Energi
Kampus
Kimia
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Minyak Bumi Bukan Sekedar Bahan Bakar: Fondasi Material Tersembunyi Peradaban Modern
APERO FUBLIC I OPINI.- Selama beberapa dekade, minyak bumi lebih sering dipahami sebagai bahan bakar transportasi. Yaitu sumber energi bagi mobil, pesawat, dan kapal. Namun, cara pandang ini terlalu sempit. Minyak bumi bukan hanya sumber energi, ia merupakan fondasi material dari peradaban modern.
Di tengah percepatan transisi energi global, konsumsi minyak dunia justru kembali ke tingkat tertinggi sepanjang sejarah. International Energy Agency (IEA, 2023) mencatat bahwa permintaan global telah melampaui 102 juta barel per hari, naik dari sekitar 63 juta barel per hari pada 1980.
Artinya, dalam empat dekade terakhir, konsumsi meningkat lebih dari 60%.
Kenaikan ini tidak semata-mata mencerminkan kegagalan transisi energi.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa minyak memiliki peran struktural yang lebih dalam dari sekadar pembakaran untuk menghasilkan energi.
Dimensi Struktural Permintaan Minyak
Sekitar 55–60% konsumsi minyak global digunakan untuk sektor transportasi. Namun, sekitar 14–16% digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia (IEA, 2023).
Berbeda dengan bahan bakar yang dibakar dan habis, bahan baku petrokimia diubah menjadi produk fisik: plastik, serat sintetis, pupuk, pelarut, dan berbagai material industri.
IEA memproyeksikan bahwa sektor petrokimia akan menyumbang lebih dari sepertiga pertumbuhan permintaan minyak hingga 2030 dan mendekati setengahnya hingga 2050.
Artinya, bahkan dalam skenario transisi energi yang ambisius, permintaan minyak tidak serta-merta menurun drastis karena sebagian besar permintaan berasal dari kebutuhan material. Disinilah muncul perbedaan penting bahwa transisi energi tidak otomatis berarti transisi material.
Plastik dan Realitas Skala Industri
Produksi plastik global mencapai sekitar 413 juta ton pada 2023 (PlasticsEurope, 2024). Lebih dari 99% plastik tersebut berasal dari bahan baku berbasis fosil.
Sebaliknya, produksi bioplastik global masih berada di kisaran 2–3 juta ton per tahun atau sekitar 0,5% dari total produksi (European Bioplastics, 2023).
Dari sisi ekonomi, plastik konvensional seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) diproduksi dengan biaya sekitar USD 0,9–1,5 per kilogram.
Sementara itu, bioplastik seperti polylactic acid (PLA) berkisar USD 2,0–3,5 per kilogram, dan PHA dapat mencapai USD 4–6 per kilogram.
Perbedaan biaya ini menunjukkan bahwa material berbasis fosil masih memiliki keunggulan ekonomi yang signifikan. Tanpa inovasi besar atau intervensi kebijakan, struktur industri global cenderung tetap bertumpu pada petrokimia.
Industri Fesyen dan Dominasi Serat Sintetis
Ketergantungan terhadap petrokimia juga tampak jelas dalam industri tekstil.
Sekitar 62–65% serat tekstil global merupakan serat sintetis, dengan poliester menyumbang lebih dari 55% produksi serat dunia (Textile Exchange, 2023).
Produksi poliester meningkat dari sekitar 9 juta ton pada 1990 menjadi lebih dari 65 juta ton pada 2023 artinya hampir tujuh kali lipat dalam tiga dekade.
Dari sisi emisi, poliester menghasilkan sekitar 9–14 kg CO₂ ekuivalen per kilogram serat (UNEP, 2023), lebih tinggi dibandingkan sebagian besar serat alami dalam perhitungan berbasis berat.
Namun poliester unggul dalam hal daya tahan, biaya, dan skala produksi. Keputusan industri tidak hanya ditentukan oleh pertimbangan lingkungan, tetapi juga oleh efisiensi dan kestabilan pasokan.
Pangan, Pupuk dan Energi Fosil
Sistem pangan modern juga sangat bergantung pada energi fosil. Pupuk nitrogen sintetis diproduksi melalui proses Haber–Bosch yang bergantung pada gas alam sebagai bahan baku dan sumber energi.
Produksi satu ton amonia membutuhkan sekitar 28–35 gigajoule energi (International Fertilizer Association, 2022). Gas alam menyumbang 70–80% biaya produksinya.
Diperkirakan sekitar setengah produksi pangan global bergantung pada pupuk nitrogen sintetis. Pengurangan signifikan dalam penggunaan nitrogen dapat menurunkan hasil panen jagung hingga 26% dan gandum hingga 21% di beberapa kawasan utama (FAO, 2022).
Dengan kata lain, energi fosil tidak hanya menopang industry, tetapi juga ketahanan pangan global.
Plastik Medis dan Sistem Kesehatan
Sektor kesehatan merupakan contoh lain dari peran material minyak bumi. Limbah medis global diperkirakan mencapai sekitar 16 juta ton per tahun, dengan 30–40% berupa plastik sekali pakai (UNEP, 2023).
Rata-rata penggunaan plastik di fasilitas kesehatan modern dapat mencapai sekitar 0,5 kilogram per pasien per hari. Selama pandemi COVID-19, diperkirakan lebih dari 8 juta ton limbah plastik tambahan terakumulasi secara global.
Penggunaan plastik medis bukan sekadar konsumsi berlebih, melainkan bagian dari standar keselamatan dan sterilitas.
Kesenjangan Skala Dalam Transisi Material
Jika peran energi minyak dapat sebagian digantikan oleh elektrifikasi, maka peran materialnya jauh lebih kompleks.
Kapasitas produksi plastik berbasis fosil telah melampaui 400 juta ton per tahun, sementara bioplastik masih di bawah 3 juta ton.
Investasi tahunan sektor minyak dan gas global melebihi USD 500 miliar (IEA, 2023), jauh melampaui investasi dalam pengembangan material alternatif.
Kesenjangan skala ini menunjukkan bahwa transisi material menghadapi hambatan struktural yang lebih dalam dibandingkan transisi energi semata.
Melihat Masa Depan Secara Struktural
Ketahanan permintaan minyak global bukan semata akibat lambatnya transisi energi, melainkan karena minyak telah tertanam dalam arsitektur sistem industri modern.
Infrastruktur global, rantai pasok, pertanian, kesehatan, dan konsumsi rumah tangga dibangun di atas fondasi petrokimia. Oleh karena itu, keberlanjutan tidak cukup dicapai hanya dengan mengganti sumber energi.
Diperlukan transformasi sistem material secara bertahap dan realistis. Transisi energi mengubah cara kita menghasilkan daya.
Transisi material mengubah apa yang membentuk dunia fisik kita. Dan tantangan yang kedua mungkin lebih kompleks daripada yang pertama.
PENULIS. Ulzha Zahwa Ailya
Mahasiswi Institut Teknologi Sawit Indonesia, Program Studi Teknik Kimia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Energi

Post a Comment