Biologi
Fauna
Mahasiswi
Pendidikan
Mahasiswa Biologi dalam Mencegah Risiko Wabah Penyakit Pascabencana
Sumber: Badan Riset dan Inovasi Nasional (2026)
APERO FUBLIC I Bencana alam tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga dapat mengubah kondisi lingkungan yang meningkatkan risiko penularan penyakit. Peneliti BRIN menjelaskan bahwa banjir, tsunami, maupun kekeringan dapat mengubah habitat serta distribusi vektor dan reservoir penyakit sehingga kontak dengan manusia meningkat.
Kondisi tersebut disebut sebagai amplifikasi ekologi, yaitu keadaan ketika perubahan lingkungan membuat risiko perkembangan penyakit semakin besar. Penyakit yang berpotensi meningkat setelah perubahan lingkungan tersebut antara lain demam berdarah dengue (DBD), malaria, leptospirosis, dan salmonelosis.
Risiko tersebut bukan sekadar persoalan kesehatan setelah bencana, tetapi juga menjadi masalah kewarganegaraan karena masyarakat memiliki hak untuk memperoleh lingkungan yang sehat sekaligus tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan melindungi kesehatan bersama.
Kementerian Kesehatan, misalnya, mengingatkan bahwa leptospirosis perlu diwaspadai setelah banjir karena bakteri Leptospira dapat menyebar melalui air, lumpur, atau tanah yang terkontaminasi urine hewan terinfeksi, terutama tikus. Kemenkes juga menekankan pentingnya surveilans, pelaporan cepat, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dalam mencegah peningkatan kasus.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa Biologi dapat mengambil peran melalui pengetahuan yang dimilikinya mengenai mikroorganisme, hewan pembawa penyakit, ekologi, dan hubungan antara organisme dengan lingkungannya.
Peran tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi kepada masyarakat mengenai cara menghindari paparan air atau lumpur yang berisiko, pemantauan keberadaan vektor dan reservoir, pengamatan perubahan kondisi lingkungan, serta penyampaian informasi kesehatan yang berdasarkan bukti ilmiah.
Contoh konkretnya terlihat di Kota Yogyakarta, ketika Dinas Kesehatan mencatat enam kasus leptospirosis hingga Februari 2026 dan mendorong masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menjaga kebersihan lingkungan.
Menurut saya, mahasiswa Biologi tidak harus menunggu menjadi tenaga kesehatan atau peneliti profesional untuk berkontribusi dalam persoalan tersebut. Mahasiswa dapat menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dan masyarakat dengan melakukan edukasi, pengamatan lingkungan, penelitian sederhana, serta membantu menyebarkan informasi yang benar ketika terjadi bencana.
Upaya tersebut penting karena pencegahan penyakit tidak hanya bergantung pada pengobatan setelah seseorang sakit, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengenali faktor risiko sejak awal.
Dengan memanfaatkan ilmu Biologi untuk membantu masyarakat memahami hubungan antara perubahan lingkungan, hewan pembawa penyakit, dan kesehatan manusia, mahasiswa dapat menjalankan tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat sekaligus berkontribusi dalam menghadapi persoalan kesehatan lingkungan.
Penulis: Cintya Dea Orvala
Mahasiswi Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Biologi

Post a Comment