6/19/2019

Doa si Hakam


Apero Fublic.- Ketika kita telah berusaha, berupaya, dalam melakukan sesuatu dalam kehidupan ini. Sekuat tenaga kita berjuang menaklukkan banyak tantangan dan cobaan. Untuk mendapatkan materi maupun non materi. Maka kita harus lengkapi perjuangan itu dengan berdoa pada Allah. Usaha tanpa do’a itu adalah sombong. Begitupun dengan berdoa tanpa usaha adalah sia-sia dan sama saja dengan kebohongan. Oleh karena itu, usaha yang keras diiringi dengan doa. Insyaa Allah doa-doa kita dan di jawabnya pada suatu saat waktu yang tepat.

Seringkali kita berharap akan apa yang kita harapkan (keberhasilan atau kesuksesan). Kadang, apa yang kita harapkan, mimpikan terlalu besar dan jauh dari kemampuan kita. Sehingga membuat kita bingung untuk merealisasikan dan memprioritaskan keinginan kita. Berharap, bercita-cita itu boleh. Asal jangan kita lupa diri dan meninggalkan iman. Karena semuanya telah ditakdirkan oleh Allah.

Maka gantungkan harapan itu hanya pada Allah. Sehingga kita dapat ikhlas menerima ketentuannya. Saat harapan kita, cita-cita kita tidak tersampaikan, kita tidak jatuh dalam jurang penderitaan. Agar kita tidak berputus asa dan berpantang menyerah. Karena Allah adalah penguasa kehidupan makhluknya.

Kisah ini hadir di tengah masyarakat Melayu Kabupaten Lahat. Sebuah kawasan tanah yang yang indah di kaki Bukit Salero. Orang-orang Melayu Lahat mendiami kawasan yang subur. Dialiri Sungai Lematang yang berbatu dan berair jerni. Dengan panorama alam yang sangat indah, dan terdapat banyak air terjun dan peniggalan kebudayaan manusia purba.

Di sebuah desa, hiduplah sebuah keluarga sederhana dan bahagia. Keluarga Pak Umar, dan Ibu Zulaiha. Mereka memiliki seorang anak lelaki yang masih kecil, berumur lima tahun. Berkulit putih, dengan tubuh sedikit kurus. Rambutnya dipotong pendek mirip rambut tentatara. Cerdas, lincah dan punya rasa ingin tahu yang tinggi. Bermata sipit bak orang jepang. Namanya Muhammad Hakam. Maka dia dipanggil Hakam.

Suatu hari Hakam dibawa ayahnya pergi ke kebun kopi yang terletak tidak jauh dari desanya. Hakam memperhatikan ayahnya memetik kopi. Kemudian Hakam juga ikut membantu memetik kopi. Hakam menganggap semua itu hanyalah permainan saja. Sehingga dia begitu semangat membantu ayahnya. Tidak ada buah kopi yang jatuh berserakan di tanah, segerah Hakam pungut. Sambil membantu ayahnya Hakam selalu bernyanyi-nyanyi lagu yang dia ingat. Yang dia pelajari di sekolah. Kadang Hakam membaca ayat-ayat pendek yang dia hafal karena Hakam sudah belajar mengaji di TPA.

Hakam si periang diselah-selah aktivitasnya, berkata pada ayahnya. “ayah, suatu saat nanti Hakam ingin pergi ke Jogja, seperti di televisi itu. Hakam suka tengok candi-candi.” Saat berkata Hakam tersenyum penuh keyakinan. Matanya menatap tajam ke langit biru. Mendengar kalimat putranya yang masih anak-anak.

Ayah Hakam hanya tersenyum saja. Dia tahu kalau anaknya masih kecil dan pemikiranya adalah berhayal. Pak Umar berhenti sejenak memetik buah kopi. Dia memasukkan buah kopi berwarna merah kedalam keranjangnya. Bekerja sudah beberapa jam itu, membuat tubuh Pak Umar lelah dan haus. Air putih menjadi penyejuk kerongkongannya.

Kemudian Pak Umar mendekati putranya sambil menawarkan minum. Hakam minum dan duduk disisi ayah tercintanya. Tempat duduk mereka yang dapat melihat kelembah kebun dan melihat langit ddengan leluasa. Angin berhembus menyejukkan tubuh yang gerah. Sambil terseyum Pak Umar bertanya pada Hakam. Tentu saja pertanyaannya juga tidak serius karena ini adalah dunia anak-anak.

“Apakah Hakam tahu Jogja itu dimana?. Tanya Pak Umar pada Hakam. Senyum simpul menahan tawa, sambil melirik wajah berseri putranya. “tahulah Bak, itu disana.” Kata Hakam menunjuk awan yang membentuk awan sirius lebar seraya tersenyum lebar. Jawaban Hakam membuat Pak Umar tertawa geli.

Tapi Pak Umar mengerti maksud Hakam menunjuk langit dan awan itu berarti jauh. Kemudian Hakam mendekat manja dan duduk dipangkuan ayahnya. “Hahahaha. Dari manak anak bujang Bak, tahu tentang Jogjakarta?. Hakam menjawab kalau dia tahu itu dari siaran radio. Disana banyak candi-candi dan alamnya yang indah. Pak Umar mengerti sekarang.

Pak Umar menjelaskan kalau Jogjakarta itu nama awalnya adalah Adyokarta dari bahasa Sanskerta.  Namun seiring waktu bergeser menjadi Jogjakarta. Tapi dibaca Yogyakarta. Karena hurup J didalam ejaan lama adalah hurup Y. Jogjakarta adalah salah satu provinsi di negara Indonesia. Kemudian Pak Umar melanjutkan.

“Masyaa Allah, anak Bak pendengar yang baik dan punya daya ingat yang kuat. Radio kita yang sudah tua itu sangat bermanfaat untuk menambah wawasan ternyata. Anak Bak memang hebat, masih kecil dah banyak tahu.

Mendengar pujian ayahnya, Hakam menjadi gembira. Ada semacam kekuatan baru didalam jiwanya yang bersih itu. Motivasi yang sangat baik untuk perkembangan psikologis anak. Terpancar sinar harapan dari wajah Hakam. Kemudian Hakam bertanya pada Pak Umar. “Bak, bagaimana kalau nak pergi Yogyakarta, tu?.
“Pertama berdoalah, Hakam pada Allah SWT. Nanti Allah akan memberikan jalanya.

“Baiklah Hakam akan berdoa. Bak, doakan Hakam juga ya, Bak. Semoga suatu saat nanti Hakam benar-benar dapat pergi ke Jogja.” Pinta Hakam kepada ayahnya. Mendengar permintaan anaknya yang masih balita itu, Pak Umar mengiyakan. Lalu berkata.

“Hakam, Bak dan Umakmu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jangankan sekarang, kau belum lahirpun kami sudah mendoakan kebaikan untukmu. Perkataan Pak Umar yang lembut, bersahabat dan penuh kasih sayang membuat  jiwa Hakam tentram dan damai. Sehingga semua kalimat yang ayahnya ucapkan itu, membuat semangat Hakam semakin besar, untuk mengejar impian dan cita-cita.

Bagi Pak Umar itu hanyalah percakapan biasa, yang menganggap Hakam masih terlalu kecil. Hakam mengucap terimah kasih pada ayahnya. Kemudian dia memeluk ayahnya dengan manja seperti anak-anak lainnya. Hakam diumur empat tahun sudah pandai membaca. Walau diajarkan oleh ibunya sekadarnya, tetapi Hakam mampu mengerti dan mulai pandai membaca. Kedua orang tua Hakam selalu mendoakan Hakam setiap selesai shalat.

Setahun kemudian, Hakam si anak petani kopi itu masuk sekolah dasar di Kota Lahat. Waktu itu sekolah dasar Hakam bernama SD Negeri 15 Lahat. Dengan pendidikan dan bertambahnya usia membuat Hakam semakin cerdas. Rasa ingin tahunya dengan sesuatu semakin besar. Kalau tidak mengerti dia tidak segam bertanya pada gurunya atau orang-orang tua.

Waktu kelas dua Sekolah Dasar, pada semester pertama  Hakam belum mendapatkan juara di kelas. Disemester kedua, kepandaian Hakam meningkat dan mendapat peringkat kedua. Setelah itu peringkat kelas selalu disandang oleh Hakam. Dari kelas tiga sampai kelas enam Hakam selalu mendapat peringkat pertama. Hakam menjadi kebanggaan Pak Umar dan istrinya.

Menyadari kemampuan Hakam dalam belajar. Pak Umar mendukung penuh. Maka saat kelas empat, Hakam dimasukkan ayahnya ke kursus bahasa Inggris yang ada di Kota Lahat. Walaupun Pak Umar tidak tahu akan mendapatkan uang darimana untuk biayanya. Namun tetap dia berusaha sebaiknya untuk pendidikan Hakam. Uang dapat dicari pikir Pak Umar.

Sehingga selain mengusahakan kopinya. Pak Umar mulai mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai pendidikan Hakam. Pak Umar menyadari pendidikan sangat penting dan berguna untuk kebaikan masa depan putranya. Dengan pendidikan yang baik setidaknya Hakam mempunyai bekal untuk masa depanya. Berguna bagi negara dan agama.

Tentu akan membuat bangga Pak Umar dan istrinya. Hakam belajar dengan giat dan tidak banyak bermain. Setiap ada tugas belajar dari guru lessnya, guru mengaji atau guru sekolah. Hakam selalu mengerjakannya dengan semangat. Apabila dia menemui kesulitan Hakam akan bertanya kepada orang yang dia anggap mengerti. Sehingga Hakam mampu menjadi anak yang berprestasi.

Singkat cerita Hakam sudah pandai bahasa Inggris. Di akhir semester kelas enam Hakam fokus belajar untuk mengikuti Ujian Nasional. Walaupun Hakam pintar, tetapi dia tetap harus belajar, berdoa, kata ibu dan ayahnya. Allah yang maha membolak balikkan hati dan keadaan. Manusia tidak boleh takabur.

“Iya ayah, Hakam akan akan selalu berusaha dan berdoa. Begitupun doa Bak dan Umak akan menghantarkan kebaikan Allah.
“Masyaa Allah, anak Umak. Semoga selalu dalam lindungan Allah. Jadi anak yang soleh dan taat beribadah. Kata ibu Hakam menyemangati. “Aamiin Yarobbal ‘alamiin. Jawab Hakam sembari memeluk ibunya.

Tidak lama lagi sepertinya Hakam akan segerah punya adik. Ibu Hakam sekarang sedang mengandung. Hakam lulus, kemudian dia masuk Sekolah Menengah Pertama Unggulan di Kota Lahat. Hakam masuk tanpa tes, melalui jalur undangan. Hakam dan keluarganya sangat bersyukur atas rahmat Allah. Jerih payah dan doa kedua orang tuanya terbayarkan.

Di SMP, lingkungan Hakam tidak seperti disaat dia SD. Sekarang banyak pengaruh yang kurang baik. Kehidupannya yang dulu penuh dengan kata rajin dan semangat. Sekarang berganti dengan kehidupan yang penuh dengan ego. Hakam mulai memukan hal-hal baru yang belum pernah dia ketahui selama ini.

Yaitu, suatu keadaan yang lebih mengenal pertemanan, sifat gengsi yang disertai ego yang tinggi. Bahkan sampai mengenal yang namanya cinta monyet. Sekarang dunia lebih luas, ternyata dalam belajar banyak yang lebih cerdas darinya. Anak-anak yang beranjak remaja itu, sekarang mengenal pergaulan lain.

Seperti pemakaian sepeda motor dan handpone. Semua itu, mempengaruhi gengsi Hakam dan meminta dibelikan sepeda motor dan handpone. Benda-benda yang seharusnya belum sesuai dimiliki anak beranjak remaja. Pak Umar yang bijaksana itu, mengerti pemikiran anak seusia Hakam. Maka dia mulai menasihati putra sulungnya itu dengan lemah lembut.

“Hakam, duduk disini sebentar, Bak mau bicara.“ Pinta Pak Umar sambil menepuk-nepuk kursi. Hakam yang sedang membaca komik konan segera keluar kamar menuju ruang tengah rumah panggung. Televis sedang menyiarkan breking news. Pak Umar mengecilkan suara televisinya. Banyak basah basih Pak Umar agar suasana santai terbentuk. Kemudian barulah Pak Umar menasihati Hakam.

“Hakam masih ingatkah kamu dengan kisah seorang anak kecil yang dipinta mengelilingi masjid dengan membawa gelas berisi air penuh di dalamnya. Hakam mengiyakan. “Kalau begitu apa hikma dari cerita itu?.

“Seseorang harus fokus dalam mengerjakan sesuatu ayah. Tidak perlu tergesah-gesah, jangan memikirkan hal lain. Perhatikan langkah dan tindakan. Hakam mencoba menerangkan pemahamannya tentang cerita yang dimaksud.

“Bak bertanya?. Apakah sepeda motor, handpone, berkumpul-kumpul riah dengan teman-teman tanpa mengenal waktu. Kemudian tidak mau belajar, tidak patuh pada guru dan orang tua. Apakah itu suatu kefokusan seorang siswa yang ditugaskan belajar oleh kedua orang tuanya. Kau memasuki masah remaja yang memiliki pemikiran labil.

Jangan sekali-kali kau masuk kedalam pergaulan yang memberi pengaruh buruk. Karena akan mempengaruhi semua cita-citamu. Lalu berdampak pada masa depanmu. Menyesal tidak pernah diawal, Hakam. Masih ingatkah dirimu dengan cita-citamu seaktu kecil dulu. Hakam tertunduk mendengar kata-kata ayahnya. Hakam sadar kalau dia sudah tidak fokus lagi dengan cita-citanya. Dia mulai larut kedalam kenakalan yang tidak berguna. Hakam mengiyakan kata-kata ayahnya.

Sejak saat itu Hakam memikirkan perbuatannya selama ini. Dari semester dua kelas tujuh SMP, dia sangat bermalas-malasan. Waktunya banyak habis bermain-main. Sadar dengan perubahan sikapnya. Suatu hari Hakam meminta maaf pada kedua orang tuanya. Dengan berkaca-kaca Hakam berjanji tidak akan nakal lagi.

Membuat ibu Hakam terharu dan meneteskan air mata. Rasa sayang bertambah sayang dengan putra sulung mereka. Saat shalat Hakam berdoa memohon ampunan atas kekhilafannya selama ini. Sejak itu, Hakam mulai membagi waktu dengan teratur. Ada waktu bermain dan belajar. Ada waktu kemesjid dan membatu kedua orang tuanya. Hakam kembali menjadi Hakam yang dulu.

Di waktu senggang Hakam banyak membaca buku-buku. Berada di perpustakaan dan belajar dengan giat. Suatu ketika Hakam pernah mewakili sekolahnya mengikuti olimpiade sains di tingkat kabupaten dan masuk sepuluh besar. Sekolah, teman-temannya, dan kedua orang tuanya bangga dengan Hakam. Bukan juara dan tropi yang mereka harapkan. Tetapi semangat dan usaha Hakamlah yang mereka hargai.

Waktu berlalu, Hakam kemudian masuk ke Sekolah Menengah Atas di Kota Lahat. Hakam tetap menjadi pelajar yang baik. Rajin belajar, membaca buku dan bertambah taat beribadah. Saat berdoa, Hakam tidak hanya mendoakan kebaikan dirinya saja. Tetapi dia juga mendoakan kebaikan orang lain. Dari orag tuanya, keluarganya, sahabatnya, dan lainnya.

Semasa SMA, Hakam juga mengikuti Olimpiade Sains Tingkat Nasional pada Bidang Kebumian. Pada kelas sepuluh Hakam sampai pada tingkat provinsi. Kemudian pada kelas sebelas Hakam masuk ketingkat Nasional. Semua orang tidak menyangka. Sampai ayah Hakam merasa tidak percaya. “Anakku, benarkah itu?. Pikir ayah Hakam sambil terharu.

Hakam sering menulis kalimat doa di buku-buku sahabatnya. Terkadang pada buku gurnya. “Ya Allah, semoga Hakam menjadi anak yang bermanfaat untuk semua orang. Serta dikabulkan semua doa-doa Hakam. Aaammminnnn. Benarlah, tidak ada kata-kata seindah doa. Dan tidak ada ucapan seajaib doa. Kebiasaan Hakam mendoakan orang lain. Tanpa sepengetahuan orangnya. Membuat doa-doa Hakam cepat dijawab oleh Allah SWT.

Sekarang, Hakam sudah kuliah di Kota Pelajar, Yogyakarta. Persis apa yang dia cita-citakan waktu kecil. Dimana doa yang selalu dia panjatkan. Apabila melihat keadaannya dahulu, tidak ada yang menyangkah Hakam akan kulia di Kota Pelajar. Hanya ibu dan Ayahnya yang selalu mendoakan dan tahu. Hakam lulus masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur SMBMPTN. Salah satu jalur kuliah penerimaan BIDIKMISI.

Bidikmisi adalah program pemerinta dalam membantu biaya kuliah anak-anak kurang mampu. Hakam kini menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta. Kota yang pernah dia datangi saat mengikuti olimpiade tingkat nasional. Di kampus pun Hakam menjadi salah-satu mahasiswa aktif, yang sering mengikuti lomba kepenulisan, dan penelitian.

Lewat uang lomba yang dia menangkan, Hakam tidak lagi meminta keperluan perkuliahan kepada orangtuanya. Kecuali uang kontrakan setiap tahun. Ditambah dengan uang keuntungan bisnis pakaian. Hakam dapat memenuhi keperluan hidupnya. Dengan memanfaatkan internet, Hakam memulai bisnis online. Pasar menyediakan semua keperluan pasokan barang-barang yang dapat dia jual secara online.

Saat merenung Hakam berpikir, kehidupan adalah misteri. Tidak terduga apa yang akan terjadi dengan pasti. Begitu banyak hal yang Allah sembunyikan. Ya Allah, sangat luar biasa kehidupan ini. Sebuah takdir yang dibentuk dan digariskan dari doa-doa. Sehingga terus berjalan dan mengalir menuju harapan dan impian. Memang diibaratkan seperti roda yang berputar, yang kita tidak tahu kapan isinya akan tertumpah akibat goncangan.

Bahkan kita tidak pernah tahu juga kapan akan terjadi sebuah goncangan. Maka dari itulah, Hakam selalu berdoa dan mendoakan. Apalagi saat dia mengingat ayat Al-Quran yang berbunyi. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, maka sesungguhnya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia (benar-benar) berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186).

Sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, tentu kita manusia tidak luput dari masalah. Ketika kita dalam kondisi seperti ini, seringkali manusia mengandalkan sesamanya. Padahal, jika mau meminta kepada zhat Maha Pengasih dan Maha Pemberi. Semua hajat atau permintaan insyaa Allah akan terpenuhi. Tetapi juga harus disertai dengan usaha, keyakinan, ketulusan, dan doa.

 “Berdoa, Keajaiban Aakan Datang Kepadamu” –aisy-

Roda Berputar: Tatkalah Matahari Terbit, Munculnya Fajar, Lalu Pagi Tiba, Kemudian Siang dan Malam, Hngga pada Akhirnya ia Terbit Kembali.”  -Syukri Albabatani.

Oleh. Nur Aisyah.
Palembang, 26 Mei 2019.
Editor. Joni Apero.

Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis.

Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero Fublic. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment