Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Mahasiswa KKN MMK UIN Walisongo Semarang Gelar Edukasi Kerukunan & Lingkungan untuk Siswa SD di Dusun Porot
APERO FUBLIC I TEMANGGUNG.- Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata Modul Memberdayakan Komunitas (KKN MMK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang baru saja menyelesaikan program edukasi bertema kerukunan dan kepedulian lingkungan. Kegiatan ini menyasar para siswa Sekolah Dasar (SD) di Dusun Porot, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Proses belajar mengajar berlangsung setiap pekan dari hari Senin sampai Rabu, terhitung mulai tanggal 3 hingga 26 Agustus 2026.
Program ini merupakan salah satu rangkaian dari pengabdian mahasiswa yang tersebar di tiga dusun, yaitu Dusun Gletuk yang menjadi lokasi posko sekaligus tempat tinggal para mahasiswa, kemudian Dusun Krecek, dan Dusun Porot. Pemilihan SD 4 Getas yang berada di Porot bukan tanpa alasan. Sekolah ini menjadi satu-satunya SD yang menampung anak-anak dari ketiga dusun tersebut.
Pasalnya, di Gletuk dan Krecek tidak tersedia Sekolah Dasar. Sementara di Krecek memang ada PAUD, namun lembaga itu tidak masuk dalam sasaran program KKN. Dengan begitu, kegiatan ini secara otomatis menyentuh seluruh anak usia sekolah dasar yang berasal dari Gletuk, Krecek, dan Porot.
Mengapa program ini diadakan? Ada dua alasan utama. Pertama, soal keberagaman agama yang cukup unik. Di Gletuk dan Porot, masyarakatnya hidup berdampingan dalam tiga keyakinan, yaitu Buddha, Kristen, dan Islam, dengan jumlah yang relatif berimbang. Sementara di Krecek, situasinya berbeda.
Hampir seluruh warganya sekitar 99 persen-beragama Buddha, dan hanya ada sekitar tiga kepala keluarga yang beragama Islam. Kedua, ketiga dusun ini juga menghadapi persoalan lingkungan yang serupa. Tidak ada Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di wilayah tersebut. Bahkan, Gletuk kerap dilanda longsor, sehingga edukasi tentang lingkungan dirasa sangat mendesak.
Menurut penuturan salah satu mahasiswa KKN yang terlibat langsung dalam kegiatan ini, pendekatan yang digunakan dalam program tersebut bersifat bertahap. Materi kerukunan menjadi fondasi awal yang diberikan terlebih dahulu kepada semua siswa, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6. Barulah setelah seluruh jenjang menyelesaikan materi tersebut, mereka melanjutkan ke pembahasan tentang lingkungan.
"Menurut kami, pendidikan tentang karakter dan lingkungan itu penting banget diberikan sejak kecil biar nempel terus sampai mereka gede. Kondisi di lapangan juga beragam. Di Gletuk dan Porot, anak-anak udah terbiasa hidup dengan teman-teman yang beda agama, yaitu Buddha, Kristen, dan Islam. Nah di Krecek, mayoritas Buddha, cuma ada sedikit yang Islam. Jadi kami pengen banget nguatin nilai toleransi dulu sebelum ngomongin soal lingkungan. Apalagi Gletuk sering longsor, jadi edukasi lingkungan juga penting buat nyegah hal-hal yang enggak diinginkan," ujarnya di sela-sela kegiatan.
Sistem pelaksanaan program ini diatur bergiliran. Setiap hari, mahasiswa mendatangi satu jenjang kelas. Senin untuk kelas 1, Selasa kelas 2, Rabu kelas 3, dan seterusnya sampai semua kelas dari 1 sampai 6 mendapat giliran yang sama.
Dalam prosesnya, mereka nggak cuma ngasih materi ceramah. Ada berbagai metode lain, seperti mendongeng, main games, dan aktivitas interaktif lainnya, supaya anak-anak nggak gampang bosan dan pesan yang disampaikan bisa lebih mudah nyangkut di kepala mereka.
Saat membawakan materi kerukunan, para mahasiswa menekankan pentingnya saling menghargai. Nggak cuma soal agama, tapi juga perbedaan pendapat, hobi, atau latar belakang teman. Intinya, mereka ingin anak-anak sadar bahwa meskipun beda keyakinan, mereka tetap satu keluarga besar dan harus saling sayang.
Cerita-cerita inspiratif yang dekat dengan keseharian dipilih sebagai alat penyampai pesan. Mereka juga ngasih contoh dari kondisi nyata di dusun masing-masing, baik yang beragama seimbang maupun yang mayoritas, biar anak-anak makin paham kalau rukun itu kunci buat hidup bertetangga.
Beralih ke materi lingkungan, pembahasannya lebih fokus ke kebersihan dan pengelolaan sampah yang benar. Mahasiswa mengenalkan prinsip 3R, yaitu reduce, reuse, recycle, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak SD. Cara ini dipilih supaya sesuai dengan kenyataan yang ada di tiga dusun, yang mana semuanya nggak punya TPS.
Di sinilah fakta menarik muncul. Mahasiswa mendapati bahwa sebenarnya warga di Gletuk, Krecek, dan Porot udah punya kebiasaan baik dalam mengurus sampah. Sampah organik biasanya dikasih ke hewan ternak atau diolah jadi kompos. Sementara sampah nonorganik dibakar di lubang khusus.
Cuma sayangnya, masih ada sebagian warga yang nyampur semua sampah jadi satu lubang, dan cara itu bikin pembakaran kurang efektif bahkan bisa memicu polusi. Makanya, lewat program ini, mahasiswa berusaha menguatkan kebiasaan positif yang sudah berjalan sekaligus meluruskan kebiasaan yang keliru.
Nggak cuma teori, anak-anak juga diajak praktik langsung. Mereka mencoba mengubah sampah plastik bekas jadi kerajinan seperti celengan dan pot bunga. Tujuannya, supaya mereka sadar kalau sampah itu sebenernya masih punya nilai dan bisa disulap jadi barang bermanfaat.
Sepanjang kegiatan, antusiasme siswa benar-benar terlihat. Mereka aktif nanya, cerita tentang pengalaman di rumah, dan semangat banget pas sesi games dimulai. Suasana kelas jadi hidup, penuh canda dan tawa di setiap pertemuan.
"Kak, aku seneng banget kakak-kakak KKN mau dateng ke sini. Belajarnya seru, ada cerita lucu-lucu, main-main juga. Jadi nggak bosen," celetuk salah satu siswa kelas 4 dengan muka ceria.
Kepala SD 4 Getas, Ibu Yeni, juga nggak ketinggalan ngasih apresiasi. Menurut beliau, kehadiran mahasiswa KKN sangat membantu, terutama untuk mengajarkan toleransi antaragama dan edukasi lingkungan yang selama ini belum dapat porsi banyak dalam pelajaran di sekolah.
"Kami sangat berterima kasih sama adik-adik KKN yang udah pilih SD kami buat tempat ngabdi. Anak-anak selalu senang dan antusias kalau ada jadwal KKN. Apalagi mereka bisa belajar tentang kerukunan antaragama yang sangat cocok dengan kondisi sekolah dan dusun sekitar. Perlu diketahui, SD kami ini satu-satunya yang menampung anak-anak dari Gletuk, Krecek, dan Porot. Jadi, program ini bener-bener menyentuh semua anak dari tiga dusun. Semoga ilmu yang didapat bisa mereka terapkan sehari-hari, baik di sekolah, rumah, maupun di lingkungan masyarakat," ucap Ibu Yeni.
Program ini adalah salah satu bukti nyata peran mahasiswa dalam pembangunan SDM unggul sejak dini. Dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, mereka berhasil menyisipkan nilai-nilai moral dan cinta lingkungan ke dalam kegiatan yang nggak bakal gampang dilupakan oleh siswa SD 4 Getas.
Ke depannya, tim KKN berharap anak-anak nggak cuma paham materi, tapi juga bisa mengamalkannya dalam hidup sehari-hari. Apalagi dengan kondisi keberagaman di tiga dusun sasaran, nilai-nilai kerukunan yang udah ditanamkan diharapkan bisa memperkuat persaudaraan antar siswa dan warga. Sementara itu, edukasi lingkungan juga diharapkan bisa menambah kesadaran buat menjaga alam, termasuk mencegah longsor yang sering terjadi di Gletuk.
"Semoga kebiasaan baik ini terus berlanjut dan memberi pengaruh jangka panjang. Kelihatannya sih kecil, tapi kalau semua orang bergerak bareng, hasilnya pasti besar. Baik buat kerukunan antaragama maupun buat kelestarian lingkungan, termasuk soal longsor yang udah sering terjadi di Gletuk," pungkas salah satu mahasiswa KKN.
Dengan berakhirnya program pada 26 Agustus 2026, mahasiswa KKN MMK UIN Walisongo Semarang berharap semua kebaikan yang udah mereka tanam bisa terus dipelihara dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga SD 4 Getas dan masyarakat di tiga dusun-Gletuk, Krecek, dan Porot. Apalagi SD ini jadi satu-satunya sekolah yang mewadahi anak-anak dari ketiga dusun, sehingga dampak dari program ini bener-bener terasa merata.
Liputan: Tim Posko 09
Mahasiswa KKN MMK UIN Walisongo Semarang, Posko 09 Dusun Gletuk, Desa Getas, Kec. Kaloran.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment