Cerita Kita
Kampus
NTT
Opini
Pendidikan
Psikologi
Sosial Masyarakat
Sosiologi
Yogyakarta
Di Balik Surat Seorang Anak di Ngada NTT : Kemiskinan dan Jiwa yang Sunyi
APERO FUBLIC I Ada berita yang selesai kita baca dalam hitungan menit, tapi entah kenapa terus tinggal di kepala.Begitu pula kisah YBR, anak sepuluh tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Ia siswakelas IV SD. Sebelum meninggal, ia menulis surat untuk ibunya dalam bahasa Bajawa. Isinyabukan permintaan mainan atau uang jajan. Ia minta ibunya merelakan kepergiannya, tidakmenangis, tidak mencarinya, dan tidak merindukannya. Di bagian akhir surat, ia menggambarwajah yang sedang menangis.
Sehari sebelumnya, YBR sempat minta uang untuk membeli bukutulis dan pulpen. Nilainya hanya beberapa ribu rupiah. Tapi kondisi ekonomi keluarga membuatpermintaan sesederhana itu tak bisa dipenuhi. Tak lama setelah itu, ia ditemukan meninggal takjauh dari pondok bambu tempatnya tinggal bersama neneknya.
Saya tidak ingin membaca kisah ini hanya sebagai cerita tentang anak miskin yang tidak bisa belipulpen. Kalau kita berhenti di situ, kita hanya akan merasa sedih sebentar, lalu menutup beritadan kembali sibuk sendiri. Padahal, yang tersimpan di balik peristiwa ini jauh lebih besar. Ini soal kemiskinan, akses pendidikan, kesehatan mental, pola pengasuhan, layanan sosial, dankemampuan negara menjangkau anak-anak yang hidup jauh dari pusat layanan.
Semua bertemudi satu titik: seorang anak yang merasa tidak punya tempat untuk bercerita. Kemiskinan memang sering muncul dalam bentuk angka. Persentase, garis kemiskinan, jumlahpenerima bantuan, dan macam-macam indikator lain. Semua itu penting.
Tapi angka tidak pernah bisa menjelaskan sepenuhnya apa yang dirasakan seseorang yang hidup di dalamnya. Bagi kita,sepuluh ribu rupiah mungkin hanya harga segelas kopi. Bagi keluarga yang sedang sulit, jumlahitu bisa menjadi pilihan yang berat.
Bagi seorang anak, buku dan pulpen bukan cuma alat belajar.Itu juga soal rasa percaya diri, soal ingin tampak sama seperti teman-teman, soal merasaditerima. YBR tinggal bersama neneknya sejak kecil. Ibunya hidup dalam keterbatasan, ayahnyatidak diketahui keberadaannya. Ia tumbuh di pondok sederhana bersama nenek yang sudah lanjut usia.
Dalam situasi seperti itu, permintaan kecil bisa terasa sangat besar. Karena itu, saya agak gelisah ketika ada yang menyimpulkan bahwa YBR meninggal hanya karena tidak dibelikan pulpen. Bunuh diri tidak pernah sesederhana satu penyebab.
KPAI sendirimenyebut kasus di Ngada perlu dilihat lebih luas, termasuk kemungkinan persoalan pengasuhan dan lingkungan sekolah, selain tekanan ekonomi. Kita terlalu sering mencari satu kambing hitam. Padahal, masalah anak sering datang bertumpuk. Ia bisa terlihat biasa saja di sekolah, tapi di rumah menanggung beban yang tidak pernah ia ceritakan.
Anak yang diam bukan berarti tidak ada masalah. Kadang justru sebaliknya. Persoalan kesehatan mental anak juga tidak bisa dianggap remeh. Pada Maret 2026, Kementerian Kesehatan menyampaikan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap sekitar tujuh juta anak.
Dari jumlah itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi, sementara 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak menunjukkan gejala kecemasan. Angka ini memang tidakberarti semua anak akan mengalami kondisi berat.
Tapi cukup untuk menunjukkan bahwa persoalan ini nyata. Sayangnya, akses bantuan belum merata. Data yang dikutip dari Kementerian Kesehatan menunjukkan pada 2022 rasio psikiater masih sekitar satu orang untuk 200 ribu penduduk, jauh dari ideal satu untuk 30 ribu.
Layanan kesehatan jiwa di puskesmas jugabelum tersedia merata. Di kota besar saja ini serius. Apalagi di daerah yang jauh dari pusatlayanan. Anak yang sedang bermasalah mungkin tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Orangtua belum tentu paham tanda-tandanya.
Guru belum tentu punya kemampuan mengenalinya. Akhirnya, masalah yang sebenarnya bisa ditangani justru dibiarkan tumbuh sendirian. Sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Tapi kita perlu jujur, sekolah juga punya keterbatasan.
Bayangkan seorang anak datang dengan masalah yang tidak bisa ia ceritakan. Ia tetap harus ikut pelajaran, mengerjakan tugas, menaati aturan, dan bergaul denganteman-temannya. Dari luar, semuanya tampak normal. Anak yang tiba-tiba pendiam mungkindianggap tidak banyak tingkah.
Anak yang nilainya turun dianggap malas. Anak yang sering menyendiri dianggap tidak suka bergaul. Padahal, perubahan-perubahan seperti itu bisa jadi tanda bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Guru memang bukan psikolog. Mereka jugapunya beban pekerjaan sendiri.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan menjadikan semua guru ahlikesehatan mental. Yang dibutuhkan adalah kepekaan dasar: tahu kapan harus bertanya, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus meminta bantuan tenaga profesional. Sekolah juga perlulebih hati-hati dalam memberi hukuman atau mempermalukan siswa di depan teman-temannya.
Bagi sebagian anak, pengalaman yang dianggap sepele oleh orang dewasa bisa meninggalkan luka yang dalam. Ada pula persoalan budaya yang sering luput. Kita masih sering mendengar kalimat seperti,"Jangan cengeng," "Kamu harus kuat," atau "Masalah begitu saja dipikirkan."
Mungkin maksudnya baik. Orang dewasa ingin anak tumbuh kuat. Tapi jika terlalu sering, anak bisabelajar bahwa menunjukkan kesedihan itu salah. Mereka memilih diam. Anak laki-laki khususnya sering dibebani anggapan bahwa menangis adalah tanda lemah. Anak yang takutdianggap penakut. Anak yang ingin bercerita dianggap mencari perhatian.
Padahal, meminta bantuan bukan berarti lemah. Justru anak perlu tahu bahwa ketika ia sedih, takut, bingung, atau tertekan, ada orang dewasa yang mau mendengarkan tanpa langsung menyalahkan. Keluarga juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan ini. YBR diasuh neneknya sejak usia sekitar satu tahun tujuh bulan.
Ibunya tidak tinggal bersamanya, ayahnya tidak diketahui. Nenek yang merawatnya sudah lanjut usia. Situasi ini tidak bisa langsung dianggap kesalahan keluarga. Banyak orang tua harus meninggalkan anak karena bekerja, merantau, atau kondisi ekonomiyang tidak memungkinkan.
Tapi kondisi itu tetap menunjukkan satu hal: anak membutuhkan pendampingan tambahan. Anak yang tumbuh tanpa orang tua di sampingnya perlu orang dewasa lain yang bisa dipercaya. Bisa nenek, kakek, paman, bibi, guru, tetangga, atau kader.
Yang penting bukan siapa orangnya, tapi apakah anak itu punya seseorang yang bisa diajak bicara ketika masalah datang. Anak tidak seharusnya dipaksa dewasa terlalu cepat hanya karena keadaan.
Hal lain yang membuat kasus ini mengundang tanya adalah soal Program Indonesia Pintar. Dalam pemberitaan, YBR disebut terdaftar sebagai penerima PIP dan dananya telah ditransferpada September 2025. Tapi dana itu belum dimanfaatkan.
Pemerintah kemudian menjelaskanbahwa persoalan pencairan bantuan dalam kasus tersebut cukup kompleks. Di sini kita melihatmasalah yang lebih besar. Memiliki hak atas bantuan belum tentu berarti bisa langsungmenikmatinya. Ada rekening yang harus diaktifkan, dokumen yang harus disiapkan, proseduryang harus dipahami, dan informasi yang harus diketahui.
Bagi keluarga dengan akses cukup, itumungkin tidak terlalu sulit. Tapi bagaimana dengan anak yang tinggal bersama nenek berusia 80 tahun di daerah terpencil? Pertanyaannya bukan cuma, "Apakah bantuannya sudah diberikan?" Pertanyaan berikutnya adalah, "Apakah bantuan itu benar-benar sampai dan bisa dipakai olehanak yang membutuhkan?" Pola lain yang sering terjadi adalah kita baru datang setelah semuanya ramai.
Setelah kasus YBR menjadi perhatian publik, berbagai pihak memberikan respons. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian, dan lembaga terkait ikut angkat bicara. Respons seperti itu penting. Tapi ada pertanyaan yang lebih penting: mengapa perhatian besar baru muncul setelah seorang anak meninggal? Ini bukan hanya soal YBR.
Pola ini terjadi di banyak persoalan sosial. Sebuah masalah baru dianggap serius ketika sudah viral, masuk berita nasional, atau menimbulkan kemarahan publik. Padahal, pencegahan seharusnya bekerja sebelum ada korban. Anak yangbutuh pertolongan tidak seharusnya menunggu sampai kasusnya ramai. YBR juga bukan satu-satunya.
KPAI mencatat 46 kasus anak mengakhiri hidup pada 2023 dan 43 kasus pada 2024. Untuk 2025, sejumlah laporan mencatat sekitar 25–27 kasus, tergantung periode pencatatan. Angka itu belum menggambarkan seluruh persoalan kesehatan mental anak.
Tidak semua anak yang tertekan akan melakukan tindakan ekstrem, dan tidak semua kasusterlaporkan dengan cara yang sama. Karena itu, yang perlu kita perhatikan bukan hanya jumlah kematian. Yang lebih penting adalah anak-anak yang sedang bermasalah tapi tidak pernah mendapat bantuan.
KPAI juga menyebut kasus bunuh diri anak tidak bisa dilihat dari satu faktor. Perundungan, pola asuh, tekanan ekonomi, lingkungan, dan berbagai persoalan lain bisa saling berhubungan. Artinya, tidak ada solusi sederhana untuk masalah yang juga tidak sederhana.
Kalau kita ingin mencari jalan keluar, mungkin kita tidak perlu langsung memulai dari kebijakanbesar yang rumit. Kita bisa mulai dari orang-orang yang paling dekat dengan anak. Sekolah, misalnya. Layanan konseling jangan hanya menjadi tempat siswa datang setelah melanggar.
Pendampingan psikologis harus menjadi bagian dari keseharian sekolah. Kalau jumlah guru BKbelum cukup, guru kelas dan guru mata pelajaran bisa diberi pelatihan dasar untuk mengenali perubahan perilaku. Guru tidak harus menjadi psikolog.
Mereka hanya perlu tahu kapan harus bertanya, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus meminta bantuan profesional. Programteman sebaya juga bisa dikembangkan. Anak kadang lebih nyaman bercerita kepada teman seusianya.
Tentu teman sebaya tidak menggantikan guru atau psikolog, tapi bisa menjadi pintu awal. Puskesmas juga punya peran besar. Layanan kesehatan mental seharusnya tidak berhenti dirumah sakit kota. Puskesmas bisa menjadi pintu pertama yang lebih dekat dengan masyarakat.
Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja, misalnya, bisa dipakai untuk edukasi, skrining,dan konseling. Persoalannya tinggal bagaimana memastikan program itu benar-benar berjalandan bisa diakses anak-anak di daerah. Tim kesehatan puskesmas juga bisa bekerja sama dengansekolah.
Tidak harus selalu berupa acara besar. Diskusi kecil, pemeriksaan berkala, atau sesi tentang emosi dan kesehatan mental sudah cukup berarti. Anak perlu tahu bahwa sedih, takut, atau bingung bukan hal memalukan. Dan yang paling penting, mereka harus tahu ke mana harus meminta bantuan.
Keluarga dan masyarakat juga tidak bisa diam. Banyak orang tua hanya meneruskan pola asuh yang mereka terima dulu. Karena itu, edukasi sederhana perlu: bagaimana mendengarkan anak, bagaimana merespons ketika anak menangis, bagaimana mengenali perubahan perilaku, dan bagaimana mengajak anak bicara tanpa membuatnya merasa diinterogasi.
Kepala desa, kader, tokoh masyarakat, tokoh agama, guru, dan keluarga besar bisa menjadi jaringan perlindunganpertama. Mereka tidak harus menjadi psikolog. Mereka hanya perlu lebih peka. Pada akhirnya, yang membuat kisah YBR menyakitkan bukan harga pulpennya.
Harganya hanya beberapa ribu rupiah. Yang menyakitkan adalah kenyataan bahwa di balik benda sederhana itu ada seorang anak yang sedang menghadapi masalah besar, tapi tidak diketahui oleh orang-orang di sekitarnya. Anak sepuluh tahun seharusnya memikirkan pelajaran, bermain bersama teman, mengejar cita-cita, atau memilih makanan kesukaan. Ia tidak seharusnya memikirkan bagaimana menghadapi hidup sendirian.
Kita tidak boleh menyederhanakan kasus ini, tapi kita juga tidakboleh diam. Kasus YBR bukan sekadar berita tentang seorang anak di desa di Ngada. Ini peringatan bagi kita semua. Ada anak-anak di dekat kita yang mungkin tidak pernah benar-benar didengar. Ada anak yang datang ke sekolah setiap hari, tapi tidak pernah ditanya, "Kamubaik-baik saja?" Deteksi dini tidak selalu butuh teknologi canggih.
Kadang, yang dibutuhkan hanya satu orang dewasa yang cukup peduli untuk menyadari bahwa seorang anak sedang berubah. Sebuah pulpen memang murah. Tapi kesempatan menyelamatkan seorang anak tidak ternilai harganya. Jangan sampai kita baru menyadari nilainya setelah kesempatan itu hilang.
Oleh: Lintang Putri Khoironnafi'a
Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, UPN "Veteran" Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment