Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Mahasiswa KKN Mandiri Misi Khusus Posko 9 UIN Walisongo Semarang Selenggarakan Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Piring Ramah Lingkungan bagi Ibu PKK Dusun Porot Getas
APERO FUBLIC I TEMANGGUNG.— Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Misi Khusus Posko 9 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menyelenggarakan kegiatan pelatihan pembuatan sabun cuci piring berbahan alami bersama ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Dusun Porot, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 1 September 2026, pukul 15.30 WIB, bertempat di Dusun Porot.
Pelatihan pembuatan sabun cuci piring
Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja unggulan yang digagas oleh Divisi Sosial dan Ekonomi Posko 9, sejalan dengan tema besar KKN yang diusung, yakni ekoteologi dan kerukunan. Melalui program ini, mahasiswa berupaya menghadirkan pemahaman bahwa relasi manusia dengan alam turut tercermin dari kebiasaan sehari-hari, termasuk dalam memilih dan menggunakan produk rumah tangga.
Program pelatihan ini dirancang sebagai langkah nyata pemberdayaan ekonomi keluarga sekaligus edukasi lingkungan bagi masyarakat Dusun Porot, khususnya dalam menjaga kelestarian sumber air yang menjadi kebutuhan vital warga di wilayah pegunungan tersebut.
Latar Belakang Program
Dusun Porot merupakan salah satu dusun di Desa Getas yang sebagian besar warganya masih bergantung pada sumber air alami untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari konsumsi hingga aktivitas rumah tangga. Penggunaan deterjen dan sabun cuci piring berbahan kimia sintetis dalam jangka panjang berpotensi mencemari tanah dan aliran air di sekitar permukiman.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa KKN Posko 9 memandang perlu adanya edukasi sekaligus pelatihan keterampilan yang dapat memberikan solusi praktis bagi warga, tanpa mengabaikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Selain aspek lingkungan, program ini juga disusun dengan mempertimbangkan potensi ekonomi. Ibu-ibu PKK di Dusun Porot selama ini aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan, sehingga keterampilan membuat sabun cuci piring diharapkan dapat menjadi bekal tambahan, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga secara mandiri maupun sebagai peluang usaha rumahan yang dapat menambah penghasilan keluarga.
Pelaksanaan Kegiatan
Pelatihan dibuka dengan penyampaian materi singkat mengenai dampak penggunaan bahan kimia sintetis terhadap lingkungan, khususnya terhadap kualitas tanah dan sumber air. Mahasiswa dari Divisi Sosial dan Ekonomi menjelaskan bahwa penggunaan bahan-bahan alami dalam pembuatan sabun cuci piring dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi pencemaran, tanpa mengurangi daya bersih dan efektivitas produk yang dihasilkan.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung pembuatan sabun cuci piring. Bahan-bahan yang digunakan dalam pelatihan ini meliputi 1 kilogram texapon sebagai bahan dasar pembersih, 600 mililiter air daun pandan untuk memberikan aroma alami sekaligus efek menyegarkan, 400 mililiter perasan daun jeruk yang berfungsi menambah aroma sekaligus daya bersih, serta 300 gram garam yang digunakan sebagai bahan pengental larutan sabun.
Proses pembuatan diawali dengan melarutkan texapon menggunakan air daun pandan hingga tercampur merata. Selanjutnya, perasan daun jeruk ditambahkan secara bertahap sambil terus diaduk agar tekstur larutan tetap homogen.
Tahap akhir dilakukan dengan menambahkan garam sedikit demi sedikit hingga diperoleh kekentalan sabun yang diinginkan. Mahasiswa mendampingi setiap tahapan proses tersebut, mulai dari pengukuran takaran bahan, teknik pengadukan, hingga cara penyimpanan sabun yang telah jadi agar tahan lama dan tidak mudah rusak.
Antusiasme Peserta
Kegiatan pelatihan ini mendapat sambutan yang sangat positif dari ibu-ibu PKK Dusun Porot. Sejak awal kegiatan, para peserta terlihat antusias mengikuti setiap tahapan praktik dan aktif mengajukan pertanyaan seputar takaran bahan, lama waktu penyimpanan, hingga kemungkinan pengembangan variasi produk. Suasana pelatihan berlangsung akrab, dengan peserta saling membantu satu sama lain dalam proses pencampuran bahan serta bertukar pengalaman seputar pengelolaan rumah tangga.
Salah satu perwakilan mahasiswa Divisi Sosial dan Ekonomi Posko 9 menyampaikan bahwa tingginya partisipasi dan antusiasme ibu-ibu PKK menjadi indikator keberhasilan program ini dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya produk ramah lingkungan. Ia berharap keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat terus dipraktikkan secara mandiri oleh warga setelah masa KKN berakhir.
Harapan dan Tindak Lanjut
Melalui program pelatihan ini, mahasiswa KKN Posko 9 berharap ibu-ibu PKK Dusun Porot dapat memproduksi sabun cuci piring secara mandiri untuk kebutuhan rumah tangga masing-masing, sekaligus membuka peluang untuk mengembangkannya menjadi usaha rumahan berkelanjutan. Selain manfaat ekonomi, program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif warga Dusun Porot dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya sumber air yang menjadi kebutuhan bersama.
Program pelatihan pembuatan sabun cuci piring ini merupakan salah satu dari rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Divisi Sosial dan Ekonomi Posko 9 selama masa pengabdian di Desa Getas. Ke depan, mahasiswa berencana untuk terus mendampingi warga dalam mengembangkan keterampilan yang telah diberikan, sejalan dengan semangat ekoteologi dan kerukunan yang menjadi landasan utama pelaksanaan KKN Mandiri Misi Khusus Posko 9 UIN Walisongo Semarang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN Mandiri Misi Khusus Posko 9 UIN Walisongo Semarang dengan tema Ekoteologi dan Kerukunan, yang dilaksanakan di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung.
Liputan: Tim Posko 9
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Misi Khusus Posko 9 Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment