Kampus
Mahasiswi
Medan
Pendidikan
Ojek Mahasiswa: Antara Peluang Penghasilan dan Tantangan Akademik
APERO FUBLIC I Di tengah kebutuhan mahasiswa yang semakin beragam, mencari penghasilan tambahan selama kuliah menjadi pilihan bagi sebagian mahasiswa. Salah satu bentuknya adalah menjadi driver pada komunitas Ojek Mahasiswa (OMH) UNIMED. Berdasarkan hasil observasi yang kami lakukan, ojek mahasiswa bukan hanya menjadi sarana untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar berkomunikasi, menggunakan teknologi, mengatur keuangan, dan berinteraksi dengan mahasiswa lainnya.
Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan, terutama berkaitan dengan tanggung jawab akademik
Menurut saya, keberadaan Ojek Mahasiswa merupakan suatu peluang yang cukup positif bagi mahasiswa.
Dengan menjadi driver, mahasiswa dapat memperoleh penghasilan tambahan sekaligus tetap menjalani aktivitas perkuliahan. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari hasil observasi, pendapatan driver dapat mencapai sekitar Rp250.000 per hari.
Namun, jumlah tersebut merupakan pendapatan kotor karena masih harus dikurangi biaya bensin dan biaya lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan sebagai driver memang dapat membantu secara finansial, tetapi penghasilan yang diperoleh tidak sepenuhnya menjadi keuntungan.
Selain memberikan peluang ekonomi, kegiatan Ojek Mahasiswa juga menunjukkan pentingnya literasi digital. Para driver menggunakan grup WhatsApp sebagai media komunikasi dan pemesanan, sementara media sosial seperti Instagram digunakan untuk memperkenalkan komunitas.
Menurut saya, kemampuan menggunakan teknologi menjadi hal yang sangat penting karena hampir seluruh aktivitas ojek mahasiswa berkaitan dengan komunikasi dan informasi digital. Tanpa kemampuan tersebut, proses menerima pesanan, berkomunikasi dengan pelanggan, maupun berkoordinasi dengan sesama driver akan menjadi lebih sulit.
Namun, menjadi driver mahasiswa juga tidak selalu berjalan dengan lancar. Salah satu persoalan yang kami temukan adalah adanya risiko kerugian dalam menerima pesanan. Misalnya, ketika driver membeli makanan terlebih dahulu untuk pelanggan, tetapi pelanggan tidak memberikan kabar ketika makanan akan diantarkan.
Ada juga kondisi ketika pelanggan membatalkan pesanan setelah driver sudah menuju lokasi penjemputan. Situasi seperti ini tentu dapat merugikan driver karena waktu, tenaga, bensin, bahkan uang pribadi telah digunakan untuk memenuhi pesanan.
Menurut saya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang menjalankan pekerjaan ini perlu memiliki literasi finansial yang baik. Mendapatkan penghasilan saja tidak cukup.
Mahasiswa juga perlu mampu memperhitungkan biaya operasional, risiko kerugian, serta membedakan antara pendapatan kotor dan pendapatan yang benar-benar dapat digunakan. Dengan demikian, pekerjaan sebagai driver dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa menimbulkan masalah keuangan baru.
Hal yang paling perlu menjadi perhatian adalah hubungan antara pekerjaan dan pendidikan. Dari hasil observasi, terdapat driver mahasiswa yang terkadang tertinggal beberapa pelajaran karena terlalu sibuk mencari penghasilan tambahan.
Menurut saya, inilah tantangan terbesar dari keberadaan Ojek Mahasiswa. Mencari uang untuk memenuhi kebutuhan memang penting, tetapi tujuan utama mahasiswa tetaplah menyelesaikan pendidikan. Jangan sampai pekerjaan yang awalnya bertujuan membantu kebutuhan kuliah justru membuat proses perkuliahan terganggu.
Saya tidak berpendapat bahwa mahasiswa seharusnya berhenti bekerja sebagai driver. Sebaliknya, pekerjaan tersebut dapat menjadi pengalaman yang berharga apabila dilakukan dengan pengaturan waktu yang baik.
Mahasiswa dapat menentukan waktu bekerja di luar jadwal kuliah, menetapkan batas waktu bekerja, dan tetap menjadikan kegiatan akademik sebagai prioritas. Dengan begitu, pekerjaan dan pendidikan dapat berjalan secara seimbang.
Pada akhirnya, Ojek Mahasiswa bukan hanya tentang mengantarkan penumpang atau mendapatkan penghasilan. Di dalamnya terdapat proses belajar yang berkaitan dengan teknologi, keuangan, komunikasi, tanggung jawab, dan kehidupan sosial.
Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesadaran bahwa pendidikan tetap merupakan bagian penting dari perjalanan mahasiswa. Bagi saya, menjadi driver mahasiswa bukanlah masalah selama pekerjaan tersebut dapat dikelola dengan baik dan tidak membuat mahasiswa kehilangan kesempatan untuk belajar.
Penghasilan dapat membantu kehidupan mahasiswa hari ini, tetapi pendidikan juga menjadi bekal untuk kehidupan mereka di masa depan.
Oleh: Ayu Revalina Pasaribu
Mahasiswi Pendidikan Masyarakat, Universitas Negeri Medan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment