6/23/2019

Janah Sutia. Teruntukmu


Apero Fublic.- Assalamuallaikum warrohmatullahi wabbarokatu. Aku menyapa di senyap malam, Di antara belayan angin yang dingin. Beku dibalik keangkuhan jiwa-jiwa.Yang membuat aku menari dalam rentang panjang hidup ku. Selalu ada celah aku mengingat mu. Seperti lobang kosong yang mengintip dari dinding hati ku. Apabila angin menerpa lobang kosong itu. Dia berbunyi, seperti bernyanyi tentang rindu. Rindu yang merajalelah di hatiku.

Teruntuk mu,
Nan jauh, kah. Sehingga jarak begitu sulit ditempu oleh rasa ini. Atau begitu tinggi seperti mega-mega merah, disenjah kala. Senjah yang sayup di upuk barat dan merindu. Melamuri mata ku, kemudian cairan bening yang mencuci kotoran masa silam, namun menuntun pada kenangan yang tidak terlupakan. Adu, apa aku tidak sadar, kalau hari mulai gelap. Mentari sudah mulai terbenam.

Aku berlari pulang, sebab azan telah bergema. Hijab dan gamis ku, berkibar terterpa angin. Seakan ia marah dan cemburu meminta aku tetap disini. Angin ingin menyejukkan bara asmara ini, yang telah lama membakar dada ku. Aduh, jerit ku, seakan ada sayatan sembilu. Aku sedih dan pilu, menangis.

Tidak jerit kalbu ku. Aku tidak secengeng itu. Aku hanya terharu oleh rontahan hati ini. Namun mengapa air mata tetap mengalir saja tanpa aku minta. Aku tau, aku rindu, maka di sajadalah kiranya akan mengobati itu. Kadang aku merasa begitu bodoh, tetapi begitulah kata hati yang tak dapat diingkari.

Seseorang yang jauh dari mata, namun tak pernah luput dari do’a. Untukmu seseorang yang sederhana dengan sejuta pesona. Maafkan jika kali ini aku kembali gagal untuk menyerah, karena pada hakikatnya cinta adalah anugerah. Maafkan jika hingga saat ini, aku masih saja menyebut namamu didalam do’a, dan aku kembali gagal melupakan mu.

Namun tenanglah kali ini, aku ingin mencintaimu dengan cara yang jauh lebih indah, dengan cara yang jauh lebih  disukai-Nya, cara yang bisa mendatangkan kecintaan-Nya dan keberkahan-Nya, cara yang benar. Karena bersamamu kuingin tinggal seatap menetap, bersamamu kuingin semakin taat, dan bersamamu kuinginkan surga terasa menjadi lebih dekat.

Wahai engaku yang jauh, nan terjauh, namun sangat dekat. Tiadalah harap selain keridhoan Allah. Dahulu aku mengejarmu, sekarang aku relah dalam menerima keputusan-Nya. Dulu aku khilaf sebab aku tertutup oleh hayalan semu. Dimana ego yang masih menguasai diri ku. Hai, seseorang yang pernah singga itu, memang kadang aku nantikan di pondok ini.

Pondok selubung yang bernaung hati lemah seorang gadis, dengan pengharapannya yang panjang. Namun, kini tinggal seuntai keajaiban doa ia nanti, entah dirimu, entah orang lain yang akan menemani perjalanan ini. Aku hanya dapat menunggu dan menunggu dari keputusan takdir kehidupan. Keputusan sang maha bijaksana. Wassalam, dari aku yang pernah untuk mu.

Oleh: Janah Sutia.
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 24 November 2018.
Sumber foto. Janah Sutia.
Sumber foto sungai. Zulkifli Adi Putra.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: www.fublicapero@gmail.com idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment