6/17/2019

Arip Riko. Sayatan Sukma


Biarkan mimpi berakhir, bangulah dari tidur panjang ini. Tidur yang tidak semestinya disiang seperti ini. Masih terlalu pagi untuk menyerah, bukan !!. Kita masih memiliki banyak waktu. Hidup sesingkat ini tidak untuk dihabiskan dalam luka, dalam gagal, dalam kesedihan. Hidup tidak mengenal luka, bagi yang telah dewasa. Bagi yang memiliki kepercayaan pada takdir Allah.

Kemarin telah berlalu kawan, hari ini juga hampir berlalu, dan esok adalah hal yang kita nantikan. Diantara kepak-kepak langkah yang menapak. Di ujung waktu yang tanpa pintu. Aku berusaha berlari mengejar waktu. Hampir tidak dapat aku sadari, bahwa aku telah tertebas oleh pedang waktu. Aku terkapar dalam netapa kehidupan. Aku meluncur tanpa kendali di lorong waktu. Entah mengapa aku begitu tidak berdaya, dan begitu terlena. Aku ingin kembali tegar dalam pergulatan hidup. Melahirkan prestasi yang cukup baik dan cukup membanggakan. Namun tidak semuda yang aku bayangkan, sehingga hanggar telah penuh oleh pelu dan ratapan. Kawan-kawan dapatkah kalian mengerti tentang aku. Bila kalian mengerti, tolong sedikit bantu untuk menjahit bekas sayatan itu. Sehingga aku dapat kembali berdiri bersama kalian, dalam menggapai cita-cita. Dapatkah kita bebas dari belenggu ketidak pastian ini. Dapatkah kita habiskan semua ketidakberuntungan itu. Dan menulis sendiri takdir kita, menggambar sendiri jalan kita, serta memilih yang hanya kita sukai saja. Dapatkah kita melakukan itu. Tapi, apakah dengan demikian dunia akan menjadi syurga?. Apakah dengan demikian kita akan bahagia?. Dapatkah kalian menjawab, sebagian saja pertanyaan sukmaku itu. Dapatkah kalian menjelaskan tentang semua itu. Kering kerontang dalam luasnya padang pasir. Tanpa atap, tanpa air, dan tanpa makanan. Andai takdir dapat kita tulis sendiri, mungkin kita tidak perlu untuk menderita lagi.
    Dalam jawaban hidup, tiadalah pernah kita ketahui. Kita hanya perlu melangkah dan melangkah. Biarkan bait-bait sajak atau puisi berlantunan tentang kemolekan atau keburukan. Tetap kita harus berjalan dalam sinar iman dan kebijakan. Walau sukma kita tersayat atau terluka. Padamu kawan, aku mengadu dengan jalan yang tanpa kompas. Tetapi kita tetap dalam semangat iman dan cita-cita. 

Sayatan Sukma

Bagaimana bisa sedih,
Jika daun-daun pada pepohonan tetap hijau.
Jika burung tetap berkicau merdu
Jika langit tetap biru kemilaunya.
Tanah bisa tetap kau pijak
Kau susupkan telapak kaki tanpa alas
Pada dinginya air mengalir.

Bagaimana bisa
Jika teman sejiwa, mendekap dengan kata-kata.
Jika daun teh masih bisa dibeli murah.
Jika kakak beradik tak henti canda tawa.

Kau tak sedang menghisap tembakau
Kau hanya bunga yang tak disiram tuannya
Namun dibasahi air hujan
Berbahagialah, berbahagialah
Karena senja tetap saja kuning keemasan.

Oleh. Arip Riko.
Palembang, 13 November 2018.
Sumber foto. Apero Fublic.

Sekilas tentang penyair. Dia seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Pada Fakultas Adab dan Humaniora, bidang studi Sejarah Peradaban Islam. Arip lahir di Kota Palembang pada tahun 1995. Mahasiswa smester akhir ini, sekarang sedang menyelesaikan tugas akhirnya, skripsi. Arip memiliki hobi membaca, dan memiliki minat tinggi pada dunia seni. Sehingga saat bersama teman-temannya dia suka bermain gitar atau menulis puisi. Baginya hidup harus dinikmati, jangan disesali. Hal yang berlalu biarlah berlalu, dan biarlah mengalirlah seperti air. Dalam duni kepenyairan, dia berpendapat bahwa, syair itu hadir dari jiwa yang terdalam. Apabila jiwanya terluka, maka akan muncul syair yang berlumuran dara dan air mata. Arip dijuluki, penyair senyap malam. Dia bergerak bagai bayangan di malam hari, dan hadir tanpa diketahui. Salam, sastra kita.

Editor. Joni Apero.
Kategori. Syarce Fiksi
Catatan:
Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama:
Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional,  quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya. Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim. Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero FublicwhatsApp: 081367739872. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment