Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sosiologi
Mengapa Masyarakat kita Mudah Panik?
APERO FUBLIC I OPINI.- Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat masyarakat indonesia mudah mengalami panik ketika sedang menghadapi suatu situasi, terutama ketika muncul kabar yang bahkan kebenarannya sendiri belum jelas.
Contohnya, ketika muncul isu kelangkaan bbm akibat konflik di negara timur, banyak dari masyarakat mulai mengantri dan menumpuk persediaan. Mereka langsung bereaksi tanpa mencari tahu fakta yang sebenarnya. Kepanikan ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok saja, tetapi hampir semua lapisan masyarakat.
Fenomena ini menunjukan bahwa kepanikan sering kali terjadi tidak hanya karena situasi itu sendiri, tetapi juga bagaimana cara masyarakat menanggapinya. Lalu, apa yang sebenarnya menjadi penyebab masyarakat kita mudah panik?.
Menurut penulis, Masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan mudah panik berdasarkan beberapa faktor, seperti kondisi psikologis, budaya kolektivisme (ikut reaksi kelompok), serta kebiasaan komunikasi informal dan budaya gosip dalam menerima informasi tampa memeriksa keakuratannya. Faktor-faktor ini saling terikat dan dapat membuat kepanikan lebih cepat menyebar di tengah masyarakat.
Faktro pertama, dari sisi psikologis. Manusia memang pada umumnya memiliki rasa takut akan suatu hal yang tidak pasti. Ketika mendengar suatu kabar buruk, banyak dari orang akan langsung mengalami cemas dan kemudian diikuti rasa khawatir.
Dalam kondisi ini, banyak dari orang lebih mengandalkan perasaan daripada logika. Selain itu, muncul juga sebuah kebiasaan ikut-ikutan.
Jika mereka melihat orang lain panik, mereka juga akan cenderung ikut panik tanpa berpikir panjang. Hal tersebut membuat kepanikan bisa menyebar sangat cepat dari satu orang ke orang lain.
Faktor kedua, budaya kolektivisme (ikut reaksi kelompok). Dalam kehidupan masyrakat kita, kepentingan dan harmoni kelompok dianggap lebih penting daripada penilaian dari invidu.
Akibatnya, banyak orang cenderung menjadikan reaksi orang lain sebagai “patokan kebenaran”. Contohnya, ketika melihat lingkungan di sekitar mulai panik, seperti mulai membeli barang dalam jumlah banyak, menyebarkan berita darurat, atau menunjukkan ketakutan yang dimana dapat membuat individu lain juga merasa bahwa situasi tersebut memang berbahaya, meskipun tidak memiliki informasi yang jelas.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan konsep social proof, yaitu kecenderungan seseorang yang mengikuti tindakan mayoritas karena dianggap paling benar.
Dalam konteks budaya kolektif, efek ini menjadi jauh lebih kuat dan membuat kepanikan mudah berubah menjadi reaksi massal yang sulit dikendalikan.
Faktor ketiga, kebiasaan komunikasi informal dan budaya gosip. Pola komunikasi di Indonesia banyak dilakukan secara informal, seperti lewat obrolan santai, grup keluarga, atau media sosial seperti whatsapp.
Informasi yang disampaikan melalui jalur ini terkadang tidak melalui proses vertifikasi terlebih dahulu atau mengecek kebenarannya. Tetapi karena datangnya dari orang yang dikenal atau dipercaya, informasi tersebut dianggap benar dan dapat dipercaya.
Selain itu, ada kecenderungan untuk langsung membagikan informasi tanpa memastikan kebenarannya, dan karena dorongan ingin memberi tahu atau “mengingatkan” orang lain. Hal ini dapat membuat informasi yang benar maupun informasi yang salah menyebar dengan sangat cepat.
Dalam situasi tertentu, terutama jika informasi tersebut bernuansa ancaman, pola komunikasi seperti ini akan memperbesar persepsi bahaya dan dapat memicu kepanikan secara luas.
Sebagian orang berpendapat bahwa panik merupakan hal yang wajar dan hal yang tak dapat dihindari, karena itu adalah reaksi alami manusia ketika menghadapi suatu ancaman.
Bahkan didalam kondisi tertentu, rasa panik akan bermanfaat karena dapat membuat seseorang lebih waspada dan cepat dalam mengambil keputusan. Pendapat ini sepenuhnya tidak salah.
Namum, jika kepanikan tidak dapat dikendalikan, justru akan menimbulkan masalah baru, seperti mengambil keputusan terburu-buru, mudah percaya pada informasi yang belum jelas, serta ikut menyebarkan informasi yang tidak benar.
Akibatnya, situasi yang sebenarnya dapat dikendalikan justru menjadi semakin kacau karena dipicu oleh reaksi masyarakat itu sendiri.
Kesimpulannya, bahwa kepanikan masyarakat kita tidak terjadi tanpa ada penyebabnya, melainkan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kondisi psikologis, budaya kolektivisme, komunikasi informal dan budaya gosip.
Di antara faktor-faktor tersebut, kebiasaan komunikasi informal dan budaya gosip menjadi faktor yang paling berpengaruh karena mampu menyebarkan informasi secara cepat dan luas tanpa melalui proses vertifikasi terlebih dahulu.
Oleh karena itu, penting untuk setiap individu lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, serta tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum jelas.
Masyarakat juga perlu membiaskan diri untuk berpikir kritis dan tetap tenang dalam menghadapi situasi apa pun. Dengan sikap tersebut, kepanikan dapat diminimalisir dan masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan rasional.
PENULIS: Muhamad Ezi
Mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment