Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Perpustakaan
Saat Perpustakaan Tak Lagi Sekadar Tempat Membaca
APERO FUBLIC I Di era digital, masyarakat semakin terbiasa memperoleh informasi melalui internet. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai sekitar 79,5 persen dari total populasi. Berbagai informasi kini dapat diakses hanya dalam hitungan detik melalui mesin pencari maupun media sosial.
Kondisi ini membuat sebagian orang beranggapan bahwa perpustakaan mulai kehilangan perannya dan tidak lagi menjadi kebutuhan utama. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Alih-alih ditinggalkan, perpustakaan justru terus mengalami transformasi yang menjadikannya lebih dari sekadar tempat membaca atau meminjam buku.
Perpustakaan saat ini telah berkembang menjadi pusat literasi yang menyediakan berbagai sumber informasi dalam bentuk cetak maupun digital. Koleksi seperti e-book, e-journal, repository institusi, hingga katalog daring memungkinkan pengguna memperoleh informasi secara lebih cepat dan mudah.
Salah satu inovasi yang paling dikenal adalah iPusnas yang dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas). Melalui aplikasi ini, masyarakat dapat meminjam dan membaca ribuan koleksi buku elektronik secara gratis kapan saja dan di mana saja.
Kehadiran teknologi tidak menghilangkan fungsi perpustakaan, melainkan memperluas perannya sebagai penyedia informasi yang kredibel di tengah derasnya arus informasi di internet.
Selain sebagai pusat literasi, perpustakaan juga menjadi ruang belajar yang mendukung berbagai aktivitas akademik. Mahasiswa, pelajar, guru, maupun masyarakat umum dapat memanfaatkan perpustakaan untuk belajar secara mandiri, berdiskusi, hingga melakukan penelitian. Berbagai fasilitas seperti ruang diskusi, akses internet, komputer, dan area belajar yang nyaman menjadikan perpustakaan sebagai tempat yang kondusif untuk meningkatkan produktivitas.
Transformasi ini juga terlihat dari beragam kegiatan yang diselenggarakan perpustakaan. Tidak sedikit perpustakaan yang rutin mengadakan seminar, pelatihan, bedah buku, lokakarya, hingga kelas literasi digital. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan kini menjadi ruang kolaborasi yang mendorong kreativitas, inovasi, serta pertukaran gagasan.
Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan koleksi buku, tetapi juga sebagai wadah pengembangan potensi masyarakat.
Perubahan fungsi perpustakaan juga tercermin dalam berbagai program yang dijalankan Perpusnas. Salah satunya adalah Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Program ini mendorong perpustakaan menjadi ruang yang tidak hanya menyediakan bahan bacaan, tetapi juga menjadi tempat masyarakat belajar keterampilan baru, berbagi pengalaman, mengikuti pelatihan, hingga meningkatkan taraf ekonomi.
Dengan kata lain, perpustakaan diposisikan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data Perpusnas, implementasi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial memberikan dampak yang positif. Ini menunjukkan bahwa perpustakaan memiliki kontribusi yang jauh lebih luas daripada sekadar menyediakan koleksi buku.
Meski demikian, perpustakaan masih menghadapi sejumlah tantangan. Kemudahan memperoleh informasi melalui media sosial sering kali membuat masyarakat lebih memilih sumber yang cepat dibandingkan sumber yang valid. Padahal, informasi yang beredar di dunia digital tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah peran perpustakaan menjadi semakin penting, yaitu membantu masyarakat mengembangkan kemampuan literasi informasi agar mampu membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya memperkuat budaya literasi melalui berbagai kebijakan. Hasil Kajian Perpustakaan Indonesia yang dipublikasikan Perpusnas menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2024 mencapai 73,52, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 69,42. Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pembangunan literasi nasional yang didukung oleh kolaborasi pemerintah, perpustakaan, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Perpusnas juga menegaskan bahwa penguatan budaya literasi dilakukan melalui peningkatan kualitas layanan perpustakaan, digitalisasi koleksi, serta pengembangan program inklusi sosial. Langkah ini menjadi bukti bahwa perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai tempat yang sunyi dan hanya dipenuhi rak-rak buku, melainkan sebagai ruang publik yang aktif, inovatif, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Transformasi tersebut tentu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah perlu terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan pemerataan akses hingga ke daerah. Sekolah dan perguruan tinggi perlu menjadikan perpustakaan sebagai bagian penting dari proses pembelajaran.
Sementara itu, masyarakat juga perlu mengubah cara pandangnya terhadap perpustakaan. Mengunjungi perpustakaan bukan lagi sekadar untuk mencari buku, tetapi juga untuk memperoleh pengetahuan baru, memperluas wawasan, mengembangkan keterampilan, dan membangun jejaring melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan.
Pada akhirnya, perpustakaan telah membuktikan kemampuannya untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Kehadiran teknologi digital bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk memperluas layanan kepada masyarakat.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita memandang perpustakaan sebagai ruang belajar sepanjang hayat yang terbuka bagi siapa saja. Sebab, ketika perpustakaan terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat, ia tidak lagi sekadar menjadi tempat membaca, melainkan menjadi jantung literasi, pusat inovasi, dan fondasi bagi terciptanya masyarakat yang cerdas, kritis, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
Oleh: Dwi Salsabila Putri
Mahasiswi Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment