Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sejarah
Revisi Sejarah: Pro Kontra yang Muncul Setelahnya
“Sejarah merupakan bukti kemajuan suatu bangsa, jangan sekalipun engkau melupakan sejarah bangsa sendiri dengan membiarkan sang pemenang menulisnya sesuka hati.”
APERO FUBLIC I OPINI.- Pada tanggal 14 Desember 2025 kemarin, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meluncurkan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Globalisasi di Gedung Kemendikdasmen yang terdiri dari sepuluh jilid.
Sebelum terbit, rencana revisi sejarah ini sendiri menuai banyak kontroversi. Meskipun pada dasarnya revisi sejarah sudah normal dilakukan, terlebih dengan adanya penelitian sejarah yang dilakukan terus menerus untuk melengkapi unsur yang hilang dalam sejarah yang telah ada.
Salah satu arkeolog Indonesia, Harry Truman Simanjuntak memutuskan keluar dari tim penulisan ulang sejarah Indonesia karena alasan pribadi dan pertimbangan akademis. Belum lagi, di bulan Juni kemarin Fadli Zon membuat kehebohan perihal pernyataannya yang menyebutkan kalau peristiwa pemerkosaan massal tahun 1998 hanyalah sebuah rumor.
Meski telah dijelaskan kalau yang dipermasalahkan hanyalah istilah ‘massal’ yang menempel pada kasus tersebut, pernyataan ini tetap berakhir menjadi kontra di masyarakat, khususnya dari berbagai lembaga keperempuanan yang ada di Indonesia.
Selain itu, banyak masyarakat yang tidak setuju dengan revisi sejarah ini karena dianggap telah menghapus banyak peristiwa kemanusiaan, yang terjadi di tahun 1998 pada akhir era orde baru. Terlebih, pada revisi sejarah kali ini terkesan terlalu “bersih” dari pemberontakan yang terjadi dengan penulisan sejarah dengan “tone positif”.
Memang, pada dasarnya revisi pada sejarah selalu ada terlebih dengan terus berjalannya penelitian yang ada untuk melengkapi unsur yang hilang pada lini masa sejarah. Namun, revisi sejarah ada untuk melengkapi bagian yang hilang, tidak menulis ulang atau menghapus kejadian yang benar-benar terjadi.
Isu utama pada perevisian sejarah ini tidak berpusat pada munculnya fakta baru, melainkan pada berbagai peristiwa yang hilang pada draft penulisan buku “Sejarah Indonesia” yang ada.
Hal ini menimbulkan banyak pendapat dari banyak pihak. Meski revisi ini dapat memunculkan perspektif dan temuan sejarah terbaru, hal ini pun menimbulkan kekhawatiran akan penggunaan sejarah sebagai alat kekuasaan, mengaburkan fakta dan alat propaganda dengan adanya narasi sejarah yang diubah.
Sebuah bangsa tak bisa semata-mata menghapuskan sejarah kelam dari bangsa mereka sendiri, melainkan tetap diingat untuk dijadikan pelajaran di kemudian hari. Sejarah ada untuk dijadikan pelajaran untuk masa depan, tidak untuk ditulis ulang oleh “Sang Pemenang” di kemudian hari. Jas Merah, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.
Oleh: Dinda Fitriaulia Adi
Mahasiswi dari Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment