Cerpen
Sastra Kita
Teduh yang Jauh
APERO FUBLIC I OPINI.-- Langit sore dikampus selalu menjadi warna favorit Aluna. Bukan karena cantiknya saja, tapi dari sana ia bisa merasakan kehangatan yang menjadikannya aman. Memang indah sekali perjalanan pulang Aluna yang akan menjadi cerita indah nantinya, disetiap langkah ia sangat bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan untuknya dihari itu, hanya sekadar bisa memberikan senyuman hangat kepada orang lain pun ia sangat bersyukur.
Di sore hari kala itu, Aluna tidak sengaja berpapasan dengan sosok istimewa dalam hidupnya, sebut saja Raka, iya Raka. Seseorang yang diam-diam ia kagumi. Aluna tidak menyangka bisa berjalan disampingnya, yaa walaupun mereka berdua menunduk satu sama lain.
Aluna menjadikannya hari itu hari yang sangat beruntung dalam hidupnya. Ia bisa menikmati senja indah sore harinya dengan dihadirkan sang penyejuk hati, hmm.
Aluna adalah seorang santriwati yang belum lama tinggal di pesantren, ia juga seorang mahasiswa baru. Dalam setiap perjalanan mencari ilmu di pesantren maupun di kampus, ia berusaha memaksimalkan waktu untuk keduanya.
Aluna harus belajar mandiri sejak awal masuk pesantren dan pertama kali menjadi mahasiswa dikampus yang membuatnya jauh dari orang tuanya. Ia sangat menikmati proses yang sedang dijalaninya untuk bekal kehidupannya kelak.
Saat masuk awal semester 2, ia tiba-tiba mendambakan sosok santri putra yang membuatnya tenang saat melihatnya, iya Raka namanya. Aluna tidak tahu kapan tepatnya rasa kagum itu tumbuh. Mungkin pada saat ia melihat keteduhannya dan bagaimana cara dia menghadapi masalahnya.
Selain itu, ia juga tidak banyak bicara, tidak suka bercanda berlebihan, dan agamanya juga baikk, MasyaAllah. Meski sebenarnya, Aluna sadar, ia tidak benar-benar mengenalnya. Ia hanya tahu apa yang terlihat. Ia tidak tahu bagaimana Raka marah, bagaimana ia bercanda, apakah ia mudah tersinggung, atau bahkan apakah ia memang sebaik yang orang-orang ceritakan.
Di suatu hari, Aluna berdiam diri di serambi masjid setelah shalat magrib. Langit jingga mulai memudar. Dari kejauhan, ia melihat Raka berjalan saat hendak berjamaah. Sosok yang sama seperti pertama kali ia perhatikan. Teduh. Namun tetap jauh. Dan mungkin memang begitulah seharusnya. Tidak semua rasa harus menjadi cerita yang dimiliki.
Sebagian cukup menjadi doa yang disimpan baik-baik.
Aluna tersenyum kecil.
Jika suatu hari Allah mempertemukan mereka dalam jalan yang baik, ia akan bersyukur. Dan jika tidak, ia tetap bersyukur. Karena pernah ada seseorang yang, tanpa mengetahui apa pun, mengajarkannya bahwa mengagumi tidak harus memiliki. Bahwa rasa yang dijaga dengan baik bisa menjadi cara mencintai tanpa melukai. Dan dari kejauhan itu, ia belajar satu hal—
"Tidak semua yang teduh harus didekati.
Ada yang cukup dipandang sebagai langit sore:
Indah, menenangkan, dan membuat hati tenang...meski jauh."
Oleh: Zahrina Awanis
Mahasiswi Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Editor. Tim Redaksi
BIODATA NARASI
Zahrina Awanis, lahir di Cilacap, 19 Juni 2007. Mahasiswa semester 2 program studi Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumni SMA Negeri 1 Bantarsari. Alamat rumahnya di Jln.Syarbini Hasan, Desa Bulaksari, Kecamatan Bantarsari, Kabupaten Cilacap.
Hobinya menulis dan memasak. Mempunyai cita-cita seorang pendidik yang tidak hanya mengajar, tapi juga membangkitkan mimpi, Ingin membimbing anak-anak di masa depan dengan potensi terbaik dalam diri mereka. Bisa dihubungi melalui kenal sosial media di Instagram @zhrnwns_ atau via surel di awanieszahrina@gmail.com.
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment