Feature
Keislaman
Mahasiswi
Pendidikan
Tahlil Sore Ibu-ibu dalam Perspektif Psikologi Pendidikan
APERO FUBLIC I FEATURE.- Tahlil Ibu-Ibu di Sore Hari untuk Mendoakan Orang yang Sudah Meninggal di Desa Purwodadi Mekar, Batanghari, Lampung Timur serta Hubungannya dengan Psikologi Pendidikan
Di Desa Purwodadi Mekar, Batanghari, Lampung Timur, kegiatan tahlil ibu-ibu menjadi salah satu tradisi yang masih dijaga hingga saat ini. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada sore hari sebagai bentuk kebersamaan sekaligus sarana mendoakan keluarga, kerabat, atau warga yang telah meninggal dunia. Tahlilan bukan hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga mempererat hubungan silaturahmi antarwarga.
Menjelang sore, ibu-ibu mulai berkumpul di rumah keluarga yang sedang mengadakan tahlilan. Dengan mengenakan pakaian yang sopan dan rapi, mereka datang dengan semangat kebersamaan.
Acara biasanya diawali dengan pembacaan surat Yasin, dilanjutkan zikir, tahlil, dan doa bersama yang dipimpin oleh salah satu ibu atau tokoh yang dituakan. Suasana berlangsung khidmat, tenang, dan penuh rasa kekeluargaan.
Kegiatan tahlilan ini memiliki tujuan utama untuk mengirimkan doa kepada orang yang telah meninggal agar mendapat ampunan, rahmat, dan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Selain itu, tahlilan juga menjadi bentuk kepedulian sosial masyarakat terhadap keluarga yang sedang berduka, sehingga mereka merasa lebih kuat dan tidak sendirian menghadapi kehilangan.
Jika dikaitkan dengan psikologi pendidikan, kegiatan pembacaan Yasin dan tahlil memiliki hubungan yang cukup erat, terutama dalam pembentukan sikap, emosi, dan proses belajar sosial di lingkungan masyarakat.
Psikologi pendidikan tidak hanya mempelajari pembelajaran di sekolah, tetapi juga bagaimana seseorang memperoleh nilai, kebiasaan, dan perilaku dari lingkungan sekitarnya. Melalui kegiatan tahlilan, individu belajar tentang empati, kebersamaan, rasa peduli, serta nilai religius melalui pengalaman langsung.
Selain itu, kegiatan ini juga dapat memberikan ketenangan psikologis. Suasana doa bersama dapat membantu mengurangi kesedihan dan memberikan dukungan emosional kepada keluarga yang sedang berduka.
Dalam psikologi pendidikan, lingkungan sosial yang positif dapat memengaruhi perkembangan sikap dan kesehatan emosional seseorang. Anak-anak maupun remaja yang ikut serta dalam kegiatan tersebut secara tidak langsung belajar nilai moral, etika, serta pentingnya menghargai sesama.
Tradisi tahlil ibu-ibu di Desa Purwodadi Mekar menjadi bukti bahwa nilai gotong royong, kebersamaan, dan kepedulian masih tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai pendidikan dan pembelajaran sosial yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Oleh : Fitri Dwi Gangga
Mahasiswi Prodi Tadris IPS, Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment