6/28/2019

Songket. Tenunan Warisan Kerajaan Sriwijaya


Apero Fublic.- Songket adalah nama kain tradisional dari daerah Sumatera Selatan. Kain songket diproduksi masyarakat dengan cara di tenun. Warnah khas dari songket adalah merah hati dan kuning emas. Warna kuning emas juga menyimbolkan kemelayuan. Dalam pelacakan motif-motif ragam hias tenun songket dilakukan oleh tim balai arkeologi Sumatera Selatan pada arca-arca peninggalan Kerajaan Sriwijaya.


Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap arca-arca di situs Bumiayu, Sumatera Selatan dapat di ketahui , bahwa songket sudah dikenakan oleh masyarakat Sumatera Selatan sejak abad ke-9 Masehi, ketika Sriwijaya berpusat di Palembang. Itu berarti kemunculan tenun songket sudah ada jauh sebelum abad ke-9 Masehi.

Tenun songket yang sudah menjadi budaya di tengah masyarakat luas, sehingga tetap bertahan walau runtuhnya Kerajaan Sriwijaya. Pada masa Palembang di bawah kekuasaan Kerajaan Palembang sampai dengan masa Kesultanan Palembang tenun songket menjadi model pakaian yang mewah. Terutama dikalangan bangsawan yang menyukai tenun songket dengan sulam benang emas.

Kain songket dikenakan dengan cara melingkar di pinggang alah Melayu. Dijadikan tajak, selendang, rompi dan baju. Kemudian songket juga dijadikan suatu pakaian resmi di acara-acara seremonial seperti pakaian penganti, dan sebagai hadia perkawinan. Kebiasaan tersebut terus bertahan sampai sekarang di Sumatera Selatan.

Walau sudah mulai berubah dan bergeser. Hadia pernikahan tersebut di istilahkan dengan adat genti dudukGenti duduk dimaksudkan sebagai ganti keberadaan dari si anak wanita yang sudah menikah dan ikut suami. Apabila pernikahan itu tinggal berjarak jauh, genti duduk akan menjadi pengobat rindu ibu, ayah, dan keluarganya.


Dalam perkembangannya sistem tenun songket Sriwijaya menyebar ke seluru Nusantara dan Asia Tenggara. Di Nusantara atau Indonesia disetiap wilayah berkembang corak kedaerahan yang menjadi identitas kedaerahan. Begitupun nama kain hasil tenun yang berbeda sesuai dengan bahasa daerah masing-masing. Sehingga pada masa sekarang nama songket menjadi identitas umum dari hasil tenun tersebut. Bukan hanya untuk identitas di Indonesia tapi juga untuk identitas dunia. Songket juga diharapkan terdaftar di UNESCO sebagai warisan budaya dunia. 


Di Sumatera Selatan salah satu wilayah dimana masyarakatnya aktif dalam menenun songket adalah wilayah Ogan Ilir, seperti di Kecamatan Tanjung Batu, Kecamatan Rantau Panjang, dan sekitarnya. Penenun songket biasanya dilakukan oleh kaum wanita. Bukan karena dianggap sebagai pekerjaan wanita, tetapi karena menenun dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan tenaga yang lembut.

Lembut dimaksud bukan berati lemah. Maka kaum wanitalah yang memiliki kemampuan yang baik itu. Dalam tenun songket ada tiga jenis songket, yaitu limar, rakam, dan lepus. Songket lepus dalam pembuatannya hanya menggunakan dua macam benang, yaitu benang kristal dan benang sutra. Bercorak merah dan kuning emas, atau bentuk songket asli.

Sedangkan jenis songket limar juga menggunakan dua benang tersebut, tetapi dari tata motip berupa kembang-kembang yang berbeda. Untuk jenis tenun jenis rakam selain menggunakan dua benang tersebut, juga menggunakan benang tambahan lain. Kemudian pembuatan jenis songket rakam juga lebih rumit. Banyak motif dan ragam hias, juga warnanya.
Foto atas adalah foto hasil tenun kain songket tradisional Sumatera Selatan. Tampak kain songket jenis limar, lepus, nyino hampir selesai. Lama pengerjaan satu kain songket dua minggu atau lebih tergantung dari aktifnya penenun dalam mengerjakan tenunannya. Foto bagian bawah kain songket jenis lepus sudah jadi.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti. S. Sos.
Palembang, 5 Januari 2019.

Seumber: Jurnal Arkeologi Siddhayatra. Dalam, Retno Purwanti dan Sondang M. Siregar, Sejarah Sonket Berdasarkan Data Arkeologi. Balai Arkeologi Sumatera Selatan. 2016.
Sumber foto dan wawancara. Ulandari.
Kecamatan Rantau Panjang, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment