Biologi
Kampus
Opini
Pendidikan
Bukan Sekadar Satwa: Menjaga Keanekaragaman Hayati sebagai Tanggung Jawab Warga Negara
Sumber : kehutanan.go.id
APERO FUBLIC I Seekor Gajah Sumatera ditemukan mati di Kabupaten Pelalawan, Riau, pada Februari 2026 dengan kondisi kepala terpisah dan kedua gadingnya hilang. Dari kasus tersebut, aparat kemudian mengungkap jaringan perburuan satwa liar lintas provinsi dan menetapkan 15 orang sebagai tersangka, sementara tiga lainnya masih dalam daftar pencarian orang.
Gajah Sumatera yang menjadi korban bukan sekadar kehilangan satu individu dari alam. Satwa yang berstatus Critically Endangered atau kritis ini merupakan bagian dari ekosistem yang keberadaannya turut menjaga keseimbangan alam. Ketika seekor satwa dibunuh demi keuntungan, yang hilang sebenarnya bukan hanya nyawa seekor hewan, tetapi juga sebagian dari kekayaan hayati Indonesia.
Peristiwa tersebut seharusnya membuat kita bertanya kembali tentang arti menjadi warga negara dan bagaimana seharusnya kita memperlakukan kekayaan alam yang menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Selama ini, kewarganegaraan sering dipahami melalui hal-hal yang dekat dengan kehidupan sosial dan pemerintahan, padahal menjaga lingkungan juga merupakan bentuk tanggung jawab sebagai bagian dari sebuah negara. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian dari identitas sekaligus sumber kehidupan masyarakat.
Karena itu, membiarkan satwa dilindungi terus diburu sama saja dengan membiarkan salah satu kekayaan negara perlahan hilang. Penegakan hukum tentu penting untuk memberikan perlindungan dan menindak pelaku, tetapi persoalan konservasi tidak akan selesai hanya dengan menangkap pelaku setelah kejahatan terjadi.
Dibutuhkan kepedulian dan partisipasi masyarakat agar perlindungan terhadap satwa tidak berhenti sebagai aturan di atas kertas. Kementerian Kehutanan sendiri menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat dalam perlindungan satwa liar. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan melalui edukasi, dukungan terhadap kegiatan konservasi, hingga keterlibatan langsung dalam kegiatan pelestarian lingkungan.
Di sinilah mahasiswa Biologi memiliki ruang untuk mengambil bagian. Pengetahuan tentang makhluk hidup, ekosistem, dan keanekaragaman hayati tidak seharusnya berhenti sebagai materi perkuliahan atau sekadar memenuhi laporan praktikum.
Mahasiswa dapat terlibat sebagai volunteer dalam kegiatan konservasi, membantu pemantauan satwa, pemulihan habitat, hingga edukasi di lembaga-lembaga konservasi. Dalam pendampingan tenaga ahli, mahasiswa juga dapat mendukung program pelestarian dan pengembangbiakan satwa untuk mempertahankan populasi spesies yang terancam.
Keterlibatan semacam ini menjadi bentuk nyata bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat memberi manfaat bagi kehidupan dan keberlanjutan keanekaragaman hayati. Kontribusi tersebut mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan luasnya persoalan perburuan satwa, tetapi konservasi memang tidak selalu dimulai dari tindakan yang besar. Ia dapat dimulai dari kesediaan untuk hadir, belajar, dan ikut menjaga apa yang masih tersisa.
Pada akhirnya, menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tentang menyelamatkan satwa dari kepunahan, tetapi juga tentang menjaga kekayaan yang menjadi bagian dari kehidupan bersama dan menentukan apa yang masih dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Seekor gajah yang mati mungkin hanya tampak sebagai satu peristiwa, tetapi di baliknya ada persoalan yang lebih besar tentang hubungan manusia dengan alam dan tanggung jawab kita terhadapnya.
Bagi mahasiswa Biologi, memahami kehidupan seharusnya berjalan beriringan dengan upaya untuk mempertahankannya. Sebab ilmu tentang kehidupan tidak seharusnya hanya mengajarkan kita bagaimana kehidupan berlangsung, tetapi juga mendorong kita untuk ikut menjaganya.
Penulis : Aqmariana Nayla Izzati
Mahasiswa Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Biologi

Post a Comment