Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Mahasiswa KKN MIT UIN Walisongo Dorong Kreativitas Siswa melalui Pemanfaatan Sampah di SD Wonotenggang
APERO FUBLIC I KENDAL.– Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 167 mendorong kreativitas siswa melalui edukasi pengelolaan sampah di SD Negeri Wonotenggang, Desa Wonotenggang, Kecamatan Rowosari, Kabupaten Kendal. Kegiatan yang menyasar siswa kelas 4, 5, dan 6 tersebut mengajarkan pemilahan sampah sekaligus penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) melalui praktik pemanfaatan tutup botol bekas.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Divisi Pendidikan dan Keagamaan dengan Divisi Kesehatan dan Lingkungan KKN MIT ke-22 UIN Walisongo. Edukasi dirancang agar siswa tidak hanya memahami sampah dari sisi kebersihan, tetapi juga mampu melihat barang bekas sebagai sesuatu yang masih dapat dimanfaatkan.
Pembelajaran diawali dengan pengenalan mengenai jenis-jenis sampah. Mahasiswa menjelaskan perbedaan sampah organik dan anorganik beserta contoh yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa diperkenalkan pada sampah organik yang berasal dari bahan alami dan relatif mudah terurai, seperti daun serta sisa makanan. Sementara itu, sampah anorganik seperti plastik dan tutup botol dikenalkan sebagai jenis sampah yang membutuhkan pengelolaan lebih lanjut karena sulit terurai secara alami.
Setelah memahami jenis sampah, mahasiswa memperkenalkan prinsip 3R yang meliputi Reduce atau mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, Reuse atau menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, serta Recycle atau mengolah barang bekas menjadi produk baru. Penjelasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan contoh nyata.
Mahasiswa menunjukkan pemanfaatan tutup botol bekas menjadi gantungan kunci. Melalui contoh tersebut, siswa diajak memahami bahwa penerapan 3R dapat dilakukan dengan cara sederhana menggunakan barang yang ada di sekitar. Tidak hanya menjelaskan konsep, tetapi juga memberikan contoh secara langsung di hadapan siswa.
Tutup botol yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diperlihatkan sebagai bahan yang dapat dikreasikan menjadi benda yang memiliki fungsi dan nilai guna. Pendekatan tersebut membuat materi mengenai 3R menjadi lebih dekat dengan kehidupan siswa. Mereka dapat melihat secara langsung hubungan antara pemilahan sampah, kreativitas, dan pemanfaatan kembali barang bekas.
Kegiatan berlangsung secara interaktif. Siswa kelas 4, 5, dan 6 mengikuti penjelasan mahasiswa serta memperhatikan contoh yang diberikan. Suasana pembelajaran juga menjadi lebih menarik karena materi lingkungan tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi disertai contoh konkret yang dapat ditemui dalam keseharian.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan melalui pendekatan pendidikan. Pemilahan sampah sejak usia sekolah diharapkan dapat membentuk kebiasaan sederhana yang kemudian terbawa dalam kehidupan sehari-hari.
Selain meningkatkan pengetahuan mengenai sampah, kegiatan ini juga mengajak siswa mengembangkan cara berpikir kreatif. Barang yang semula dipandang tidak berguna dapat memiliki fungsi baru apabila diolah dengan ide dan keterampilan.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang Posko 167 berharap siswa semakin memahami pentingnya memilah sampah dan menerapkan prinsip 3R. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat diterapkan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah dan lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana. Sebuah tutup botol yang semula dianggap sampah dapat menjadi media belajar untuk mengenalkan kepedulian lingkungan, kreativitas, sekaligus pentingnya memanfaatkan kembali barang yang masih memiliki nilai guna.
Oleh: Tim Posko 167
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT ke-22 UIN Walisongo Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment