6/19/2019

Chairil Anwar. Aku ini Binatang Jalang


Apero Fublic.- Chairil Anwar, lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di Medan, meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta. Ia pernah belajar di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). MULO pada zaman kemerdekaan Bangsa Indonesia sama dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi tidak selesai.

Dia pernah menjadi redaktur “Ge-langgang” atau pada bagian Ruang Kebudayaan Siasat, 1948-1949, dan redaktur  Gema Suasana 1949. Dalam antologi puisi yang lain oleh Chairil Anwar, seperti Deru Campur Debu (1949), Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Terputus (1949), dan Tiga Menguak Takdir bersama Rivai Apin dan Asrul Sani 1950.

Sejumlah prosanya dihimpun oleh H.B Jassin dalam buku Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 tahun 1956. Selain menulis sajak Chairil juga menerjemahkan karya sastra, diantaranya Pulanglah Dia si Anak Hilang karya oleh Andre Gide pada tahun 1948, dan Kena Gempur tulisan John Steinbeck tahun 1951.

Sajak-sajak Chairil banyak diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Diantara terjemahan oleh Burton Raffel, Selected Poems (of) Chairil Anwar (1962), dan The complete poetry and prose of Chairil Anwar (1970). Sementara Liauw Yock Fang yang dibantu H.B. Jassin berjudul The Complete poems of Chairil Anwar (1974).

Kemudian sajak Chairil juga diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman oleh Walter Karwath berjudul Feuer und Asche (1978). Chairil Anwar lazim dianggap sebagai pelopor “Angkatan 45” dalam sastra Indonesia. Berikut sajak-sajak kenangan dari Chairil Anwar, dalam antologi puisi Aku Ini Binatang Jalang, dan Antologi Deru Campur Debu.
  
NISAN
Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha bertakhta.

Chairil Anwar, Oktober 1942.[1]


TAK SEPADAN

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu jua dinding terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal kerangka.

Chairil Anwar, Februari 1943.[2]

SENDIRI

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya

Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang meminta perempuan untuk kawannya

Bahaya dari setiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama

Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: ibu! Ibu!

Chairil Anwar, Februari 1943.[3]


AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri.

Dan aku tidak akan lebih peduli.
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil Anwar, Maret 1943.[4] (versi DCT)


SEMANGAT

Kalau sampai waktuku
Kutahu tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulan terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kebawa berlari
Berlari

Hingga hilang pedih dan peri,

Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Chairil Anwar, 1943.[5] (versi KT)


KESABARAN

Aku tak bisa tidur
Orang ngomong, anjing ngonggong
Dunia jauh mengabur
Kelam mendinding batu
Dihantam suara bertalu-talu
Di sebelahnya api dan abu

Aku hendak berbicara
Suara ku hilang tenaga terbang
Sudah! Tidak jadi apa-apa!
Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

Keras membeku air kali
Dan hidup bukan hidup lagi

Kuulangi yang dulu kembali
Sambil bertutup telinga, berpicing mata
Menunggu reda yang mesti tiba

Chairil Anwar, Maret 1943.[6]


DENDAM

Berdiri tersentak
Dari mimpi aku bengis dielak

Aku tegak
Bulan bersinar sedikit tak nampak

Tangan meraba ke bawa bantalku
Keris berkarat kugenggam di hulu

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Aku mencari
Mendadak mati kuhendak berbekas di jari

Aku mencari
Diri tercerai dari hati

Bulan bersinar sedikit tak nampak

Chairil Anwar, 13 Juli 1943.[7]


SAJAK PUTIH

buat tunanganku Mirat
bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
henari menari seluru aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! Kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...

Chairil Anwar, 18 Januari 1944.[8]


KEPADA PENYAIR BOHANG

            Suaramu bertanda derita laut tenang...
            Si Mati ini padaku masih berbicara
Karena dia cinta, di mulutnya membusa
Dan rindu yang mau memerahi segala
Si Mati ini matanya terus bertanya!

Kelana tidak bersejarah
Berjalan kau terus!
Sehingga tidak gelisah
Begitu berlumuran darah.

Dan duka juga menengadah
Melihat gayamu melangkah
Mendayu suara patah:
“Aku saksi!”

Bohang,
Jauh di dasar jiwamu
Bertumpuk suatu dunia;
Menguyup rintik satu-satu
Kaca dari dirimu pula....

Chairil Anwar, 1945.[9]

KEPADA PELUKIS APANDI

Kalau, ‘ku habis-habis kata, tidak lagi
berani memasuki rumah sendiri, terdiri
di amabang penuh kupak,

adalah karena kesementaraan segala
yang mencap tiap benda, lagi pula terasa
mati kan datang merusak.

Dan tangan ‘kan kaku, menulis berhenti,
kecemasan derita, kecemasan mimpi;
berilah aku tempat di menara tinggi,
di mana kau sendiri meninggi

atas keramaian dunia dan cedera,
lagak lahir dan kelancungan cipta,
kau memaling dan memuja
dan gelap-tertutup jadi terbuka!

Chairil Anwar, 1946.[10]


KABAR DARI LAUT

Aku memang benar tolol ketika itu,
mau pula membikin hubungan dengan kau;
lupa kelasi tiba-tiba bisa sendiri di laut pilu,
berujuk kembali dengan tujuan biru.

Di tubuhku ada luka sekarang,
Bertambah lebar juga, mengeluar darah,
Di bekas dulu kau cium napsu dan garang;
Lagi aku pun sangat lemah serta menyerah.

Hidup berlangsung antara buritan dan kemudi.
Pembatasan Cuma tambah menyatukan kenang.
Dan tawa gila pada whisky tercermin tenang.

Dan kau? Apakah kerjamu sembahyang dan memuji,
Atau di antara mereka juga terdampar,
Burung mati pagi hari di sisi sangkar?

Chairil Anwar, 1946.[11]


MALAM DI GUNUNG

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Chairil Anwar, 1947.[12]


PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
Dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabu

Chairil Anwar, 1948.[13]

KEPADA PEMINTA-MINTA

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercecar semua di muka
Nanah meleleh dari luka
Sambil berjalan kau usap juga.

Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memandang
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah.

Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku.

Baik, baik aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi aku
Nanti darahku jadi beku.

Chairil Anwar, Juni 1943.[14]


SURAT-SURAT CHAIRIL ANWAR DENGAN H.B. JASSIN

15 Maret 1943

Jassin,
                Tadi datang. Rumah kosong. Ada menunggu kira-kira sejam. Sementara itu tentu ta’dapat melepaskan tangan dari lemari buku. kubawa
      1.       H.R. Hoist, De nieuwer Getroste
      2.       H.R. Hoist, Keur uit de Gedichten
      3.       Huizinga, In de schaduw van Morgen
      4.       Huizinga, Cultuur Historische Verkenningen.
Maksud datang tentu dapat Jassin menerka. Minta terima kasih 1001 kali.
Kalau sempat besok datang ke Balai Pustaka. Jassin,
Aku tak bertukar. Masih seperti dulu juga lagi. tapi kalau 10 hari lagi di hukum tentu lemah dan jinak.
Releaas perkaraku akan membuktikan aku ta’ bersalah.
Apa?! Disumpahi Eros.
                Kuminta padamu sekali lagi 1001 terimah kasih
                Aku katakan: You are well.

Ch. Anwar[15]

Surat kedua.

10 April 1944

Jassin,
                Yang kuserahkan padamu – yang kunamakan sajak-sajak!
-          Itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru.
Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa “tingkat percobaan”
Musti di lalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.

Ch. Anwar[16]

Di dalam buku Aku Binatang Jalang ini terdapat enam surat Chairil Anwar yang dikirim ke H.B. Jassin. Surat pertama memberitahukan bahwa Chairil Anwar suka membaca buku. Surat kedua dalam tulisan ini menunjukkan bahwa Chairil Anwar benar-benar menghayati sajak-sajak yang ia buat.

Bahwa Chairil Anwar benar-benar serius dalam sastra kepenyairan. Dalam surat yang lain ke H.B. Jassin juga mengenai kesastraan. Dalam buku ini, dimuat biografi singkat Chairil Anwar beserta fotonya. Sedangkan ulasan dari beberapa sajak diberikan oleh Sapardi Djoko Damono, seperti mengulas puisi Aku, Derai-Derai Cemara, Persetujuan Dengan Bung Karno, yang ditulis di Depok pada akhir tahun 1985.

Sedangkan kata pembuka dalam buku ini baru ditulis tahun 2011 di Jakarta oleh Nirwan Dewanto. Buku terdiri dari 131 halaman, yang memuat 82 puisi dan enam surat-surat Chairil Anwar kepada H.B. Jassin. Editor buku oleh Pamusuk Eneste, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, di Jakarta tahun 2012. Buka sudah diterbitkan sejak tahun 1986 dan sampai cetakan terakhir yang di ulas ini cetakan tahun 2012.

Antologi Puisi
DERU CAMPUR DEBU
Chairil Anwar
Buku Antologi Puisi Deru Campur Debu diterbitkan oleh Dian rakyat, Jakarta: 2000. Buku 47 halaman dengan 40 puisi, hampir semua sajak diberikan gambar ilustrasi menjelaskan maksud dan makna syair. Dibawa ini adalah cuplikan puisi Chairil Anwar dalam Antologi puisi Deru Campur Debu.

Salah satu sajak yang sama adalah sajak berjudul Aku, tetapi tidak dijelaskan versi mana. Dalam antologi puisi ini tidak banyak keterangan selain bentuk kumpulan puisi saja. Tidak ada biografi, juga pandangan dan tanggapan dari parah ahli sastra Indonesia dan sebagainya.

AKU

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih dan tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi.[17]


HAMPA

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas –renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.[18]

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
Di antara gudang, rumah tua, pada cerita
Tiang serta temali. Kapal perahu tiada berlarut
Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
Menyinggung muram, desir hari lari berenang
Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. aku sendiri. Berjalan
Menyisir semenanjung, masing pengap harap
Sekali tiba di ujung dan sekali selamat jalan
Dari pandai ke empat, seduh penghabisan bisa terdekap.[19]

Oleh. Chairil Anwar. 1946.


Oleh: Ramadhani. S.Hum.
Editor. Desti. S.Sos.

Sumber dan Hak Cipta: New Life OftionsDeru Campur Debu. Jakarta: Dian rakyat, 2000.
Pamusuk Eneste, (ed).  Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012.
Foto Chairil: Pamusuk Eneste, (ed). Aku Ini Binatang Jalang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012.



[1]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2012), h. 5.
[2]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 10.
[3]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 14.
[4]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 17.
[5]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 18.
[6]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 24.
[7]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 39.
[8]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 50.
[9]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 57.
[10]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang,h. 64.
[11]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 70.
[12]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 85.
[13]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 89.
[14]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 107.
[15]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 113.
[16]Pamusuk Eneste, (ed)., Aku Ini Binatang Jalang, h. 118.
[17]New Life OftionsDeru Campur Debu, Dian rakyat, Jakarta: 2000, h. 7.
[18]New Life Oftions, Deru Campur Debu, Dian rakyat, Jakarta: 2000, h. 8.
[19]New Life Oftions, Deru Campur Debu, Dian rakyat, Jakarta: 2000, h. 39.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment