Opini
Teknologi
Diderot Effect : Bagaimana iPhone Bisa Mengubah Gaya Hidup dan Pola Konsumsi Seseorang
APERO FUBLIC I OPINI.- Kalian pernah nggak sih, awalnya cuma berniat membeli HP baru, tapi beberapa bulan kemudian jadi ingin mengganti banyak hal lain? Mulai dari earphone, jam tangan, outfit, sampai gaya hidup sehari-hari. Awalnya mungkin terasa biasa saja, tetapi lama-kelamaan ada perasaan bahwa barang-barang lama sudah tidak “serasi” lagi dengan barang baru yang dimiliki.
Fenomena seperti ini cukup sering terjadi, terutama setelah seseorang menggunakan iPhone. Bukan karena iPhone secara langsung membuat orang menjadi konsumtif, melainkan karena ada dorongan psikologis untuk membuat semuanya terasa lebih selaras dengan identitas baru yang terbentuk. Tanpa disadari, satu pembelian kecil dapat memicu keinginan baru yang sebelumnya bahkan tidak terpikirkan.
Banyak orang menganggap perubahan gaya hidup setelah membeli iPhone hanyalah soal gengsi atau sekadar mengikuti tren di media sosial. Padahal, dalam psikologi konsumsi, ada konsep yang menjelaskan fenomena tersebut, yaitu Efek Diderot.
Efek Diderot adalah kondisi ketika seseorang membeli satu barang baru, lalu merasa barang lama yang dimilikinya terlihat kurang cocok, sehingga muncul keinginan untuk membeli barang lain agar semuanya terasa lebih serasi.
Istilah ini berasal dari seorang filsuf Prancis abad ke-18, yaitu Denis Diderot. Dalam tulisannya yang berjudul Regrets on Parting with My Old Dressing Gown, Diderot menceritakan pengalamannya setelah menerima sebuah jubah baru yang mewah. Jubah tersebut membuat barang-barang lain di rumahnya terlihat tua dan tidak sepadan.
Akibatnya, ia mulai mengganti furnitur dan berbagai perlengkapan lain agar terlihat lebih sesuai dengan jubah barunya. Dari cerita sederhana itu, lahirlah pemahaman bahwa satu barang baru ternyata dapat mengubah pola konsumsi seseorang secara keseluruhan.
Menurut saya, fenomena ini sangat relevan dengan kehidupan saat ini, terutama di era media sosial. Saat ini, teknologi bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga telah menjadi bagian dari identitas dan citra diri seseorang. Orang sering kali membeli sesuatu bukan semata-mata karena fungsinya, melainkan karena ingin merasa lebih percaya diri, lebih modern, atau lebih diterima di lingkungan sosial mereka.
Apple sering dikaitkan dengan Diderot Effect karena ekosistem produknya yang saling terhubung dan memiliki citra premium yang kuat. Setelah membeli iPhone, banyak orang mulai merasa tertarik untuk menggunakan AirPods, Apple Watch, atau MacBook agar pengalaman pengguna mereka terasa lebih lengkap. Bahkan, perubahan tersebut terkadang tidak berhenti pada gadget saja.
Misalnya, seseorang yang awalnya hanya membeli iPhone untuk kebutuhan kamera atau pekerjaan, perlahan mulai memperhatikan hal-hal lain. Ia mulai membeli casing dengan desain minimalis, membuat setup meja kerja yang lebih estetik, memakai outfit tertentu agar cocok ketika difoto di media sosial, dan lebih sering datang ke tempat-tempat yang dianggap “instagramable”. Semua itu terjadi bukan karena kebutuhan utama berubah, tetapi karena standar gaya hidupnya ikut berubah secara perlahan.
Media sosial memperkuat fenomena ini. Konten di TikTok, Instagram, atau YouTube membuat banyak orang tanpa sadar menghubungkan produk tertentu dengan citra kehidupan ideal. Akibatnya, muncul dorongan untuk membeli barang lain agar merasa setara dengan standar sosial.
Namun, menurut saya penting juga untuk melihat fenomena ini secara lebih objektif. Tidak semua pengguna iPhone mengalami Diderot Effect, dan tidak semua orang yang membeli produk Apple secara otomatis menjadi konsumtif. Ada juga yang membeli iPhone murni karena kebutuhan pekerjaan, kualitas kamera, keamanan sistem, dan kenyamanan penggunaan.
Selain itu, fenomena seperti ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada pengguna iPhone. Pengguna fashion,branded, motor, mobil, bahkan gaming setup juga bisa mengalami hal serupa. Hanya saja, iPhone menjadi contoh yang paling mudah terlihat karena citra mereknya sangat kuat di masyarakat.
Yang menarik dari *Diderot Effect* adalah bagaimana fenomena ini sering terjadi tanpa disadari. Seseorang mungkin awalnya merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Namun, setelah membeli sebuah barang baru, standar kepuasan perlahan-lahan berubah. Barang-barang lama mulai terasa kurang cocok, kurang menarik, atau bahkan terasa "ketinggalan". Dari situ, pengeluaran kecil mulai bertambah sedikit demi sedikit.
Menurut saya, memahami Diderot Effect penting agar kita lebih sadar terhadap pola konsumsi diri sendiri. Membeli barang yang diinginkan tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, kami juga perlu memahami apakah keputusan tersebut benar-benar berdasarkan kebutuhan, atau hanya dorongan untuk menyesuaikan diri dengan citra tertentu yang kita lihat di media sosial dan di lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, Diderot Effect bukan hanya tentang iPhone atau barang mahal lainnya. Fenomena ini sebenarnya menggambarkan bagaimana manusia sering kali membangun identitas dan rasa percaya dirinya melalui barang yang dimiliki. Satu pembelian mungkin terlihat sederhana, tetapi tanpa disadari bisa mengubah cara seseorang memandang kebutuhan, kepuasan, dan gaya hidupnya sendiri.
PENULIS : Raden Muhammad Ghazi Hibatullah
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng TIrtayasa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan D3 Akuntansi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Opini

Post a Comment