Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Ketika Gosip Menjadi Tajuk, dan Nyawa Manusia Terpinggirkan
APERO FUBLIC I OPINI.- Ruang publik kembali riuh oleh isu personal yang menyeret nama seorang tokoh atau mantan bupati ridwan kamil. Isu yang bersifat pribadi, yang beredar luas di media sosial dan perbincangan khalayak, mendadak menjadi konsumsi utama. Judul-judul sensasional bermunculan, komentar demi komentar mengalir deras, seolah itulah persoalan paling genting di negeri ini.
Padahal, di sudut lain Indonesia, Aceh Tamiang masih bergulat dengan luka yang belum sembuh. Banjir besar yang merenggut keselamatan warga, menghancurkan rumah, dan memporak-porandakan kehidupan masyarakat hingga hari ini belum menemukan kejelasan.
Siapa yang harus bertanggung jawab? Apakah ini murni bencana alam, atau akibat penggundulan hutan dan pembalakan yang dibiarkan berlangsung?.
Ironisnya, tragedi yang menyangkut banyak nyawa justru kalah gaung dibanding isu pribadi yang tidak merugikan keuangan negara dan tidak menggunakan uang rakyat. Gosip menjadi headline, sementara penderitaan warga Aceh Tamiang perlahan menghilang dari radar perhatian nasional.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius: apakah publik sedang diarahkan untuk sibuk menghakimi urusan pribadi, sementara kejahatan lingkungan dan kelalaian struktural dibiarkan tanpa sorotan?
Hutan yang digunduli tidak viral. Sungai yang meluap akibat rusaknya ekosistem tidak trending. Tangisan warga yang kehilangan rumah tidak sepopuler isu kehidupan pribadi tokoh publik.
Di sinilah kita patut waspada ketika sensasi mengalahkan substansi, dan opini publik digiring menjauh dari persoalan yang sesungguhnya menyangkut masa depan dan keselamatan rakyat.
Aceh Tamiang tidak butuh keheningan. Rakyat berhak atas penyelidikan yang transparan, atas jawaban siapa dalang di balik kerusakan lingkungan yang mereka tanggung.
Dan bangsa ini seharusnya lebih peduli pada nyawa manusia ketimbang larut dalam hiruk-pikuk isu yang tak berdampak langsung pada kepentingan publik.
Oleh: Ikhsan Bukhori
Mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia. Jurusan Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Sastra
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment