Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Sosial Masyarakat
Sosiologi
Skill atau Ijazah? Menata Ulang Perencanaan Tenaga Kerja di Tengah Disrupsi Industri
APERO FUBLIC I OPINI.- Selama berpuluh-puluh tahun, selembar ijazah dianggap sebagai “tiket emas” menuju kesejahteraan. Perguruan tinggi dipandang sebagai pabrik pencetak masa depan, di mana gelar di belakang nama menjadi jaminan utama untuk menembus pintu perkantoran.
Namun, seiring berjalannya waktu, dunia kerja mengalami perubahan yang sangat besar. Pertanyaan klasik pun kembali mencuat dengan urgensi yang lebih besar: masih relevankah ijazah di era yang semakin menuntut skill atau keterampilan nyata?.
Disrupsi teknologi yang ditandai oleh hadirnya kecerdasan buatan, otomatisasi, dan ekonomi digital telah mengubah kebutuhan dunia kerja secara signifikan. Perubahan tersebut bahkan melahirkan jenis pekerjaan baru yang sebelumnya belum ada, sekaligus memperlebar jurang skill mismatch antara lulusan pendidikan formal dan tuntutan industri.
Dalam tinjauan ekonomi, kondisi ini sejalan dengan Human Capital Theory karya Gary Becker, yang menempatkan pendidikan sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas.
Namun, nilai investasi tersebut dapat menurun apabila tidak diikuti keterampilan yang adaptif, karena industri kini lebih mencari tenaga kerja yang cepat belajar dan mampu menguasai alat serta teknologi baru.
Akibat perubahan kebutuhan industri, ijazah tidak lagi menjadi satu-satunya penentu kualitas tenaga kerja. Banyak perusahaan kini lebih mempertimbangkan keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta kemampuan khusus yang relevan dengan kebutuhan pasar dibanding sekadar latar belakang pendidikan formal.
Kondisi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Sistem pendidikan masih cenderung berfokus pada teori dan pencapaian akademik, sementara industri berkembang sangat cepat mengikuti kemajuan teknologi dan dinamika pasar.
Pendidikan seharusnya mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan keterampilan dan produktivitas kerja. Namun, ketika keterampilan yang diajarkan di lembaga pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan industri, maka terjadilah mismatch tenaga kerja, yaitu kondisi ketika lulusan memiliki tingkat pendidikan yang memadai tetapi kompetensinya belum sesuai dengan tuntutan pekerjaan.
Ijazah dan skill seharusnya tidak dipandang sebagai dua hal yang saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Ijazah tetap penting sebagai bukti pendidikan formal, namun dunia kerja saat ini juga menuntut skill atau kemampuan yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Oleh karena itu, di tengah disrupsi industri ini, perencanaan tenaga kerja perlu dilakukan secara lebih adaptif melalui penguatan keterampilan, peningkatan kompetensi, serta kerja sama antara perguruan tinggi dan industri melalui pelatihan praktis untuk meningkatkan kemampuan teknis, program magang untuk memberikan pengalaman kerja langsung.
Misalnya, pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja agar lebih siap menghadapi tuntutan industri. Selain itu, adanya pelatihan gratis dari dinas terkait seperti program Balai Latihan Kerja (BLK) atau pelatihan dari Dinas Ketenagakerjaan agar akses peningkatan keterampilan semakin luas.
Langkah tersebut penting agar tenaga kerja tidak hanya memiliki pendidikan yang baik, tetapi juga mampu beradaptasi dan bersaing di tengah perubahan industri yang semakin cepat.
PENULIS :
- Irma Eka Savitri
- Vilon Khansa Arindra Putri
- Naura Putri Nuraini.
Mahasiswi Jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment