Esai
Kampus
Lampung
Mahasiswa
Pariwisata
Pendidikan
Peran Sektor Wisata dalam Mendorong Transformasi Ekonomi Provinsi Lampung
APERO FUBLIC I Selama puluhan tahun, Lampung lebih dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Sumatra daripada sebagai tujuan wisata. Jutaan orang melintasi Pelabuhan Bakauheni setiap tahun, tetapi sebagian besar hanya singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai daerah di Sumatra.
Kini, wajah Lampung mulai berubah. Destinasi seperti Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, Pantai Gigi Hiu, Pantai Sari Ringgung, hingga Taman Nasional Way Kambas semakin ramai diperbincangkan di media sosial dan masuk dalam daftar tujuan wisata favorit di Indonesia. Perubahan tersebut menjadi sinyal bahwa sektor pariwisata tidak lagi hanya menjadi pelengkap pembangunan, melainkan mulai menjelma sebagai salah satu motor penggerak ekonomi daerah.
Perubahan ini bukan sekadar persepsi. Dalam beberapa tahun terakhir, indikator ekonomi menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata memberikan kontribusi yang semakin nyata terhadap perekonomian Provinsi Lampung. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat bahwa ekonomi Lampung tumbuh 5,28 persen pada 2025, sementara lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 7,83 persen, menjadikannya salah satu sektor dengan pertumbuhan tertinggi di provinsi ini. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas wisata mulai menciptakan nilai tambah bagi ekonomi daerah.
Lebih menarik lagi, Pemerintah Provinsi Lampung mencatat sekitar 24,70 juta perjalanan wisata sepanjang 2025 dengan nilai perputaran ekonomi pariwisata mencapai sekitar Rp53,11 triliun. Angka ini meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun sebelumnya dan menjadi bukti bahwa sektor wisata telah berkembang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang patut diperhitungkan.
Angka-angka tersebut seharusnya mengubah cara pandang terhadap pariwisata. Wisata bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi atau hiburan, melainkan bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Dalam teori ekonomi pembangunan, sektor pariwisata dikenal memiliki multiplier effect yang tinggi.
Ketika seorang wisatawan datang ke suatu daerah, ia tidak hanya membeli tiket masuk objek wisata. Ia membutuhkan transportasi, menginap di hotel atau homestay, menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM, menggunakan jasa pemandu wisata, hingga berbelanja produk ekonomi kreatif. Rangkaian aktivitas tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan banyak pelaku usaha sekaligus.
Inilah kekuatan utama sektor pariwisata. Berbeda dengan sektor yang bergantung pada eksploitasi sumber daya alam, pariwisata menciptakan nilai ekonomi melalui pelayanan, kreativitas, budaya, dan pengalaman. Semakin baik kualitas destinasi yang ditawarkan, semakin besar pula peluang daerah memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.
Lampung sesungguhnya memiliki modal yang sangat lengkap untuk membangun industri pariwisata yang kompetitif. Dari sisi geografis, provinsi ini berada di posisi strategis sebagai penghubung Pulau Jawa dan Sumatra. Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatra, Pelabuhan Bakauheni, dan Bandara Radin Inten II memberikan kemudahan akses yang menjadi keunggulan dibandingkan banyak daerah lain di Sumatra.
Sementara itu, kekayaan destinasi wisata Lampung juga sangat beragam. Wisata bahari berkembang melalui Pulau Pahawang, Pulau Kelagian, Teluk Kiluan, Pantai Mutun, dan Pantai Gigi Hiu. Wisata konservasi diperkuat oleh Taman Nasional Way Kambas dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Di sisi lain, kekayaan budaya masyarakat Lampung melalui tradisi Saibatin dan Pepadun, Festival Krakatau, hingga ragam kuliner khas menjadi daya tarik yang mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
Namun, potensi besar tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi daya saing yang kuat. Tantangan utama masih berkisar pada kualitas infrastruktur menuju destinasi wisata, keterbatasan fasilitas umum, rendahnya integrasi antardestinasi, serta promosi yang belum dilakukan secara konsisten.
Di era digital, wisatawan memilih destinasi bukan hanya berdasarkan keindahan alam, tetapi juga berdasarkan kemudahan memperoleh informasi, kualitas layanan, dan pengalaman yang dibagikan oleh wisatawan lain melalui media sosial.
Karena itu, pembangunan sektor wisata tidak cukup hanya membangun objek wisata baru. Yang jauh lebih penting adalah membangun ekosistem pariwisata. Infrastruktur dasar harus memadai, kualitas sumber daya manusia perlu ditingkatkan, dan pelaku UMKM harus dilibatkan sebagai bagian dari rantai nilai pariwisata. Tanpa ekosistem yang kuat, peningkatan jumlah wisatawan tidak akan memberikan dampak ekonomi yang optimal bagi masyarakat.
Optimisme terhadap sektor ini juga disampaikan oleh Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam publikasi resminya, pemerintah menyatakan bahwa meningkatnya jumlah perjalanan wisata dan pertumbuhan tingkat hunian hotel menjadi indikator bahwa sektor pariwisata Lampung terus bergerak positif dan membuka peluang investasi yang semakin luas.
Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengembangan destinasi wisata, ekonomi kreatif, serta kolaborasi dengan berbagai pihak guna menjadikan pariwisata sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Komitmen tersebut perlu diterjemahkan ke dalam langkah yang lebih konkret. Pemerintah daerah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur menuju destinasi unggulan, memperkuat promosi berbasis digital, meningkatkan kualitas SDM pariwisata, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Di sisi lain, sektor swasta dapat berkontribusi melalui investasi pada hotel, restoran, transportasi wisata, dan atraksi baru yang mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan.
Perguruan tinggi juga memiliki peran penting melalui riset, inovasi, dan pendampingan masyarakat. Sementara itu, masyarakat lokal menjadi ujung tombak dalam menjaga kebersihan, keamanan, keramahan, dan kelestarian budaya. Pengalaman berbagai destinasi dunia menunjukkan bahwa keberhasilan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi oleh kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
Lampung juga perlu belajar dari daerah lain yang telah berhasil menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi. Bali membangun kekuatan melalui budaya dan pelayanan, Daerah Istimewa Yogyakarta mengembangkan wisata berbasis sejarah dan pendidikan, sedangkan Nusa Tenggara Barat mempercepat pertumbuhan melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika.
Kesamaan dari ketiga daerah tersebut bukan hanya keindahan destinasinya, tetapi konsistensi dalam membangun identitas, memperkuat promosi, dan meningkatkan kualitas pelayanan.
Ke depan, arah pembangunan pariwisata Lampung tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Yang lebih penting adalah meningkatkan kualitas kunjungan, memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperbesar belanja wisatawan, serta memastikan manfaat ekonomi dirasakan oleh masyarakat lokal. Dengan demikian, sektor pariwisata tidak hanya menjadi sumber pendapatan daerah, tetapi juga menjadi instrumen pemerataan ekonomi.
Pada akhirnya, Lampung memiliki semua prasyarat untuk menjadi salah satu destinasi unggulan di Indonesia. Letak geografis yang strategis, kekayaan alam yang luar biasa, budaya yang beragam, serta tren pertumbuhan wisata yang positif merupakan modal yang tidak dimiliki semua daerah.
Kini, tantangan sesungguhnya bukan lagi bagaimana menarik wisatawan untuk datang, melainkan bagaimana memastikan setiap kunjungan mampu menciptakan lapangan kerja, menghidupkan UMKM, menjaga kelestarian lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Apabila langkah tersebut dilakukan secara konsisten, Lampung tidak lagi hanya dikenal sebagai gerbang Pulau Sumatra. Provinsi ini akan dikenang sebagai daerah yang berhasil menjadikan sektor pariwisata sebagai fondasi transformasi ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Referensi
Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung. (2026). Ekonomi Provinsi Lampung Tahun 2025 Tumbuh 5,28 Persen.
Badan Pusat Statistik. (2026). Statistik Wisatawan Nusantara 2025.
Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. (2024). Rencana Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Pemerintah Provinsi Lampung. (2026). Ekonomi Wisata Lampung Menguat, Arah Pengembangan Hotel Kian Terbuka.
UN Tourism. (2024). World Tourism Barometer.
World Travel & Tourism Council. (2024). Economic Impact Research.
Oleh: Fahrinur Septianto
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas ahmad Dahlan
Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment