Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Sosial Masyarakat
Sosiologi
Yogyakarta
Sudah Waktunya Berhenti Takut: Ini Sejarah Sesungguhnya di Balik Rumah "Berhantu" Paling Melegenda di Yogyakarta
APERO FUBLIC I Bagi banyak warga Yogyakarta, nama "Rumah Pocong Sumi" langsung memicu bulu kuduk berdiri. Bangunan tua di Kotagede ini kerap disebut angker, menjadi bahan cerita malam Jumat, bahkan menjadi tempat uji nyali. Tapi di balik julukan seram itu, tersimpan sejarah yang jauh lebih berharga daripada sekadar kisah hantu dan sudah saatnya kita berhenti menjadikan bahan takut-takutan semata.
Bangunan ini sebenarnya bernama “Omah Indische”, dibangun sejak tahun 1860 dengan arsitektur bergaya Eropa yang khas era kolonial, dan dikenal warga sebagai rumah bergaya Eropa dengan kisah mistis "Pocong Sumi" di baliknya.
Penghuni pertamanya bukan orang Belanda, melainkan pasangan suami istri Atmosudigdo, orang Jawa asli, mereka adalah saudagar kaya raya. Salah satu dari lima anak pasangan ini adalah Mohammad Rasjidi, yang menjadi Menteri Agama pertama Republik Indonesia.
Fakta ini penting karena mematahkan asumsi bahwa rumah bergaya Indis otomatis identik dengan "rumah Belanda yang berhantu". Justru sebaliknya, rumah ini adalah saksi bisu perjalanan sebuah keluarga Jawa yang melahirkan salah satu tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan dan pemerintahan Indonesia.
Sayangnya, narasi itu kalah populer dibanding cerita horor yang beredar dari Media Sosial. Penjaga Rumah Indische atau kerap dikenal dengan Pak Nono, menyatakan keprihatinannya.
Menurutnya, rumah bersejarah milik keluarga Rasjidi ini seharusnya tidak dijadikan objek horor, karena statusnya sebagai bukti keragaman budaya Kotagede jauh lebih layak diangkat. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk berfoto di rumah ini, karena rumah ini memiliki sudut bangunan yang indah.
Di banyak kota, bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial atau bangsawan lokal lebih sering "dijual" lewat cerita mistis daripada nilai historisnya. Padahal, arsitektur rumah semacam ini dengan ventilasi besar, dinding tebal, dan teras luas yang dirancang menyesuaikan iklim tropis adalah warisan pengetahuan tata ruang yang relevan dipelajari, bukan sekadar latar cerita seram.
Memang, tidak bisa dimungkiri julukan "Rumah Pocong Sumi" punya daya tarik tersendiri. Cerita mistis kerap menjadi pintu masuk yang menarik perhatian publik terhadap sebuah bangunan tua yang mungkin sudah dilupakan. Namun, permasalahannya, jika pintu masuk itu tidak pernah dilanjutkan dengan edukasi sejarah, publik hanya akan mengenal ketakutannya, tanpa pernah tahu nilai sejarah yang sesungguhnya.
Kotagede dikenal luas sebagai kawasan cagar budaya dengan kekayaan arsitektur Jawa-Indis yang unik. Rumah peninggalan keluarga Atmosudigdo ini semestinya menjadi salah satu titik penting wisata sejarah, bukan sekadar destinasi uji nyali.
Pemerintah daerah, pengelola cagar budaya, dan komunitas sejarah punya tanggung jawab untuk meluruskan narasi ini—memberi informasi yang seimbang di lokasi, alih-alih membiarkan mitos horor menjadi satu-satunya identitas yang melekat.
Rumah ini pantas dikenang bukan karena hantu bernama Sumi, melainkan karena pernah menjadi rumah bagi keluarga yang menyumbangkan salah satu putra terbaiknya bagi bangsa. Saatnya kita mengganti rasa takut dengan rasa ingin tahu dan menempatkan sejarah di depan, bukan di belakang cerita hantu.
Oleh: Okta Widi Ramadhani
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment