Cerpen
Sastra Kita
Martir Keberagaman sebagai Mahkota Pelajar Pancasila: Seni Menjalani Kehidupan pada Puncaknya
“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR.Thabrani
dan Daruquthni)
APERO FUBLIC I CERITA KITA.-- Seni untuk kebaikan orang lain adalah seni keindahan tertinggi yang paling sejati. Seni tersebut berakar dari penghargaan yang adil bagi setiap individu. Karena setiap individu adalah seni bagi individu lain melalui ciri khas diri di tengah perbedaan.
Dapat dikatakan bahwa satu individu tak dapat disamakan dengan individu lainnya. Jadi, sudahkah kamu memandang manusia berdasarkan kedalaman manusia yang demikian? Seni keindahan terluhur dapat meruntuhkan pandangan sebagian besar masyarakat yang sering kali dengan “kacamata asing” memandang perbedaan semata-mata sebagai suatu pembeda dalam ketidaksamaan.
Misalnya, seni tersebut bisa membantu melihat dan melampaui banyak perbedaan dalam berbagai aspek dengan sudut pandang yang positif, salah satunya adalah mengatasi perbedaan identitas yang memicu perbedaan perlakuan antarindividu akibat dari penilaian yang berbeda.
Dengan demikian, seni itu dapat mengikis pandangan terhadap perbedaan sebagai pembeda yang menjadi sorotan masyarakat bertahun-tahun lamanya yang memakan korban dalam sejarah kebangsaan Indonesia.
Pandangan terhadap perbedaan yang dianggap sebagai stigma negatif merupakan seni
terendah yang tak ada nilainya. Mari kita melangkah, satu langkah lebih tinggi, dengan
memandang bahwa keindahan terdalam adalah yang tak sekedar dilihat dengan mata, tetapimelihat kedalaman yang tertanam dalam diri manusia dan tumbuh dalam bentuk cara hidup yang mengagumkan di tengah keberagaman. Keberagaman melahirkan pesona yang agung sebagai kodrat manusia yang bersifat alami dan identik dengan diri manusia itu sendiri.
Keberagaman sungguh merupakan permata terindah pada manusia yang bercahaya dengan penuh kekhasan dari setiap individu, bahkan membantu mengenal dan menyelami diri dari memahami keberagaman pada diri orang lain sebagai langkah awal untuk memahami diri kita sebagai sebagian kecil serpihan permata keberagaman yang begitu luas dan tidak terbatas.
Menyelami lebih dalam lukisan agung Sang Pencipta membangkitkan kekuatan terbesar
yang dianugerahi oleh Sang Pencipta untuk menghadapi tantangan dan meraih Indonesia maju, sebab kemajuan Indonesia hanya dapat diraih melalui sejuta tangan yang disebut satu bangsa Indonesia sebagai kumpulan dalam kesatuan dan harmoni potensi setiap orang yang berbedabeda.
Itulah poin emasnya kekuatan tersebut. Dengan berbagai perbedaan tersebut, Indonesia dapat mengerahkan segala potensi dan saling melengkapi kekurangan serta kelebihan unik dari setiap individu.
Itulah sebabnya Indonesia mampu mendapatkan segudang keberhasilan, salah satunya adalah kemerdekaan Indonesia yang menjadi awal tonggak bersejarah bagi bangsa Indonesia sekaligus juga menjadi awal perjuangan bagi bangsa Indonesia dalam melawan politiasi atas perbedaan secara implisit maupun secara eksplisit.
Seluruh dimensi tersebut menjadi elemen utama kemartiran keberagaman. Orang yang
mampu menyatukan dimensi-dimensi tersebut menjadi bagian dari dirinya adalah tokoh yang
layak disebut sebagai seorang martir. Seperti Riyanto, martir keberagaman yang merupakan
sosok bagian dari anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (NU) yang patut diteladani semangat toleransi dan jiwa kemanusiaannya.
Ia adalah Bhinneka Tunggal Ika yang nyata, sebab ditengah perbedaan ia bersedia dan rela berkorban hingga akhir hayatnya. Ia patut diacungi jempol karena berani mengambil langkah besar yang begitu berbahaya bagi dirinya sendiri saat masih cukup muda, yaitu berumur 25 tahun dan belum menikah.
Pantas untuk dilabelkan bahwa Riyanto menunjukkan pedoman hidup yang terbatas,
namun bersikap tak terbatas. Pria asal kelahiran di Kediri, Jawa Timur tersebut merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara pada sebuah keluarga kecil yang sederhana dari Bapak Sukarmin yang merupakan tukang becak dan Ibu Katrinem sebagai ibu rumah tangga.
Keterbatasan hidupnya sendiri tidak menutup kepeduliannya kepada orang lain, terbukti dari cara hidup Riyanto yang sejak kecil sudah mengabdikan hidupnya untuk membantu siapa saja tanpa melihat latar belakang hingga kemudian ia tergabung menjadi bagian dari anggota Banser NU membuktikan keseriusannya untuk mau selalu mengulurkan tangannya bagi kebaikan banyak orang. Cara hidup Riyanto yang selalu tak terbatas dan mengagumkan telah ia jalankan setiap harinya untuk mengembangkan dan mengabdikan diri.
Pada malam hari 24 Desember 2000, Riyanto diutus oleh GP Ansor untuk turut membantu aparat keamanan dalam menjaga keamanan dan kelancaran pada misa malam Natal di Gereja Eben Haezer. Ia rela untuk berbuka puasa di sana dan bergantian menunaikan ibadah salat dengan anggota Banser lainnya, karena pada hari itu juga merupakan bulan Ramadhan. Seusai misa malam Natal, terdapat laporan dari seorang jemaat kebaktian yang menemukan dan menaruh kecurigaan penuh pada tas plastik yang tergeletak di bawah telepon umum depan gereja.
Riyanto menyerahkan tas plastik tersebut kepada salah satu polisi untuk mengeceknya. Ternyata itu bom! Petugas memperingatkan untuk mundur, namun menurut kesaksian dari petugas lainnya justru Riyanto segera memeluk tas tersebut dan hendak bergegas membuang ke selokan atau gorong-gorong yang berjarak 10 meter di depan gereja.
Naasnya, bom tersebut meledak sebelum lepas dari genggaman Riyanto. Kuatnya daya ledak dari bom tersebut telah menghancurkan wilayah lingkungan sekitar gereja dan menewaskan Riyanto, dimana serpihan tubuhnya terpental-pental pada jarak 30 - 100 meter dari titik ledakan.
Pengabdiannya yang begitu besar hingga gugur dalam tugasnya sebagai anggota untuk
mengamankan gereja pada perayaan malam Natal 24 Desember 2000 di Gereja Eben Haezer, Kota Mojokerto, Jawa Timur. Ia menunjukkan bahwa sosok-sosok yang terlihat sebagai sosok yang kecil dan pendiam juga tetap memiliki kesempatan untuk terbang tinggi dengan tekad yang kuat, karena hal ini bukan bergantung pada siapa orangnya dan seperti apa orangnya.
Ini semua bergantung pada pilihan antara keraguan dan keyakinan untuk mau menanamkan keabadian dalam kebaikan, mau merawat indahnya toleransi, mau berkilau dalam diam, mau menghidupkan kehidupan yang sadar akan sesama manusia yang hidup, dan mau memprioritaskan kebaikan
bersama.
Keluhuran sejati yang dipersembahkan oleh Riyanto sangat menggugah kesadaran bagi
masyarakat Indonesia. Kesadaran tersebut tidak hanya berlaku dalam menghadapi berbagai tantangan-tantangan masa lampau, namun juga berlaku bagi tantangan masa kini hingga bertahun-tahun kedepan.
Saat ini saja bangsa Indonesia telah digemparkan oleh banyak cobaan dahsyat karena gesekan-gesekan yang terlahir dari adanya perbedaan yang dianggap memberi “noda kotor” pada keberagaman Indonesia yang justru seharusnya memancarkan silau warnawarna kehidupan.
Melalui kemartiran keberagaman Riyanto, Indonesia menginspirasi hingga jangkauan
global kepada seluruh bangsa di dunia untuk memaknai keberagaman sebagai kekuatan, aset terbesar, dan nilai tertinggi umat manusia yang menjadi fondasi paling kokoh untuk membangun perdamaian dunia, persaudaraan global, dan solidaritas lintas bangsa-bangsa.
Hal ini pun sangat disetujui oleh narasumber dan individu-individu lainnya yang berkarya di aspek Pendidikan, mereka menyatakan bahwa pengorbanannya sangat menyentuh hati dan layak untuk disebut sebagai pahlawan masa kini.
Sungguh, Riyanto adalah mentari NKRI yang menerangi kegelapan perpecahan dan
pemusnahan antara negara yang sedang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia berhasil membuka mata dunia untuk memandang secara lebih luas, lebih dalam, dan lebih luhur atas perbedaan sebagai keindahan tertinggi umat manusia yang kemudian diharapkan melahirkan sosok-sosok penerus seperti Riyanto pada setiap bidang kehidupan di Indonesia melalui gerakan pelajar Pancasila.
PENULIS:
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment