-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Cerita Kita Kampus NTT Opini Pendidikan Psikologi Sosial Masyarakat Sosiologi Yogyakarta Di Balik Surat Seorang Anak di Ngada NTT : Kemiskinan dan Jiwa yang Sunyi
Cerita Kita Kampus NTT Opini Pendidikan Psikologi Sosial Masyarakat Sosiologi Yogyakarta

Di Balik Surat Seorang Anak di Ngada NTT : Kemiskinan dan Jiwa yang Sunyi

Oleh: Lintang Putri Khoironnafi'a
PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
28 Sep, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

APERO FUBLIC  I  Ada berita yang selesai kita baca dalam hitungan menit, tapi entah kenapa terus tinggal di kepala.Begitu pula kisah YBR, anak sepuluh tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ia siswakelas IV SD. Sebelum meninggal, ia menulis surat untuk ibunya dalam bahasa Bajawa. Isinyabukan permintaan mainan atau uang jajan. Ia minta ibunya merelakan kepergiannya, tidakmenangis, tidak mencarinya, dan tidak merindukannya. Di bagian akhir surat, ia menggambarwajah yang sedang menangis.

Sehari sebelumnya, YBR sempat minta uang untuk membeli bukutulis dan pulpen. Nilainya hanya beberapa ribu rupiah. Tapi kondisi ekonomi keluarga membuatpermintaan sesederhana itu tak bisa dipenuhi. Tak lama setelah itu, ia ditemukan meninggal takjauh dari pondok bambu tempatnya tinggal bersama neneknya.

Saya tidak ingin membaca kisah ini hanya sebagai cerita tentang anak miskin yang tidak bisa belipulpen. Kalau kita berhenti di situ, kita hanya akan merasa sedih sebentar, lalu menutup beritadan kembali sibuk sendiri. Padahal, yang tersimpan di balik peristiwa ini jauh lebih besar. Ini soal kemiskinan, akses pendidikan, kesehatan mental, pola pengasuhan, layanan sosial, dankemampuan negara menjangkau anak-anak yang hidup jauh dari pusat layanan.

Semua bertemudi satu titik: seorang anak yang merasa tidak punya tempat untuk bercerita. Kemiskinan memang sering muncul dalam bentuk angka. Persentase, garis kemiskinan, jumlahpenerima bantuan, dan macam-macam indikator lain. Semua itu penting.

Tapi angka tidak pernah bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang dirasakan seseorang yang hidup di dalamnya. Bagi kita,sepuluh ribu rupiah mungkin hanya harga segelas kopi. Bagi keluarga yang sedang sulit, jumlahitu bisa menjadi pilihan yang berat.


Bagi seorang anak, buku dan pulpen bukan cuma alat belajar.Itu juga soal rasa percaya diri, soal ingin tampak sama seperti teman-teman, soal merasaditerima. YBR tinggal bersama neneknya sejak kecil. Ibunya hidup dalam keterbatasan, ayahnyatidak diketahui keberadaannya. Ia tumbuh di pondok sederhana bersama nenek yang sudah lanjut usia.

Dalam situasi seperti itu, permintaan kecil bisa terasa sangat besar. Karena itu, saya agak gelisah ketika ada yang menyimpulkan bahwa YBR meninggal hanya karena tidak dibelikan pulpen. Bunuh diri tidak pernah sesederhana satu penyebab.

KPAI sendirimenyebut kasus di Ngada perlu dilihat lebih luas, termasuk kemungkinan persoalan pengasuhan dan lingkungan sekolah, selain tekanan ekonomi. Kita terlalu sering mencari satu kambing hitam. Padahal, masalah anak sering datang bertumpuk. Ia bisa terlihat biasa saja di sekolah, tapi di rumah menanggung beban yang tidak pernah ia ceritakan.

Anak yang diam bukan berarti tidak ada masalah. Kadang justru sebaliknya. Persoalan kesehatan mental anak juga tidak bisa dianggap remeh. Pada Maret 2026, Kementerian Kesehatan menyampaikan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap sekitar tujuh juta anak.

Dari jumlah itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi, sementara 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan. Angka ini memang tidakberarti semua anak akan mengalami kondisi berat.

Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa persoalan ini nyata. Sayangnya, akses bantuan belum merata. Data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan menunjukkan pada 2022 rasio psikiater masih sekitar satu orang untuk 200 ribu penduduk, jauh dari ideal satu untuk 30 ribu.

Layanan kesehatan jiwa di puskesmas jugabelum tersedia merata. Di kota besar saja ini serius. Apalagi di daerah yang jauh dari pusatlayanan. Anak yang sedang bermasalah mungkin tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Orangtua belum tentu paham tanda-tandanya.

Guru belum tentu punya kemampuan mengenalinya. Akhirnya, masalah yang sebenarnya bisa ditangani justru dibiarkan tumbuh sendirian. Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Tapi kita perlu jujur, sekolah juga punya keterbatasan. 

Bayangkan seorang anak datang dengan masalah yang tidak bisa ia ceritakan. Ia tetap harus ikut pelajaran, mengerjakan tugas, menaati aturan, dan bergaul denganteman-temannya. Dari luar, semuanya tampak normal. Anak yang tiba-tiba pendiam mungkindianggap tidak banyak tingkah.

Anak yang nilainya turun dianggap malas. Anak yang sering menyendiri dianggap tidak suka bergaul. Padahal, perubahan-perubahan seperti itu bisa jadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Guru memang bukan psikolog. Mereka jugapunya beban pekerjaan sendiri.


Karena itu, yang dibutuhkan bukan menjadikan semua guru ahlikesehatan mental. Yang dibutuhkan adalah kepekaan dasar: tahu kapan harus bertanya, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus meminta bantuan tenaga profesional. Sekolah juga perlulebih hati-hati dalam memberi hukuman atau mempermalukan siswa di depan teman-temannya.

Bagi sebagian anak, pengalaman yang dianggap sepele oleh orang dewasa bisa meninggalkan luka yang dalam. Ada pula persoalan budaya yang sering luput. Kita masih sering mendengar kalimat seperti,"Jangan cengeng," "Kamu harus kuat," atau "Masalah begitu saja dipikirkan."

Mungkin maksudnya baik. Orang dewasa ingin anak tumbuh kuat. Tapi jika terlalu sering, anak bisabelajar bahwa menunjukkan kesedihan itu salah. Mereka memilih diam. Anak laki-laki khususnya sering dibebani anggapan bahwa menangis adalah tanda lemah. Anak yang takutdianggap penakut. Anak yang ingin bercerita dianggap mencari perhatian.

Padahal, meminta bantuan bukan berarti lemah. Justru anak perlu tahu bahwa ketika ia sedih, takut, bingung, atau tertekan, ada orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa langsung menyalahkan. Keluarga juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini. YBR diasuh neneknya sejak usia sekitar satu tahun tujuh bulan.

Ibunya tidak tinggal bersamanya, ayahnya tidak diketahui. Nenek yang merawatnya sudah lanjut usia. Situasi ini tidak bisa langsung dianggap kesalahan keluarga. Banyak orang tua harus meninggalkan anak karena bekerja, merantau, atau kondisi ekonomiyang tidak memungkinkan.

Tapi kondisi itu tetap menunjukkan satu hal: anak membutuhkan pendampingan tambahan. Anak yang tumbuh tanpa orang tua di sampingnya perlu orang dewasa lain yang bisa dipercaya. Bisa nenek, kakek, paman, bibi, guru, tetangga, atau kader.

Yang penting bukan siapa orangnya, tapi apakah anak itu punya seseorang yang bisa diajak bicara ketika masalah datang. Anak tidak seharusnya dipaksa dewasa terlalu cepat hanya karena keadaan.

Hal lain yang membuat kasus ini mengundang tanya adalah soal Program Indonesia Pintar. Dalam pemberitaan, YBR disebut terdaftar sebagai penerima PIP dan dananya telah ditransferpada September 2025. Tapi dana itu belum dimanfaatkan.

Pemerintah kemudian menjelaskanbahwa persoalan pencairan bantuan dalam kasus tersebut cukup kompleks. Di sini kita melihatmasalah yang lebih besar. Memiliki hak atas bantuan belum tentu berarti bisa langsungmenikmatinya. Ada rekening yang harus diaktifkan, dokumen yang harus disiapkan, proseduryang harus dipahami, dan informasi yang harus diketahui.


Bagi keluarga dengan akses cukup, itumungkin tidak terlalu sulit. Tapi bagaimana dengan anak yang tinggal bersama nenek berusia 80 tahun di daerah terpencil? Pertanyaannya bukan cuma, "Apakah bantuannya sudah diberikan?" Pertanyaan berikutnya adalah, "Apakah bantuan itu benar-benar sampai dan bisa dipakai olehanak yang membutuhkan?" Pola lain yang sering terjadi adalah kita baru datang setelah semuanya ramai.

Setelah kasus YBR menjadi perhatian publik, berbagai pihak memberikan respons. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian, dan lembaga terkait ikut angkat bicara. Respons seperti itu penting. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting: mengapa perhatian besar baru muncul setelah seorang anak meninggal? Ini bukan hanya soal YBR. 

Pola ini terjadi di banyak persoalan sosial. Sebuah masalah baru dianggap serius ketika sudah viral, masuk berita nasional, atau menimbulkan kemarahan publik. Padahal, pencegahan seharusnya bekerja sebelum ada korban. Anak yangbutuh pertolongan tidak seharusnya menunggu sampai kasusnya ramai. YBR juga bukan satu-satunya.

KPAI mencatat 46 kasus anak mengakhiri hidup pada 2023 dan 43 kasus pada 2024. Untuk 2025, sejumlah laporan mencatat sekitar 25–27 kasus, tergantung periode pencatatan. Angka itu belum menggambarkan seluruh persoalan kesehatan mental anak.

Tidak semua anak yang tertekan akan melakukan tindakan ekstrem, dan tidak semua kasusterlaporkan dengan cara yang sama. Karena itu, yang perlu kita perhatikan bukan hanya jumlah kematian. Yang lebih penting adalah anak-anak yang sedang bermasalah tapi tidak pernah mendapat bantuan.

KPAI juga menyebut kasus bunuh diri anak tidak bisa dilihat dari satu faktor. Perundungan, pola asuh, tekanan ekonomi, lingkungan, dan berbagai persoalan lain bisa saling berhubungan. Artinya, tidak ada solusi sederhana untuk masalah yang juga tidak sederhana.

Kalau kita ingin mencari jalan keluar, mungkin kita tidak perlu langsung memulai dari kebijakanbesar yang rumit. Kita bisa mulai dari orang-orang yang paling dekat dengan anak. Sekolah, misalnya. Layanan konseling jangan hanya menjadi tempat siswa datang setelah melanggar.

Pendampingan psikologis harus menjadi bagian dari keseharian sekolah. Kalau jumlah guru BKbelum cukup, guru kelas dan guru mata pelajaran bisa diberi pelatihan dasar untuk mengenali perubahan perilaku. Guru tidak harus menjadi psikolog.

Mereka hanya perlu tahu kapan harus bertanya, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus meminta bantuan profesional. Programteman sebaya juga bisa dikembangkan. Anak kadang lebih nyaman bercerita kepada teman seusianya.

Tentu teman sebaya tidak menggantikan guru atau psikolog, tapi bisa menjadi pintu awal. Puskesmas juga punya peran besar. Layanan kesehatan mental seharusnya tidak berhenti dirumah sakit kota. Puskesmas bisa menjadi pintu pertama yang lebih dekat dengan masyarakat.

Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja, misalnya, bisa dipakai untuk edukasi, skrining,dan konseling. Persoalannya tinggal bagaimana memastikan program itu benar-benar berjalandan bisa diakses anak-anak di daerah. Tim kesehatan puskesmas juga bisa bekerja sama dengansekolah.

Tidak harus selalu berupa acara besar. Diskusi kecil, pemeriksaan berkala, atau sesi tentang emosi dan kesehatan mental sudah cukup berarti. Anak perlu tahu bahwa sedih, takut, atau bingung bukan hal memalukan. Dan yang paling penting, mereka harus tahu ke mana harus meminta bantuan.

Keluarga dan masyarakat juga tidak bisa diam. Banyak orang tua hanya meneruskan pola asuh yang mereka terima dulu. Karena itu, edukasi sederhana perlu: bagaimana mendengarkan anak, bagaimana merespons ketika anak menangis, bagaimana mengenali perubahan perilaku, dan bagaimana mengajak anak bicara tanpa membuatnya merasa diinterogasi.

Kepala desa, kader, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan keluarga besar bisa menjadi jaringan perlindunganpertama. Mereka tidak harus menjadi psikolog. Mereka hanya perlu lebih peka. Pada akhirnya, yang membuat kisah YBR menyakitkan bukan harga pulpennya.

Harganya hanya beberapa ribu rupiah. Yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa di balik benda sederhana itu ada seorang anak yang sedang menghadapi masalah besar, tapi tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Anak sepuluh tahun seharusnya memikirkan pelajaran, bermain bersama teman, mengejar cita-cita, atau memilih makanan kesukaan. Ia tidak seharusnya memikirkan bagaimana menghadapi hidup sendirian.

Kita tidak boleh menyederhanakan kasus ini, tapi kita juga tidakboleh diam. Kasus YBR bukan sekadar berita tentang seorang anak di desa di Ngada. Ini peringatan bagi kita semua. Ada anak-anak di dekat kita yang mungkin tidak pernah benar-benar didengar. Ada anak yang datang ke sekolah setiap hari, tapi tidak pernah ditanya, "Kamubaik-baik saja?" Deteksi dini tidak selalu butuh teknologi canggih. 

Kadang, yang dibutuhkan hanya satu orang dewasa yang cukup peduli untuk menyadari bahwa seorang anak sedang berubah. Sebuah pulpen memang murah. Tapi kesempatan menyelamatkan seorang anak tidak ternilai harganya. Jangan sampai kita baru menyadari nilainya setelah kesempatan itu hilang.

Oleh:  Lintang Putri Khoironnafi'a
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, UPN "Veteran" Yogyakarta. 
Editor. Tim Redaksi

Sy. Apero Fublic

Via Cerita Kita
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Lestarikan Budaya Lokal, SMP Negeri 4 Prambanan Gelar Outing Kelas Permainan Tradisional di Tebing Breksi

Lestarikan Budaya Lokal, SMP Negeri 4 Prambanan Gelar Outing Kelas Permainan Tradisional di Tebing Breksi

Tuesday, September 08, 2026
Dari Ragu Menjawab hingga Berani Menawarkan Karya: PEDAL JUARA Perluas Ruang Belajar Siswa SMP Adisa

Dari Ragu Menjawab hingga Berani Menawarkan Karya: PEDAL JUARA Perluas Ruang Belajar Siswa SMP Adisa

Monday, August 17, 2026
Bahas Batas Muba–Muaro Jambi, Wabup Rohman Tegaskan Pemkab Muba Tetap Berpedoman Permendagri 126/2017

Bahas Batas Muba–Muaro Jambi, Wabup Rohman Tegaskan Pemkab Muba Tetap Berpedoman Permendagri 126/2017

Thursday, September 10, 2026
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Pembekalan Calon Transmigran dengan Pertanian Berkelanjutan melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

PT. Media Apero Fublic- Sunday, September 27, 2026 0
Pembekalan Calon Transmigran dengan Pertanian Berkelanjutan melalui Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik
APERO FUBLIC   I  YOGYAKARTA.-   Balai Besar Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Transmigran (BBPPMT) Yogyakarta mengadakan ‘Pelatihan Calon Transmig…

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 20261982
  • 20251140
  • 2024217
  • 2023142
  • 2022105
  • 2021367
  • 2020435
  • 2019282
  • 20183

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Tengah Aceh Utara Alor Amerika Serikat Anambas Andai-Andai Angkat Besi Antropologi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua Australia BABEL Badan Pemerintah Bahasa Bali Banda Aceh Bandar Lampung Bandung Bangka Barat Bangka Belitung Bangkalan Bangkinang Banjarmasin Banjarnegara Bantaeng Banten Bantul Banyuasin Banyuwangi Batam Batang Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Bekasi Beladiri Belanda Belarusia Belu Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Bengkulu Selatan Berita Berita anggal Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biologi Bireuen Biruisme Bisnis Blitar BNN Bogor Bojonegoro Bola BOLMONGUT BOLTARA Bone Bosnia Boven Digoel BPD Brand Brazil Brebes Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Ciamis Cilegon Cililin Cina Dairi Daratan dan Hutan Deli Serdang Demak Depok Dompu Dongeng Dongeng Dunia DPD RI DPR RI DPRD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi IsIam Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai Event FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Flores Fotografi Gatget Geografi Gunungsitoli Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ideologi Ilmu Kesastraan Ilmu Sastra India Indragiri Hulu Indramayu Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jember Jembrana Jepang Jerman Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik Kabar Buku Kabar Desa KALBAR Kalimantan Utara KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolri Karanganyar Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kelautan Kendal Kepahiang Kepemimpinan Kepulauan Riau Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita Kesenian Ketapang Keuangan Kimia Kisah Legenda KKN Klaten Kolaka Konawe Selatan Korea Selatan Korupsi Kota Kota Bengkulu Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kulon Progo Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu LABURA Labusel Lahat Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lhokseumawe Lingkungan Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Magang Mahasiswa Mahasiswi Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Malinau Manado Mappi Marinir Mask Mataram Medan Media Sosial Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Mojokerto Morowali Morut Muara Dua Muara Enim Muaro Jambi MUBA Muratara Musi Rawas Musik Nasional Natuna Ngawi Nias Selatan NTB NTT Ogan Ilir OKI OKU OKU Selatan OKU Timur Olahraga Olaraga Opini Organisasi Ormas Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Pakpak Bharat Palangkaraya Palembang PALI Palopo Palu Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Papua Barat Daya Papua Selatan Papua Tengah Parigi Moutong Paringi Moutong Pariwisata Partai Pasaman Pasaman Barat Pasuruan PDF Pekalongan Pekanbaru Pelalawan Pematangsiantar Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perancis Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Perternakan Pesisir Selatan Peternakan Pidie Pinrang PKM Politik Pontianak Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi PPKn PPL Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purwokerto Purworejo Pustakawan PWI PWI SumSel Redaksi AF Renang Resensi Riau Rote Ndao Rusia Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen Sastra Modern SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Seluma Semarang Seminar SEMSEL Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Siak Sibolga Sidenreng Rappang Sidoarjo Sijunjung Silat Simalungun Singapura Singkawang Skil Wanita Sleman SMA Smart TV Solok Sorong Sosial Masyarakat Sosiologi Sport Sragen Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara Sukoharjo SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA Sumba Sumba Barat SUMBAR Sumber Air Sumedang Sumenep SUMSEL SUMUT Sungai Sungai Penuh Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Bumbu Tanah Datar Tangerang Tanjab Barat Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPTENG Teater Tebing Tinggi Tebo Tegal Teknologi Temanggung Tenaga Kerja Thailand TNI TNI AD TNI AL TNI Angkatan Laut TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi TTU UKM-Bisnis Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Lestarikan Budaya Lokal, SMP Negeri 4 Prambanan Gelar Outing Kelas Permainan Tradisional di Tebing Breksi
    APERO FUBLIC   I  SLEMAN.--  Sebuah kegiatan outing kelas bertajuk "Pelestarian Budaya Lewat Permainan Tradisional" s...
  • Dari Ragu Menjawab hingga Berani Menawarkan Karya: PEDAL JUARA Perluas Ruang Belajar Siswa SMP Adisa
    Sumber: pribadi/pedaljuara APERO FUBLIC   I  BEKASI.— Suasana di sekitar stan Bazaar Karya Juara perlahan berubah ketika siswa SMP Adisa mu...
  • Bahas Batas Muba–Muaro Jambi, Wabup Rohman Tegaskan Pemkab Muba Tetap Berpedoman Permendagri 126/2017
    APERO FUBLIC  I  JAKARTA.—   Pemkab Musi Banyuasin menegaskan tetap mempedomani dan memberlakukan Permendagri Nomor 126 Tahun 2017 s...
  • Mengenal Buah Raman
    APERO FUBLIC.- Buah raman atau dikenal juga dengan nama buah aman, dan gandario. Buah asli endemik Indonesia ini banyak tumbuh di pulau ...
  • Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series
    Goda Series e-Bike APERO FUBLIC.- Berbicara tentang e-Bike atau sepeda Listrik saat ini memang tidak ada habisnya. Kendaraan praktis tanp...
  • KKN MIT 22 Posko 202 UIN Walisongo Resmikan Fasilitas Pengolahan Sampah dan Briket Janggel Jagung di Desa Jatirejo
    APERO FUBLIC   I  KENDAL.–   Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo Semarang secara resmi mere...
  • Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly
    Sepeda Motor Listrik Produksi U^Winfly APERO FUBLIC.- U^Winfly merupakan Perusahaan Industrial pada sektor bergerak industri kendaraan list...
  • Kunjungi Kandang Bebek Pak Senari: KKN MIT 167 UIN Walisongo Intip Perjalanan Telur Bebek dari Kandang Hingga Pemasok
    APERO FUBLIC   I  KENDAL.-   Aktivitas peternakan bebek menjadi perhatian mahasiswa KKN MIT Posko 167 UIN Walisongo Semarang saa...
  • Warisan Leluhur yang Tetap Terjaga, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Mengenal
    APERO FUBLIC   I  KENDAL.–   Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Desa Wonotenggang, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal, m...
  • Hijaukan Lingkungan Desa, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama Masyarakat Wonotenggang Tanam Bibit Pohon
    APERO FUBLIC   I  KENDAL.–   Mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 167 bersama masyarakat Desa Wonotenggang, Keca...

Editor Post

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Mengenal Pohon Serdang

Mengenal Pohon Serdang

Saturday, August 05, 2023
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba

MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba

Wednesday, December 06, 2023
Mata Cantik Aisyah Part III: Aisyah dan Geng Mio

Mata Cantik Aisyah Part III: Aisyah dan Geng Mio

Sunday, August 18, 2019

Popular Post

Lestarikan Budaya Lokal, SMP Negeri 4 Prambanan Gelar Outing Kelas Permainan Tradisional di Tebing Breksi

Lestarikan Budaya Lokal, SMP Negeri 4 Prambanan Gelar Outing Kelas Permainan Tradisional di Tebing Breksi

Tuesday, September 08, 2026
Dari Ragu Menjawab hingga Berani Menawarkan Karya: PEDAL JUARA Perluas Ruang Belajar Siswa SMP Adisa

Dari Ragu Menjawab hingga Berani Menawarkan Karya: PEDAL JUARA Perluas Ruang Belajar Siswa SMP Adisa

Monday, August 17, 2026
Bahas Batas Muba–Muaro Jambi, Wabup Rohman Tegaskan Pemkab Muba Tetap Berpedoman Permendagri 126/2017

Bahas Batas Muba–Muaro Jambi, Wabup Rohman Tegaskan Pemkab Muba Tetap Berpedoman Permendagri 126/2017

Thursday, September 10, 2026
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
KKN MIT 22 Posko 202 UIN Walisongo Resmikan Fasilitas Pengolahan Sampah dan Briket Janggel Jagung di Desa Jatirejo

KKN MIT 22 Posko 202 UIN Walisongo Resmikan Fasilitas Pengolahan Sampah dan Briket Janggel Jagung di Desa Jatirejo

Monday, September 07, 2026
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Kunjungi Kandang Bebek Pak Senari: KKN MIT 167 UIN Walisongo Intip Perjalanan Telur Bebek dari Kandang Hingga Pemasok

Kunjungi Kandang Bebek Pak Senari: KKN MIT 167 UIN Walisongo Intip Perjalanan Telur Bebek dari Kandang Hingga Pemasok

Thursday, August 06, 2026
Warisan Leluhur yang Tetap Terjaga, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Mengenal

Warisan Leluhur yang Tetap Terjaga, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Mengenal

Saturday, August 29, 2026
Hijaukan Lingkungan Desa, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama Masyarakat Wonotenggang Tanam Bibit Pohon

Hijaukan Lingkungan Desa, Mahasiswa KKN UIN Walisongo Bersama Masyarakat Wonotenggang Tanam Bibit Pohon

Saturday, August 29, 2026

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 72 Berita 1941 Berita Daerah 1818 Berita Internasional 45 Berita Nasional 1251 Brand 117 Budaya Daerah 41 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 70 Cerita Rakyat 12 Cerpen 33 Dongeng 67 Ekonomi 128 Elektronik 21 FASHION 14 Fauna 4 Flora 65 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 14 Islam dan Budaya 12 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Jurnalisme Kita 21 Kampus 1254 Kesehatan 53 Kisah Legenda 10 Kuliner 34 Mitos 15 Opini 716 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 59 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 7 Puisi 70 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 4 Sastra Kita 64 Sastra Klasik 55 Sastra Lisan 15 Sejarah Daerah 25 Sejarah Kebudayaan 29 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 8 Tablet 20 Teknologi 215 Tokoh Wanita 11 UKM-Bisnis 50 Video 19 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us