Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Keseimbangan Manfaat Program MBG Antara Guru Tenaga Kerja Dan Pengusaha
APERO FUBLIC I OPINI.- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini berjalan di seluruh Indonesia telah menjadi sorotan publik. Banyak pihak menyambut baik langkah ini, namun muncul pertanyaan krusial: siapa sebenarnya yang paling mendapatkan manfaat dari program yang digadang-gadang sebagai "motor ekonomi" ini – guru, tenaga kerja, atau pengusaha?
Dari sisi pendidikan, guru seharusnya menjadi pihak yang merasakan dampak positif. Dengan anak - anak mendapatkan makanan bergizi setiap hari, konsentrasi dan kehadiran mereka di kelas diharapkan meningkat.
Hal ini seharusnya mempermudah guru dalam menyampaikan materi dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, realitasnya tidak selalu sesuai harapan.
Beberapa guru melaporkan bahwa mereka harus menambah tugas tambahan, seperti mengawasi distribusi makanan dan mencatat kehadiran siswa saat makan, tanpa ada tambahan insentif yang memadai.
Padahal, tugas utama mereka adalah mendidik, bukan mengelola program makan. Jika hal ini terus berlanjut, guru bisa jadi terbebani dan fokus pada pembelajaran berkurang.
Di sisi lain, tenaga kerja adalah kelompok yang jelas mendapatkan keuntungan nyata. Implementasi MBG menciptakan lapangan kerja baru di berbagai sektor: dari petani yang memasok bahan makanan, pekerja di dapur umum yang memasak, hingga tenaga distribusi yang mengantarkan makanan ke sekolah.
Di daerah-daerah dengan tingkat pengangguran tinggi, program ini menjadi harapan baru untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Misalnya, di beberapa kabupaten di Jawa Timur, ribuan orang telah ditempatkan sebagai pekerja harian atau kontrak di rantai pasok MBG.
Selain itu, peningkatan permintaan bahan makanan juga mendorong pertumbuhan sektor pertanian dan peternakan, yang pada gilirannya menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pengusaha juga mengambil bagian besar keuntungan dari MBG.
Khususnya pengusaha yang mampu memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan
program ini. Banyak pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang sebelumnya kesulitan mencari pasar tetap, kini mendapatkan kontrak jangka panjang untuk memasok bahan makanan atau mengelola dapur MBG.
Bahkan beberapa pengusaha besar juga turut berpartisipasi dengan cara bermitra dengan UMKM atau menyediakan peralatan dan bahan baku. Keuntungan finansial yang diperoleh dari MBG tidak hanya meningkatkan omset usaha, tetapi juga membuka peluang ekspansi bisnis ke daerah lain.
Kesimpulannya, MBG memberikan manfaat bagi ketiga kelompok tersebut, namun dengan proporsi yang berbeda. Guru mendapatkan manfaat tidak langsung melalui peningkatan kualitas siswa, meskipun harus menghadapi tantangan tambahan.
Tenaga kerja mendapatkan keuntungan ekonomi yang nyata dengan terbukanya lapangan kerja. Sedangkan pengusaha mendapatkan peluang bisnis
yang menguntungkan.
Agar program ini benar-benar memberikan manfaat yang seimbang, pemerintah perlu melakukan evaluasi berkala, memastikan guru tidak terbebani secara berlebihan, tenaga kerja mendapatkan upah yang layak, dan pengusaha tetap menjalankan tanggung jawabnya dalam menyediakan makanan berkualitas.
Hanya dengan demikian, MBG bisa menjadi program yang tidak hanya baik untuk gizi masyarakat, tetapi juga untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
PENULIS: Tri Saduwarti
Mahasiswi Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Bangka Belitung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment