ini, ditanggal rindu, bulan menanti, dan tahun harapan.

Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatu.
Dear jodoh, Ku. Wahai hamba Allah, aku menyapamu di gelap malam, yang diterangi oleh para bintang dan rembulan. Di sudut kamar yang gelap, bersama jatuhnya butir-butir air wudhu, aku bersujud di hadapan mu, tuhan ku.

Aku ingin menulis surat rindu pada jodohku, yang ada di dalam genggaman Mu. Aku siapkan tinta yang aku racik dari rapalan doa. Sedangkan untuk menggoreskan surat cinta ini. Aku gunakan pena yang tersusun dari sepulu jari-jari tanganku, menengada ke atas.

Dikau adalah jiwa dimana aku yang bengkok. Bersemayam di kedua belah sisi tanganmu, jodohku. Akulah tulang rusukmu yang sedang memantaskan diri. Untuk menjadi pendamping hidupmu. Aku tak tau kau siapa? di mana? lagi apa? dengan siapa?. begitupun rupamu aku tidak tahu.

Jodohku, atau mungkin kau sedang bersama orang lain. Dimana mereka mengakui dikau miliknya. Padahal nantinya kau adalah takdirku. Terima kasih untuk mu, yang telah menjaga jodohku, saat ini. Jodohku, saat kita bertemu dan bersatu kelak.

Kau akan menjadi pelengkap dan penyempurna diriku yang banyak kekurangan ini. Dimana kau akan menerima apa adanya. Apa kelebihanku! kekuranganku! pembimbingku!. Jodohku, kau menjadi imamku. Hidup di jalan yang diridhoi oleh Allah subhana wataa’aallah.

Jodohku, aku disini menunggumu. Apakah di sana kau juga menungguku juga. Apakah kau menyebut aku dalam doa-doamu. Kalau kita sama-sama menunggu, dan sama-sama menanti. Timbul tenggelam yang menyita kesabaran.

Bahkan aku selalu tenggelam dalam doa menjelang tidurku. Agar kita segerah dipertemukan dalam ikatan cinta suci kita. Resah sebab kita tak berpacaran seperti orang-orang. Kita saling menjaga diri dari dosa.

Kalau demikian bagaimana kita menyatunya. Bukankah seharusnya ada yang mencari, dan ada yang menanti. Ada yang menunggu, dan ada juga yang mendatangi. Tapi sudahlah, itu semua hanyalah persepsiku saja.

Bukankah doa yang telah dipanjatkan. Nanti dengan skenario-Nya kita akan dipertemukan. Tanpa sengaja, tidak terduga dan saling tidak menyangkah. Mungkin di masjid kita berpapasan, atau di tokoh buku saat sama-sama membeli Al-Quran. Mungkin juga kau langsung datang kehadapan ibu dan ayah untuk melamarku.

Wahai jodohku! maafkan aku yang pernah membagi cintaku dengan orang lain. Sebelum aku bertemu dengan dirimu. Sebab kerinduanku padamu membuat aku telah tertipu. Tertipu bujuk rayu setan dengan jalan berpacaran.

Berharap dengan cinta yang lain. Yang aku sangkah dirimu, jodohku. Karena hasrat ingin menemukanmu secepatnya membuat aku tidak dapat mengendalikan hati ini. Aku di sini sudah memaafkanmu. Maka dari itu, dapatlah kiranya kita saling memaafkan dan membuka jalan cinta yang sebenarnya, yang sesunggunya.

Wahai penyempurnaku, aku harap kita berjalan bedampingan sama langka saat maju, dan sama langkah saat mundur. Aku tidak mau kau berjalan di belakangku, begitu pun sebaliknya. Aku juga tidak mau kau berjalan didepanku, begitupun sebaliknya.

Sebab aku akan terjatu, karena tidak berpegang pada lengan tanganmu. Aku akan takut, saat bertemu sesuatu tanpa perlindunganmu. Maka kita berjalan berdampingan ya!! nantinya. Kau di sisiku. Dan aku di sisimu. Orang-orang berkata; cintailah aku karena Allah.

Aku yakin dengan nasihat orang-orang bijak yang berkata. Perbaikilah dirimu, ibadahmu, maka Allah akan memperbaiki jodohmu. Mengapa aku percaya, karena orang yang baik jodohnya untuk yang baik. Ibarat pepatah, jodohmu adalah cerminan dari dirimu.

Semoga kita disegerahkan bertemu diwaktu yang tepat dan keaadaan yang tepat pula. Jodohku, aku sunggu merindukanmu saat ini. Tuhan segerahkanlah diri ini berjumpa dengan jodohku.

Wahai calon imamku. Nan jauh dihadirat Allah, sebenarnya banyak sekali keluh kesah, akan rasa-rasa, gejolak jiwa yang ingin aku sampaikan. Tetapi bagaimana aku dapat menceritakannya bila hati dalam resah kesepian.

Maka dari itu, satu-satunya jalan, hanyalah doa dan berdoa. Kau tahu, air mata yang jatuh ini, bukanlah kecengenganku, tetapi rasa syukur dan ketulusan menantimu, jodoh ku. Datanglah. Datanglahhh. Datanglahhhhh. Dariku, untukmu jodohku.

Oleh. Yunita Herlina.
Editor: Desti. S.Sos.
Palembang, 18 November 2018.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya. Kirim saja ke Apero Fublic.

Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero FublicwhatsApp: 081367739872. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment