Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Sastra Kita
Ketika Sahabat Menjadi Rumah
APERO FUBLIC I CERPEN.- Sejak kecil, Aira dan Dafa tumbuh Bersama seperti dua garis yang berjalan sejajar. Mereka tinggal di desa kecil yang dilingkeri hamparan sawah hijau dan aliran Sungai yang mengalir tenang. Seolah tak pernah tergesa oleh waktu.
Setiap hari setelah sekolah Langkah mereka selalu menyatu-menyusuri, pematang, Melewati pohon-pohon yang berdiri teduh sementara angin membawa bau tanah basah dan padi muda.
Aira selalu membawa pulang cerita-cerita baru tentang guru yang galak, tentang mimpi-mimpi aneh, tentang dunia yang ingin ia jelajahi kelak.
Sementara Dafa selalu jadi pendengar setia tanpa pernah merasa bosan. Mereka tumbuh seperti akar-akar yang saling bertautan di bawah padi yang hijau, tak terlihat, namun saling menguatkan.
Ketika SMP, jalan pulang mereka berubah. Sekolah yang lebih jauh tugas semakin banyak, Namun mereka tetep berjalan Bersama, meski Langkah sering kali dipercepet oleh Lelah.
Suatu sore, hujan turun deras secara tiba-tiba. Langit menggelap, Aira dan Dafa berteduh di bawah pohon dekaet sawah. Untuk pertama kalinya, Aira yang biasanya banyak bicara, mendadak diam.
Tatapannya tertuju pada hujan yang jatuh satu-persatu, seolah menympan sesuatu dibalik rintiknya.
Dafa merasa bingung dengan sikap Aira dan meliriknya.
“Ada apa ?.” Tanya Dafa.
Aira menatap rintik hujan yang turun, “Aku takut kita akan berubah dan asing, kita nanti SMA akan beda sekolah, terus kuliah juga beda kota. Aku takut kamu lupa sama aku.”
Dafa menghela napas dan menatap Aira “Aku nggak bakalan lupain kamu, Kita dari kecil tumbuh bersama, mana mungkin aku secepat itu lupain kamu.”
Aira menatap Dafa penuh harapan “Janji ?.”
“Iya, aku janji sama kamu.” jawab Dafa.
Mengacungkan jari kelingkingnya, Aira tersenyum bahagia dan menautkan jarinya.
Waktu berjalan begitu cepat. Waktu yang ditunggu tiba, mereka benar-benar masuk SMA berbeda. Aira aktif di organisasi. Sementara Dafa sibuk dengan les dan kerja sampingan di bengkel milik pamannya.
Jalan mereka tak lagi sama, Namun setiap kali bertemu dijalan Ketika pulang sekolah, mereka masih bisa tertawa mengenang masa kecil mereka.
Setelah hari itu, mereka hampir dua bulan tidak bertemu lagi, Aira mengajak Dafa pergi ke pinggir sawah tempat dulu mereka berjanji. Senja hampir turun dan langit memerah indah.
“Aku diterima kuliah di Malang." kata Aira dengan suara pelan.
Dafa terdiam mendengar Aira “Serius Ra...?, kapan kamu berangkat ?.”
“Sebulan lagi Daf. ” jawab Aira dengan lemah.
Hening Panjang dengan suara pohon yang tertiup angin dan burung-burung yang berterbangan di langit yang cerah. Dafa menunduk, seolah kata-kata tertinggal di tenggorokannya, Aira tersenyum menatap Dafa, meski matanya sedikit berkaca-kaca.
“Kita bakal jarang ketemu dan bakal semakin jauh Daf.” katanya.
Dafa akhirnya berbicara “Jarak itu urusan tempat tapi sahabat itu urusan hati.”
Aira menatapnya lama. Lalu pelan-pelan ia tersenyum.
“Kita tetap sahabatkan?.” tanya Aira.
“Selamanya.“ jawab Dafa tegas.
Ketika mereka melangkah pulang, jejak kaki mereka kembali menelusuri jalan yang dulu biasanya jadi tempat mereka bersama, Meski sekarang keduanya tahu bahwa suatu saat jejak itu akan terpisah.
Namun di dalam hati, jalan persahabatan mereka akan tetap satu, tak peduli ke mana langkah masing-masing membawa mereka.
*****
Sudah tiga tahun sejak Aira pergi kuliah ke Malang. Suasana desa kecil itu masih sama, sawah hijau, pohon-pohon rindang, yang berbeda hanya satu yaitu jejak kaki Aira yang tak lagi terlihat di jalan.
Dafa kini bekerja di bengkel milik pamannya, sedangkan Aira berada di Malang, setiap pulang saat libur semester, Aira dan Dafa menghabiiskan waktu bersama, namun setelah libur selesai, Aira kembali ke Malang, menyisakan Dafa sendirian.
Suatu sore, di awal musim hujan, Aira pulang lagi dengan penampilan yang berbeda, rambut sudah semakin Panjang, badan sedikit kurus dan mata yang terlihat sangat lelah, namun senyumannya teteap hangat seperti dulu.
“Daf!.” Aira memanggil dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Dafa yang melihat Aira langsung tersenyum “ Akhirnya pulang juga.”
Mereka jalan kembali bersama menelusuri sawah seperti saat kecil dulu.
“Aku pulang bukan Cuma karena liburan” kata Aira pelan sambil menunduk.
“Hah, maksudmu apa?.” tanya Dafa.
Aira menggigit bibirnya sejenak sebelum bicara. “Aku dapat beasiswa ke Korea, setahun.”
Dafa terdiam, langkahnya berhenti, hatinya terasa seperti seperti ada yang menekan.
“ Wow…. Itu keren banget." katanya sambil tersenyum.
Aira menatapnya “Kamu nggak sedih ?.”
“Kenapa harus sedih? Kamu mengejar mimpi kamu, dan Aku sangat bangga sama kamu, Ra”
Aira menunduk.
“Aku takut kehilangan kamu Daf, Semakin jauh Aku pergi, semakin banyak hal yang berubah.”
“Aku di sini, kamu jangan khawatir dan aku akan tetap jadi sahabatmu.” jawab Damar lembut.
*****
Angin sore bertiup pelan, daun-daun berguguran, memunculkan suasana yang menenangkan. Setelah mereka sampai di pinggir sawah tempat mereka berjanji saat hujan deras dulu.
Aira duduk di tepi sawah “Daf.. kamu tahu nggak, waktu kita berpisah, Aku sering kangen ingin pulang, tapi yang aku kangenin bukan desa ini.”
Dafa duduk di sampingnya, menoleh “ Terus siapa?.”
Aira tersenyum kecil ”Kamu.”
Kata-kata itu membuat hati Dafaterasa hangat sekaligus sakit. Ia tahu perasaannya pada Aira jauh lebih besar dari pada sahabat. Tapi ia juga tahu, mimpi Aira jauh lebih besar dan dia tidak pernah ingin menjadi alasan Aira berhenti.
“Ra…” suara Dafa bergetar. “Kalau suatu hari kamu merasa lelah, kamu bisa pulang, pulang ke rumah, pulang ke jalan ini…dan pulang ke Aku."
Aira menatap Dafa dengan mata berkaca-kaca. “Kamu sahabat terbaikku, Daf.”
Dafa tersenyum. “Dan kamu mimpi terbaikku.”
Hari keberangkatan Aira tinggal dua hari lagi. Desa kecil itu seperti ikut merasa kehilangan Aira, langit sering mendung dan hujan turun rintik-rintik.
Aira menghabiskan waktu Bersama Dafa sebelum ia pergi ke Korea. Mereka pergi mengelilingi sawah tempat mereka bermain dulu. Namun selama keliling, Aira selalu diam lebih lama dari biasanya, seola dia menyimpan semuanya dalam hati.
*****
Malam sebelum ia kembali ke Malang, Aira pergi ke rumah Dafa, Hal ini membuat Dafa terkejut melihatnya berdiri sambil membawa dua botol minuman soda dan tersenyum lebar.
“Ayo jalan.” Kata Aira.
“Sekarang ?, malam-malam begini ?.”
“Iya. Sekali ini saja.”
Mereka akhirnya berangkat menuju sawah, tempat semua cerita dan janji mereka bermula.
Di bawah langit malam, Aira duduk di tepi sawah dan menyerahkan satu botol soda ke Dafa.
“Kita minum untuk merayakan.. kedewasaan kita.” kata Aira sambil mengangkat botolnya.
Dafa membuka botolnya “Kita sudah dewasa?.”
“Ya… berusaha dewas."
Mereka bersulang, suara denting dari botol minumn terasa seperti perjalanan panjang mereka.
“Daf..” kata Aira tiba-tiba. Sebelum Aku pergi aku mau ngomong sesuatu.”
Dafa menoleh, matanya lansung menatap serius “Apa ?.”
Aira menelan ludah. “Aku takut. Takut kehilangan semuanya. Takut kalau Aku berubah, atau kamu berubah. Takut kalau jarak bikin kita jadi orang asing.”
Dafa menarik napas Panjan. “Ra.. Aku juga takut kekhilangan kamu.”
Dafa menatap padi-padi yang hijau. “Karena kamu adalah orang yang paling lama dalam hidupku. Dan Aku takut suatu hari, Aku uma jadi masa kecilmu yang kamu ceritakan ke orang lain.”
Aira terdiam, suaranya lirih saat bicara, “ Daf… kamu bukan hanya teman masa kecilku, tapi kamu rumahku. Kamu sahabat yang selalu aku cari, bahkan kalau aku teresat sekalipun.”
Dafa menggenggam botol di tangannya erat, ia ingin mengaku bahwa perasaannya jauh lebih dari pada sahabat tetapi ia tahu sekarang bukan waktu yang tepat.
Jadi ia memilih berkata, “Kalau kamu rumahku, Ra… maka kamu selalu punya jalan pulang. Meski sejauh apa pun kamu pergi.”
Dan malam itu, sebelum berpisah, Aira berkata,
“Kalau suatu hari aku kembali… Aku harap kamu masih ada di jalan ini.”
Dafa tersenyum lembut. “Aku akan selalu ada.”
*****
Musim dingin menyambut Aira di Jepang. Sebagai mahasiswa pertukaran, ia sibuk dengan kuliah dan kehidupan baru. Setiap malam, ia membaca pesan Dafa dari desa, pesan sederhana yang selalu mengingatkannya untuk makan dan beristirahat.
Namun, seiring waktu, balasan Aira semakin jarang. Jarak dan kesibukan perlahan membuat komunikasi mereka sunyi.
Di desa, Dafa menjalani hari-hari berat.
Pamannya sakit, bengkel sepi, dan ia bekerja apa saja demi bertahan. Ia rindu Aira, tetapi memilih diam agar tidak menjadi beban. Rindu mereka tumbuh tanpa pernah benar-benar terucap.
Suatu hari, Aira mengirim pesan panjang tentang salju dan kerinduannya. Pesan itu tidak pernah terbaca, ponsel Dafa mati saat ia berjaga di rumah sakit. Sejak itu, keduanya sama-sama menunggu dalam kebisuan.
Ketika Aira pulang saat liburan. Mereka kembali berbincang seperti dulu, tentang mimpi, ketakutan, dan masa kecil. Di tepi sawah yang hijau, Aira berkata lirih, “Kamu itu rumah buat aku.”
Dafa menjawab pelan, “Kamu selalu punya tempat pulang di sini.” Sambil menunjuk dadanya.
Dafa menatap padi-padi yang hijau. Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hanya suara air dan angin malam yang menemani.
“Aku nggak tahu masa depan akan membawa kita ke mana,” kata Dafa akhirnya, suaranya.
Tenang namun jujur. “Tapi selama kamu masih mau pulang, aku akan ada di sini.”
Aira tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ia tidak membutuhkan janji besar atau kepastian yang terlalu cepat. Kata-kata itu sudah cukup, cukup untuk menenangkan hatinya yang lama berjalan sendirian.
Malam itu, mereka duduk lebih lama dari biasanya. Tidak banyak kata, tetapi keheningan di antara mereka terasa hangat. Seperti dua sahabat yang akhirnya mengerti bahwa jarak pernah menjauhkan, namun tidak pernah memutuskan.
Keesokan harinya, Aira kembali berangkat membawa mimpi dan harapan. Namun kali ini, ia pergi tanpa rasa takut kehilangan. Karena ia tahu, sejauh apa pun langkahnya melangkah, selalu ada satu tempat yang menunggunya pulang dan satu nama yang akan selalu menjadi rumah.
PENULIS: Baiq Listia Malini
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment