6/18/2019

Asmara Dan Tragedi Semanggi


Apero Fublic.- Semanggi suatu kawasan yang terletak di Jakarta Bagian Selatan. Pada nama flora Semanggi adalah sekelompok paku air dari marga Marsilea yang di Indonesia mudah ditemukan di pematang sawa atau tepi saluran irigasi, atau saluran air. Nama kawasan, Semanggi suatu kawasan yang terletak di daerah Jakarta Bagian Selatan.

Tragedi Semanggi menunjuk kepada dua kejadian protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa MPR yang mengakibatkan tewasnya warga sipil. Kejadian pertama dikenal dengan Tragedi Semanggi I yang terjadi pada tanggal 11-13 November 1998, masa pemerintahan transisi Indonesia, yang menyebabkan tewasnya 17 warga sipil.

Kejadian kedua dikenal dengan Tragedi Semanggi II yang terjadi pada 24 September 1998 yang menyebebkan tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh Jakarta. Selain itu juga menyebabkan 217 korban luka-luka.

Antolologi puisi dari W. Ikhwan Purnama adalah bentuk puisi yang menceritakan kejadian-kejadian seputar revolusi 1998 yang menitik beratkan pada Tragedi Semanggi. Dalam syair puisi-nya Ikhwan menggambar kejadian-kejadian mengenai aksi-aksi mahasiswa dan masyarakat dalam menentang pemerintahan transisi di mana masyarakat tidak percaya pada pemerintahan orang-orang bekas Orde Baru.

Kekuatan militer dipamerkan berhadapan dengan mahasiswa dan masyarakat sipil. Tongkat bambu, gas air mata, kawan berduri, water canon, balikade kawat duri, dan sebagainya. Pada setiap lembar halaman antologi puisi dilengkapi dengan foto-foto aksi mahasiswa dan masyarakat pada saat demonstrasi. Sebagai seorang wartawan Ikwan selalu membawa kamera sehingga dapat mengabadikan peristiwa-peristiwa Tragedi Semanggi.

W. Ikhwan Purnama (wawan) lahir pada 21 Februari 1970 di Jakarta. Besar di ibu kota negara  memberikan pengalaman yang luas untuk kejadian-kejadian di Jakarta. Dalam pendidikan, setelah selesai pendidikan tingkat SLTA, melanjutkan studi di Fakultas Hukum Universitas Jakarta.

Sekitar tahun delapan puluhan ia bergabung dengan Bengkel Deklamasi pimpinan penyair kondang Jose Rizal Manua. Dari situlah ia banyak belajar tentang bagaimana menulis puisi dengan baik. Tahun 1995 ia menjadi abdi negara. Saat terjadi demonstrasi besar-besaran di Jakarta pada tahun 1998, ia juga sempat turun dan mengabadikan peristiwa tersebut dengan kamera yang selalu ia bawa.

Hasilnya lalu ia sandingkan di dalam buku antologi-nya. Beberapa puisi-nya juga pernah dimuat di Harian Pos Metro (Jawa Post Group), dan Majalah Dwi Mingguan Derap Reformasi. Dalam menulis, ia Kemudian juga menyiapkan buku kumpulan cerita pendek. Buku antologi Puisi Asmara dan Tragedi Semanggi diterbitkan oleh penerbit Gama Media di Yogyakarta tahun 2003.

Isi buku terdiri dari 19 puisi, dengan bentuk baris tulisan rata kiri secara keseluruhan. Jumlah bait paling banyak empat dalam satu puisi, sedangkan baris lirik dalam satu bait memuat, empat baris, lima baris, dan enam baris syair. Berikut cuplikan puisi Asmara dan Tragedi Semanggi.

ASMARA DAN TRAGEDI SEMANGGI

Asmaraku tumbuh
Bersama pasta gigi dibawa alis matamu
Desing peluru dan perihnya gas air mata
Lari kau dalam kerumunan tiarapku
Terpesona aku memandangi peluhmu

Asmaraku tumbuh
Bersama bom molotov dan batu-batu berterbangan
Ribuan manusia saling menghujat tak henti
Di mana kau, ketika tentara memukuli anak bangsa?
Takutku datang, kau hilang tak terpandang

Asmaraku tumbuh
Menerobos barikade mencari bayangmu
Cahaya rembulan muncul perlahan
Revolusi lenyapkan jejakmu di gelap malam
Lelahku bersandar pada tameng yang garang

Asmaraku tumbuh
Di mana kau, saat Bendungan Hilir diam damai
Gerimis sepi saksikan kesendirianku
Itu bukan mimpi aku rindu kepadamu
Oh asmara....., ku tunggu kau di bawah jembatan Semanggi.

Oleh: W. Ikhwan Purnama, Semanggi 1998.

ASMARA REVOLUSI

Aku bawa kau pergi berlari
Melangkahi manusia entah sekarat atau mati
Melompat pada gerbang kampus Atma Jaya
Peluhmu menusuk aroma kerinduan

Revolusi telah berakhir
Taburkan sejuta bunga berkabung
Tak ada lagi artileri kawat berduri
Tapi aku belum puas menatap wajahmu

Revolusi itu asmara kita
Bersama musnahnya dirimu
Biarlah aku tunggu kau peringati hari ini
Entah kapan aku tak peduli
Rinduku tergantung di bawah jembatan Semanggi.

Oleh: W. Ikhwan Purnama, Semanggi 1998.

BULAN PADAHAL SATU

Bulan padahal satu
Sorot matanya saksikan setiap gerak
Menyebarkan sinar ke sudut-sudut kota di bumi
Silaunya masuk kedalam jiwa, perih, pedih, mengiris
Lingkaran aurora mengitar melindungi dari awan kelam

Bulan padahal satu
Yogyakarta tenggelam berganti rintihan gerimis
Jakarta bulat menyala Januari pertama
Semarang sabit, seperti arit gembala pembantai rumput
Kuta, Denpasar, Sanur, aku tak tahu sesuai bom

Bulan padahal satu
Seringkali dijadikan saksi remaja tersentuh asmara
Di pinggir-pinggir danau, di sela-sela pepohonan
Menerobos, menghujam, menyentuh jantung berdetak
Bulan itu satu, menggantung tak bertiang.

Oleh: W. Ikhwan Purnama, Slipi 2003.

ANGIN ADALAH KITA

Pada angin kita berangkat pergi
Menuju arah cakrawala terbang rendah
Sore sekali kita sampai pada batas bayangan
Biar saja, terlambat pun tak apa di tujuan

Pada angin kita beranjak pulang
Memeluk hangatnya tanah kelahiran
Sebab hujan emas di negeri orang
Tak seindah cerita hujan batu di negeri
Sendiri.

Oleh: W. Ikhwan Purnama, Slipi 2000. 

Oleh: Rama Saputra
Editor. Desti. S.Sos.
Fotografer. Dadang Saputra.
Sumber dan Hak Cipta: W. Ikhwan Purnama. Asmara dan Tragedi Semanggi. Yogyakarta: Gama Media, 2003.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com. idline: Apero Fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment