Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Psikologi
Fenomena "Flexing" dan Dampaknya terhadap Kesehatan Finansial Generasi Z
APERO FUBLIC I OPINI.-- Perkembangan media sosial telah mengubah cara seseorang menampilkan dirinya di hadapan publik. Saat ini, tidak sedikit pengguna media sosial yang gemar menunjukkan gaya hidup mewah, mulai dari barang bermerek, liburan ke tempat eksklusif, hingga makanan dan minuman mahal. Fenomena ini dikenal dengan istilah flexing.
Di kalangan Generasi Z, flexing menjadi tren yang semakin umum ditemukan. Meskipun terlihat sebagai bentuk ekspresi diri, kebiasaan ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, terutama terhadap kesehatan finansial. Tidak sedikit individu yang rela mengeluarkan uang di luar kemampuan hanya untuk mendapatkan pengakuan dan perhatian di media sosial.
Apa Itu Flexing?
Flexing adalah tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup tertentu kepada orang lain, terutama melalui media sosial. Tujuannya bisa beragam, mulai dari mencari validasi, meningkatkan citra diri, hingga memperoleh pengakuan dari lingkungan sosial.
Pada awalnya, flexing mungkin dianggap sebagai hal yang biasa. Namun, ketika seseorang merasa harus selalu mengikuti standar kehidupan yang ditampilkan orang lain, muncul tekanan sosial yang dapat memengaruhi kondisi keuangan maupun kesehatan mental.
Mengapa Generasi Z Rentan terhadap Flexing?
Generasi Z tumbuh di era digital yang membuat mereka terhubung dengan media sosial hampir setiap saat. Platform seperti Instagram, TikTok, dan X memungkinkan pengguna melihat kehidupan orang lain hanya dalam hitungan detik.
Paparan konten yang menampilkan kemewahan secara terus-menerus dapat menimbulkan rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out/FOMO). Akibatnya, sebagian orang merasa perlu membeli barang atau mengikuti tren tertentu agar tidak dianggap ketinggalan zaman oleh lingkungan sekitarnya.
Dampak terhadap Kesehatan Finansial
Salah satu dampak terbesar flexing adalah munculnya perilaku konsumtif. Seseorang cenderung membeli barang berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan. Pengeluaran yang tidak terkontrol dapat menyebabkan kesulitan dalam mengatur keuangan pribadi.
Selain itu, fenomena flexing juga mendorong sebagian generasi muda untuk menggunakan layanan kredit atau paylater secara berlebihan. Jika tidak dikelola dengan baik, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan utang dan mengganggu kondisi keuangan di masa depan.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika seseorang lebih fokus pada penampilan kemewahan daripada membangun tabungan, dana darurat, atau investasi jangka panjang.
Dampak terhadap Kesehatan Mental
Tidak hanya memengaruhi kondisi finansial, flexing juga dapat berdampak pada kesehatan mental. Melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna sering kali menimbulkan perasaan iri, rendah diri, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya. Banyak orang hanya memperlihatkan sisi terbaik hidup mereka tanpa menunjukkan tantangan atau kesulitan yang dihadapi.
Pentingnya Literasi Keuangan
Untuk menghadapi fenomena flexing, generasi muda perlu meningkatkan literasi keuangan. Memahami cara mengelola pendapatan, membuat anggaran, menabung, dan berinvestasi merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan finansial.
Selain itu, penting untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Keputusan keuangan sebaiknya didasarkan pada kemampuan dan tujuan jangka panjang, bukan pada tekanan sosial atau keinginan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Fenomena flexing menjadi salah satu tantangan baru bagi Generasi Z di era digital. Meskipun terlihat sepele, kebiasaan memamerkan gaya hidup dapat mendorong perilaku konsumtif yang berisiko mengganggu kesehatan finansial dan mental.
Oleh karena itu, generasi muda perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan mengelola keuangan agar tidak terjebak dalam budaya pencitraan yang merugikan masa depan.
Penulis : Anisa Aulia
Mahasiswa Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment