6/20/2019

e-Antologi Syarce. Mengikat Badai


Apero Fublic.- e-Antologi syarce adalah kumpulan karya syarce atau kumpulan sayair cerita elektronik. Pada e-Antologi syarce ini diberi tema syarce. Mengikat badai. Mengikat badai adalah untaian kata dalam sebuah pepatah Melayu yang berarti jiwa yang bebas di kekang oleh sesuatu. e-Antologi syarce mengikat badai berupa kumpulan syarce dimana syair dan ceritanya, yang jiwa penyair ingin bebas dari semua keterikatan tersebut.

Jiwa yang ingin bebas tanpa harus tunduk pada hal-hal dan ketentuan takdir, ketentuan material, ketentuan emosional sehingga penyair dapat bebas. Kebebasan jiwa yang dicari untuk memenuhi hasrat dalam menuntut ilmu dan berkarya. Bebas dari ketentuan harus bekerja, harus berumah tangga. Bebas dari tuntutan biologis dan amarah. Semua itu, sesunggunya yang sering membuat manusia melalaikan menuntut ilmu. Melalaikan kebaikan dalam kehidupan, melalaikan norma-norma kehidupan.

Aku seperti elang yang terbang tinggi di udara. Aku mengarungi angkasa dengan menembus awan-awan, memperhatikan mangsa-mangsa dari jarak kiloan meter. Mataku yang setajam pedang akan selalu dapat mengawasi walau itu seekor kadal yang berlalu diantara semak. Kebebasan yang sangat indah, kebebasan yang sangat menakjubkan.

Namun, sering kebebsan ini dihantui oleh ikatan rantai kuat yang membelunggu di kaki. Aku bertanya, apakah aku dapat bertahan dengan belenggu itu. Aku adalah petualang, aku pejuang, aku suka berperang, aku maha bebas. Akankah kebebasan itu berakhir dengan ketentuan hidup, oleh emosional, oleh material, oleh seks. Aku tidak tahu, aku si rajawali di angkasa selalu ingin bebas dalam menggapai asa.

Mengikat Badai
Kalian tahu, bagaimana luka di dalam jiwa seseorang. Mereka yang terluka itu seperti orang yang disayat sembilu. Lukanya memang tidak dalam, kadang juga tidak ada setetes pun darah yang memercik, tetapi pedihnya sangat terasa menusuk dan menyayat. Pernahkah terluka?  atau menderita, semoga tidak pernah merasakannya.

Luka yang tidak berdara itu, lebih sakit dan lebih pedih dari luka di kulit. Luka di kulit satu atau dua hari akan berangsur sembuh. Namun luka di dalam hati, akan berdenyut-denyut terus dalam waktu yang lama. Saat memberikan luka, berarti anda telah menyayat. Sedangkan yang disayat akan terasa pedih dan perih.

Penyayat Pedih

Bila-Bila Bambu
Terbelah dari hempasan
Memecah bagai beling
Bermata seperti kilat menyambar
Bila-Bila Bambu
Bersembilu

Bila-Bila Bambu
Mengapa menggores
Tak berasa sekali
Tak berdarah juga
Tetapi pedih

Bila-Bila Bambu
Melukai, tak berperi
Memang luka terpedi, luka tak berdara
Nampak tersenyum, Nampak Tertawa
Bagai taman yang mekar, kiranya

Bila-Bila Bambu
Telah menggores ditubuh
Mengapa tak tahu
Karena diam tak bersiru
Keringat menetes, memedih
Hendak Menjerit tapi disembunyi
Itulah diri, yang terluka
Bagai, Menyimapan Bila-Bila Bambu
Yang Bersembilu
Meluka Tak berdarah
Menyayat tak berasa
Tetapi hanya dirasa.

Bila-Bila Bambu
Disisi-Nya ada sembilu

Oleh: Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 7 Oktober 2018.
Fotografer. Dadang Saputra
Kategori. Syarce Fiktif.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.


Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com idline: Apero Fublic.  Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment