Filsafat
Hukum
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Nilai Intrinsik Alam: Sumber Kehidupan dan Landasan Epistemik Manusia
APERO FUBLIC I OPINI.- Ditengah dinamika Geopolitik lokal, nasional, yang sebegitu ambisi atas kepentingan personal dan rumpun masing-masing, ketidakbijakan struktural birokrasi pada waktu yang sama, kemudian maraknya Eksploitasi (Sumber daya alam), yang merupakan satu tantangan signifikan bagi Eksistensi keberadaan keberlanjutan Kehidupan Manusia.
Dalam hal ini, Filsafat hadir sebagai ruh kontemplasi, basis Doktrinal konstruktif bangunan berfikir Manusia modernitas, kiranya harus kembali pada orientasi kebijaksanaan dan pertimbangan rasional pada keseimbangan Alam dan ekologis hidup ketika manusia bertindak dalam struktur kaitannya dengan alam tidak kemanusiaan.
Dimana, filsafat mendudukkan organisme hidup manusia berdampingan dengan alam raya, yang pada hakikatnya alam merupakan sumber kehidupan dan pengetahuan manusia, untuk manusia merealisasikan dirinya di Alam.
Alam merupakan fase oral manusia dalam perjalanan konstruksi epistemologis nya. Manusia, dalam proses konstruksi pembentukan pengetahuan, tidak bisa terlepas pijakan-pijakan Alam nya. Olehnya itu, Alam harus dijaga.
Bagi Marx, dalam (Manuskrip Ekonomi dan Filsafat,1844), relasi manusia dengan alam merupakan relasi Dialektis: Alam memberi daya pada manusia dan manusia untuk merealisasikan dirinya di Alam harus ada upaya.
Semua kebutuhan manusia—makanan, pakaian, tempat tinggal— berasal dari alam. Namun manusia tidak hanya menerima alam secara pasif, melainkan mengolahnya. Artinya, manusia dengan alam adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Begitu dalam tinjauan nya (filsafat), relasi manusia dengan alam pada gilirannya sangat esensial dalam tubuh filsafat. Alam dan manusia merupakan syarat materiil filsafat yang tidak hanya terbatas pada ruang atau waktu tertentu.
Alam sebagai entitas harus dijaga, alam merupakan cerminan dari kebijaksanaan Tuhan. ketika sains menawarkan metodologi Eksploitasi hutan, Filsafat dengan landasan teoritis bahwa Alam satu-satunya sumber kehidupan dan pengetahuan manusia, dengan keberagaman pemaknaan teoritis terhadap Alam.
Pada waktu yang sama, kemajuan teknologi yang begitu pesat, bencana alam tidak saja bukan lagi dilihat konsekuensi dari keberlakuannya mekanisme hukum alam, melainkan akumulasi keputusan politik buruk. Dalam hal ini, penyebab yang mendasari kehancuran alam merupakan konklusi dari keserakahan manusia.
Sebab, manusia adalah makhluk yang idealistis, tingkat keinginan dan kecenderungannya sangat tinggi, dan tendensi kepentingan politik yang begitu ekstrem sehingga tidak lagi melihat alam pada Dimensi Teoritis nya, tetapi cenderung jatuh melihat alam pada Dimensi Praktis nya.
PENULIS : Fahmi r Odarth
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Filsafat

Post a Comment