Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Ubah Limbah Jadi Berkah, Mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo
APERO FUBLIC I SEMARANG.— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Inisiatif Terpadu (KKN MIT) ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 53 menggelar sosialisasi pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi di TK Pertiwi 01, yang beralamat di Desa Brongkol,
Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Rabu (26/8/2026). Kegiatan ini menyasar wali
murid TK Pertiwi 01 sebagai upaya mengurangi limbah rumah tangga sekaligus
mengubahnya menjadi produk yang bernilai guna.
Sosialisasi disampaikan melalui tiga metode, yaitu pemaparan materi, demonstrasi, dan
praktik langsung. Para wali murid tidak hanya mendengarkan materi mengenai bahaya
membuang minyak jelantah sembarangan, tetapi juga diajak mempraktikkan sendiri cara
mengolahnya menjadi lilin aromaterapi.
Program ini menjadi salah satu program kerja
unggulan KKN MIT Posko 53 dalam mendorong masyarakat mengelola limbah rumah tangga secara mandiri dan bernilai ekonomis. Guru TK Pertiwi 01 Fani mengatakan, kegiatan ini merupakan hal baru bagi sekolah karena sebelumnya belum pernah ada program serupa.
"Menurut saya bagus, karena sebelumnya dari sekolah itu memang belum ada program yang seperti itu, jadi ibu-ibu juga senang jadi tahu manfaatnya," ujarnya. Ia menambahkan, antusiasme wali murid terlihat jelas hingga akhir kegiatan.
"Pas selesai juga pada senang, 'ini bu, aku buat ini', diperlihatkan ke saya," katanya.
Bu Fani berharap sekolah dapat melanjutkan dan mendalami program pengelolaan limbah
semacam ini di kemudian hari.
"Kami berterima kasih pada KKN karena sudah memberi materi yang seperti ini. Mungkin nanti dari sekolah bisa membuat program, untuk
kedepannya lebih mendalami lagi," ujarnya.
Kesan positif juga disampaikan Wali Murid TK Pertiwi 01, Bu Wahyu, yang mengaku
sebelumnya hanya membakar atau membuang minyak jelantah bekas memasak di rumah.
"Sering dibuat bakar sampah dan dibuang," ungkapnya.
Menurutnya, kegiatan ini membuka
wawasan baru soal pemanfaatan barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
"Menambah pengalaman, lebih berkreatifitas menggunakan barang-barang yang sudah tidak
bisa digunakan menjadi lebih bermanfaat," katanya. Bu Wahyu bahkan mengaku tertarik untuk mencoba membuat lilin aromaterapi sendiri di rumah. Ia berharap kegiatan edukasi semacam ini terus berlanjut. "Semoga lebih banyak edukasi yang baru-baru buat ibu-ibu yang kurang pengalaman, kegiatan itu kan bisa
menambah wawasan, bisa buat tambah-tambah kalau dijual lumayan," tuturnya.
Melalui program ini, mahasiswa KKN MIT Ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 53
berharap masyarakat Desa Brongkol semakin sadar akan dampak buruk limbah minyak
jelantah dan mampu mengolahnya menjadi produk bermanfaat, seperti lilin aromaterapi, sehingga tercipta lingkungan yang lebih bersih sekaligus membuka peluang ekonomi baru
bagi warga.
Liputan: Tim KKN Posko 53
Tim KKN MIT Ke-22 Posko 53 UIN Walisongo Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment