Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Menyaksikan Perjuangan: Merefleksikan Kesetaraan Gender dalam Narasi Drama “Un(easy)”
APERO FUBLIC I KAMPUS.- Drama, baik dalam bentuk teater, film, maupun serial televisi, sering kali menjadi gambaran dari kehidupan yang kita alami sehari-hari. Selain berfungsi sebagai hiburan, drama juga dapat menyampaikan berbagai pesan sosial kepada penontonnya.
Saat menonton pementasan drama yang dibawakan oleh kakak tingkat kami, kami melihat bagaimana para karakter mampu menampilkan emosi dan karakter dengan baik sehingga pesan yang ingin disampaikan terasa lebih nyata dan mudah dipahami.
Salah satu tema yang diangkat dalam drama tersebut adalah perjuangan perempuan untuk mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki. Tema ini menjadi sangat menarik karena isu kesetaraan gender masih sering dibicarakan hingga saat ini.
Drama tersebut menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan, baik di lingkungan pendidikan, dunia kerja, maupun dalam keluarga. Karena itu, tidak mengherankan jika drama dengan tema seperti ini dapat memunculkan berbagai pendapat dari masyarakat. Ada yang mendukung karena dianggap dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan, tetapi ada juga yang mengkritik cara penyampaiannya.
Salah satu kelebihan drama ini adalah kemampuannya menggambarkan pengalaman perempuan melalui tokoh utama bernama Eve. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas, kuat, dan berani memperjuangkan apa yang menurutnya benar.
Dalam cerita, Eve menghadapi diskriminasi ketika harus bersaing dengan kekasihnya, Nic, di lingkungan pendidikan dan pekerjaan. Selain itu, ia juga melihat ibunya diperlakukan tidak adil oleh ayahnya di rumah.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat Eve semakin memahami bahwa perempuan sering kali harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama. Melalui konflik yang dialami Eve, penonton dapat ikut merasakan emosi dan kesulitan yang dihadapinya.
Meskipun demikian, ada beberapa hal yang menurut kelompok kami masih perlu diperhatikan dalam drama bertema kesetaraan gender seperti ini. Terkadang, demi menonjolkan perjuangan tokoh perempuan, karakter laki-laki digambarkan terlalu negatif.
Mereka sering ditampilkan sebagai sosok yang egois, keras kepala, atau selalu menjadi penyebab masalah. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jika penggambaran seperti ini terus dilakukan, drama justru bisa menciptakan stereotip baru yang kurang sesuai dengan tujuan kesetaraan itu sendiri.
Kami setuju dengan pendapat bahwa kesetaraan sejati bukan berarti perempuan harus mengalahkan laki-laki, melainkan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk berkembang tanpa dibatasi oleh gendernya.
Oleh karena itu, drama yang baik seharusnya tidak hanya menunjukkan perjuangan perempuan, tetapi juga menghadirkan tokoh laki-laki yang mendukung perubahan. Dengan begitu, penonton dapat memahami bahwa kesetaraan adalah tanggung jawab bersama, bukan pertentangan antara perempuan dan laki-laki.
Pada akhirnya, melihat drama bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media yang mengajak penonton untuk berpikir dan merefleksikan keadaan di sekitar mereka. Melalui cerita yang disajikan, penonton dapat memahami bahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari.
Menurut kelompok kami, pesan inilah yang menjadi kekuatan utama dari drama tersebut dan membuatnya relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Dibuat oleh:
- Afriani Al Muharram Nadhira Abbas Kb
- Jingga Maulida Supriatna
- Putri Nabela
- Rully Nirmala Sari
- Sulistiowati Prihatni
- Yohana Mentari Putri Anggarinti
Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment