Cerita Kita
Puisi
Perempuan Kuat itu Aku
Perempuan Kuat itu Aku : Perempuan yang menjahit retaknya sendiri
Namaku arin, tidak ada yang istimewa dari namaku, juga dari hidupku kata orang, aku perempuan biasa, lahir dari keluarga yang sederhana dirumah kecil di ujung kampung, hari-hariku selalu ditemani oleh kesunyian dan Do’a yang selalu di ucapkan pelan-pelan, berharap tidak ada yang mendengar.
Hari ini aku bercerita tentang bagaimana aku tetap hidup di tengah kebisingan dunia, bagaimana aku tetap memilih bertahan di atas serpihan pecahnya kaca. Bagaimana aku melangkah dijalan yang retak. Aku adalah aku yang hanya punya diri sendiri untuk kemana-mana.
*Hidupku ramai tapi aku sepi.*
Perempuan itu aku. Aku yang tumbuh dari hari-hari yang tidak selalu ramah. Bahkan aku belajar dewasa lebih cepat dari seharusnya, mengapa begitu?, aku menjawabnya, karena keadaan tidak memberiku pilihan selain kuat. Aku pernah berada ditengah-tengah keramaian dimana semuanya terasa berat dan hari itu semuanya harus aku hadapi dan ku rangkul. Aku tersenyum didepan banyak orang, tapi menangis saat sendirian. Ada malam-malam panjang yang selalu aku bertanya pada diriku sendiri.
*“sampai kapan aku harus sekuat ini?”*
Aku pernah ragu pada diriku sendiri, aku pernah merasa tidak cukup, aku pernah merasa kalah dari semua apa yang ku usahakan, aku pernah merasa gagal, gagal dari apa yang ku perjuangkan. Aku melihat orang lain melangkah lebih cepat, lebih maju, lebih mandiri, lebih berani. Sementara aku tertinggal dengan rasa takut yang terus menghantui dan selalu mengikuti.
Tapi aku tidak berhenti dan tidak pernah berhenti diatas semua keraguanku pada perjuangan yang telah aku lakukan.
Aku belajar memahami bahwa kuat bukan berarti tidak pernah menangis, kuat adalah tetap bangun meski air mata belum kering. Kuat adalah memilih tetap bangun dan memulai ketika ingin menyerah.
Hari demi hari aku belajar dari kegagalan. Kegagalan yang menyakitkan, dari harapan yang tidak selalu terwujud, dari keinginan yang tidak selalu terbayar, dari luka yang mengajarkanku tentang rasa sabar dan keikhlasan.
*Aku belajar mencintai diriku sendiri, meski belum sepenuhnya sembuh.*
Aku mulai melangkah pelan, tidak ada orang yang mengerti dan mengetahui keadaanku yang sebenarnya, semua orang tau diriku baik-baik saja dan selalu bahagia, padahal di balik kata itu semua ada tangis, harapan, Do’a yang semuanya aku pendam sendirian, hanya angin malam dan dinding kamar yang menjadi saksi dari itu semua.
Aku sadar bahwa berlarut-larut dalam kesedihan dan selalu merasa tertinggal itu semua bukan solusi untuk menang, tapi aku mulai melangkah dan terus melangkah meskipun langkahku pelan dan sunyi, aku yakin nanti ada keajaiban akan datang. Aku tidak selalu percaya diri, tapi konsisten. Tidak selalu berani, tapi terus mencoba. Aku berhenti membandingkan diriku, langkahku dan pencapaianku dengan orang lain, karena aku sadar setiap orang punya waktu dan jalannya masing-masing.
Kini aku tau perempuan kuat bukan yang hidupnya tanpa masalah. Perempuan kuat itu adalah perempuan yang tetap memilih tetap hidup dengan harapan dan Do’a yang selalu menemaninya. Perempuan kuat itu perempuan yang terus bangkit dan berjalan meskipun jalannya lebih pelan dari orang lain dan tetap hidup meski berkali-kali kecewa,gagal dan jatuh. Dan perempuan kuat itu adalah aku.
*Aku bangga pada diriku sendiri, aku bangga dengan prosesku, aku bangga dengan jalanku yang sepi dan pelan tapi aku bertahan, aku bangga pada diriku sendiri karena aku masih di sini, masih berjuang, dan masih percaya bahwa masa depan yang cerah sudah di depan dan lebih baik.*
Perempuan itu aku dan aku tidak menyerah.
Oleh. Norie Khoiril Qiromah
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment