Kampus
Mahasiswi
Opini
Psikologi
Anak Perempuan Pertama itu bukan “Orang Tua Kedua”
APERO FUBLIC I OPINI.-- Dalam banyak keluarga, anak perempuan pertama sering kali tumbuh dengan peran yang lebih besar daripada sekadar menjadi seorang anak. Sejak kecil, ia kerap diminta untuk “mengerti keadaan”, “jadi contoh untuk adik-adiknya”, bahkan tanpa disadari ikut memikul sebagian tanggung jawab orang tua.
Kondisi inilah yang membuat munculnya anggapan bahwa anak perempuan pertama seolah-olah menjadi “orang tua kedua” di dalam keluarga.
Fenomena ini bukan hal yang jarang. Di banyak rumah tangga, anak perempuan pertama sering diberi kepercayaan lebih dalam mengurus adik, membantu pekerjaan rumah, hingga menjadi penghubung antara orang tua dan anak-anak lainnya.
Tugas-tugas ini memang tidak selalu bersifat negatif, tetapi ketika porsi tanggung jawabnya berlebihan, ia dapat menggeser masa kanak-kanak yang seharusnya masih penuh ruang untuk bermain dan berkembang secara bebas.
Salah satu alasan mengapa hal ini terjadi adalah konstruksi sosial yang sudah lama melekat dalam masyarakat. Anak perempuan sering diasosiasikan dengan sifat lebih sabar, telaten, dan bertanggung jawab.
Karena itu, ketika ia menjadi anak pertama, ekspektasi tersebut menjadi semakin besar. Ia dianggap lebih “mampu” dibandingkan adik-adiknya, sehingga secara tidak langsung dibebani peran yang lebih berat.
Namun, persoalannya bukan hanya pada bantuan yang diberikan di rumah, melainkan pada ekspektasi yang tidak selalu seimbang dengan usia dan kesiapan emosional.
Tidak sedikit anak perempuan pertama yang merasa harus selalu kuat, tidak boleh mengeluh, dan harus menjadi penengah dalam konflik keluarga. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memunculkan tekanan psikologis yang tidak disadari oleh lingkungan sekitar.
Di sisi lain, tidak semua pengalaman anak perempuan pertama bersifat negatif. Banyak juga yang tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan bertanggung jawab karena peran yang mereka jalani sejak kecil. Akan tetapi, hal tersebut tidak menghapus fakta bahwa setiap anak tetap membutuhkan ruang untuk menjadi anak, tanpa harus memikul peran orang dewasa terlalu cepat.
Yang perlu menjadi perhatian adalah keseimbangan. Membantu keluarga memang bagian dari proses pendewasaan, tetapi tidak seharusnya menghilangkan hak anak untuk berkembang sesuai usianya.
Orang tua perlu memahami bahwa tanggung jawab utama tetap berada pada mereka, bukan pada anak, meskipun ia adalah anak pertama.
Anak perempuan pertama bukanlah “orang tua kedua”, melainkan tetap seorang anak yang juga sedang belajar tumbuh.
Memberikan tanggung jawab boleh saja, tetapi tidak boleh sampai menghapus batas antara peran anak dan peran orang tua. Karena setiap anak, tanpa terkecuali, berhak untuk tumbuh tanpa beban yang terlalu berat di pundaknya.
OLEH: Miratien Syakira Diba
Mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas: Psikologi, Universitas UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment