Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Psikologi
Sosiologi
HENTIKAN PERUNDUNGAN : Penyebab dan Upaya Pencegahan Bullying di Sekolah
Pertemuan dengan Kenyataan
APERO FUBLIC I FEATURE.- Ahmad Yasin Firdaus, mahasiswa semester lima di Program Studi Tadris IPS, Fakultas Ilmu Keguruan, UIN Jurai Siwo Lampung, sedang menjalani kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) di salah satu SMP di daerah Lampung.
Sebagai calon pendidik yang mempelajari ilmu sosial, ia tidak hanya bertugas mengajar materi pelajaran, tetapi juga mengamati dinamika kehidupan sosial di dalam sekolah.
Suatu sore sepulang jam pelajaran, saat Yasin berjalan melewati lorong belakang kelas, ia mendengar suara tawa yang keras disertai tangisan pelan. Di balik sudut bangku panjang, terlihat sekelompok siswa yang sedang mengeroyok seorang anak bernama Dika. Tubuh Dika dipaksa membungkuk, buku bukunya berserakan di lantai, dan mulutnya terus dicemooh.
“Dasar anak miskin, tidak punya apa-apa, berani-beraninya kamu duduk di dekat
kami,” ejek salah satu siswa bernama Rian, yang dikenal sebagai anak yang selalu
ingin menang sendiri. Teman-temannya ikut tertawa, ada yang menendang buku, ada yang merebut tas Dika dan melemparnya ke atas pohon. Siswa lain yang melihat hanya diam, ada yang pura-pura tidak tahu, ada yang menunduk takut.
Hati Yasin terasa tertusuk tajam. Dalam pelajaran Antropologi dan Sosiologi yang dipelajarinya di kampus, ia memahami bahwa apa yang dilihatnya itu bukan sekadar candaan atau kenakalan remaja biasa. Itu adalah perundungan, tindakan kekerasan yang dilakukan secara sengaja dan berulang, karena adanya ketimpangan kekuasaan. Ia ingat materi yang pernah dipelajarinya:
Perundungan merusak kesehatan mental, menghambat perkembangan sosial, dan dapat
merusak masa depan seseorang. Tanpa ragu, Yasin segera melangkah mendekat, suaranya tegas namun tenas:
“Hentikan! Apa yang kalian lakukan itu salah dan menyakiti orang lain.”
Kelompok siswa itu kaget dan segera bubar. Rian melirik dengan tatapan tidak suka sebelum pergi. Yasin segera menghampiri Dika, membantu mengumpulkan barang-barangnya, dan mendengarkan cerita anak itu yang bergetar karena takut dan sedih. Saat itulah, Yasin sadar: masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Ia harus mencari tahu mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana cara
menghentikannya.
Mengungkap Akar Masalah
Sebagai mahasiswa Tadris IPS yang mempelajari perilaku sosial dan faktor
pembentuk karakter, Yasin mulai melakukan pengamatan mendalam dan berbicara dengan berbagai pihak. Melalui pendekatan yang ramah dan hati-hati, Yasin berbicara dengan Rian dan juga keluarganya.
Ternyata benar, Rian tumbuh dalam keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya sering bekerja jauh dan jarang pulang, sedangkan ibunya sibuk bekerja sehingga jarang ada waktu berkomunikasi. Di rumah, jika Rian berbuat salah, orang tuanya lebih sering menggunakan bentakan atau hukuman fisik daripada memberi pengertian.
Ia belajar bahwa kekerasan dan kekuatan adalah cara untuk mengendalikan orang lain. Ia juga merasa kurang diperhatikan, sehingga berusaha mendapatkan perhatian dan rasa dihargai dengan cara mendominasi dan menindas teman-temannya di sekolah.
pengaruh teman sebaya. Rian melakukan perundungan bukan semata karena membenci Dika, tetapi karena ingin dianggap hebat, ingin diterima dan disegani oleh kelompoknya. Di lingkungan mereka, dianggap keren jika bisa menguasai orang lain, dan tekanan kelompok membuat teman-teman Rian ikut-ikutan
meskipun sebenarnya mereka tidak mau.
Ada juga pengaruh media dan teknologi. Beberapa kali Yasin melihat bahwa Rian dan teman-temannya sering menonton konten kekerasan atau hal-hal yang merendahkan orang lain di media sosial. Mereka menganggap hal itu biasa, bahkan keren.
Langkah Nyata: Merancang Pencegahan
Dengan bekal ilmu yang didapat dari Program Studi Tadris IPS tentang pendidikan karakter, nilai-nilai kemanusiaan, dan teori pembangunan sosial Yasin bertekad ikut serta mengubah keadaan. Ia mengajukan usulan kepada kepala sekolah dan guru pembimbing, menyusun rencana kerja berdasarkan prinsip
bahwa pencegahan perundungan adalah tanggung jawab bersama antara sekolah,
keluarga, dan siswa sendiri.
Membangun Kebijakan dan Aturan yang Tegas
Sekolah menyusun dan mensosialisasikan aturan anti-perundungan yang jelas, tertulis, dan disepakati bersama. Dijelaskan bahwa segala bentuk kekerasan—fisik, kata-kata, sosial, maupun di media sosial—tidak akan ditoleransi.
Sanksi diberikan bukan untuk menghukum saja, tetapi untuk mendidik dan menyadarkan
kesalahan. Guru juga berkomitmen menjadi teladan, bersikap adil dan tidak membeda-bedakan siswa.
Membangun Hubungan Dekat Antara Guru dan Siswa
Yasin mengajak rekan-rekan guru untuk lebih peka dan dekat dengan siswa. Melalui jam bimbingan, percakapan santai, dan kegiatan bersama, guru belajar mengenali tanda-tanda awal perundungan: seperti siswa yang tiba-tiba takut ke sekolah, barang sering hilang, prestasi menurun, atau terlihat sedih. Ketika
hubungan baik terjalin, siswa lebih berani bercerita dan melapor tanpa rasa takut.
Menanamkan Empati dan Nilai Kemanusiaan Melalui Pendidikan Karakter
Materi tentang menghargai perbedaan, persamaan derajat, dan dampak buruk
kekerasan disisipkan dalam pelajaran IPS dan kegiatan sekolah. Siswa diajak
berdiskusi, bermain peran, dan kegiatan kelompok agar belajar bekerja sama dan
memahami perasaan orang lain.
Yasin sering mengingatkan: “Setiap orang berhak dihargai, tidak peduli kaya atau miskin, pintar atau sederhana, apa pun asalnya.”
Mengadakan Kerja Sama dengan Orang Tua
Sekolah mengundang orang tua dalam pertemuan khusus untuk memberi
pemahaman tentang bahaya perundungan, baik sebagai pelaku maupun korban. Dijelaskan bahwa pola asuh, komunikasi, dan pengawasan di rumah sangat berpengaruh pada perilaku anak. Orang tua diajak bekerja sama memantau kegiatan anak, termasuk penggunaan gawai dan media sosial, serta
berkomunikasi rutin dengan sekolah.
Melibatkan Siswa Sebagai Agen Perubahan
Yasin membantu membentuk kelompok relawan siswa “Sahabat Peduli”, yang bertugas menjadi pendengar bagi teman yang bermasalah, membantu menyelesaikan konflik dengan damai, dan menjadi mata-telinga bagi sekolah.
Siswa diajarkan bahwa menjadi saksi diam sama saja dengan mendukung kekerasan. Keberanian melapor adalah tindakan yang benar dan mulia.
Perubahan dan Harapan Baru
Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi perlahan namun pasti, benih kebaikan mulai tumbuh.Rian, yang dulunya sering berbuat kasar, mulai mengerti bahwa kekuatan sejati
bukanlah menindas orang lain, tetapi mampu menjaga dan menolong sesama.
Melalui pendekatan, bimbingan, dan dukungan dari sekolah serta perubahan sikap orang tuanya di rumah, ia mulai berubah. Ia berani meminta maaf kepada Dika dan teman-teman lainnya. Ia mulai menyalurkan energinya ke kegiatan olahraga dan menjadi pemimpin kelompok belajar yang baik.
Dika pun perlahan bangkit kembali. Ia mulai berani bergaul, percaya diri, dan menemukan teman-teman yang tulus menyayanginya tanpa memandang latar belakang.
Suasana sekolah berubah menjadi lebih damai, hangat, dan penuh rasa saling menghargai. Siswa tidak lagi merasa takut atau terancam. Sekolah benar-benar menjadi tempat yang aman untuk belajar dan tumbuh.
Bagi Ahmad Yasin Firdaus, pengalaman ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu yang dipelajarinya di Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung, Fakultas Ilmu Keguruan, Program Studi Tadris IPS bukan sekadar teori di buku. Ilmu itu menjadi pedoman dan kekuatan untuk membawa perubahan nyata di tengah masyarakat.
Di dalam hatinya, Yasin berjanji:
“Kelak saat saya menjadi pendidik yang sesungguhnya, saya akan terus menjadi
pembawa cahaya. Saya akan selalu berjuang agar setiap sekolah menjadi tempat
yang bebas dari kekerasan, tempat di mana setiap anak merasa aman, dihargai,
dan berhak meraih masa depan yang cerah tanpa rasa takut.”
Pesan Moral:
Perundungan adalah masalah bersama, dan pencegahannya pun butuh kerja sama semua pihak. Dengan kasih sayang, pendidikan yang baik, dan kepedulian, kita bisa menciptakan lingkungan yang damai dan penuh persaudaraan.
Oleh : AY. Firdaus
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Jurai Siwo Lampung, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Jurusan Tadris IPS.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment