Kampus
Lingkungan
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Ketika Hutan Sumatra Ditebang, Jepang Menumbuhkan Pohon Tanpa Menebangnya"
Hutan Hujan Tropis Sumatra (Foto : Instagram/@paulhiltonphoto)
APERO FUBLIC I OPINI.- Sumatra dikenal sebagai salah satu pulau dengan hutan hujan tropis terluas di Indonesia. Namun dalam beberapa dekade terakhir, Hutan di Sumatra semakin berkurang akibat penebangan pohon yang terus terjadi.
Banyak pohon ditebang untuk membuka lahan, mengambil kayu, atau membangun fasilitas seperti rumah. Akibatnya, alam menjadi rusak dan Masyarakat sekitar hutan mulai merasakan dampaknya, seperti banjir, tanah longsor, dan berkurangnya sumber air bersih karena tidak adanya penyerapan air ke tanah.
Sumatra baru-baru ini dilanda banjir besar yang tak hanya membawa air dan lumpur ke pemukiman , tetapi juga puluhan hingga ratusan batang kayu gelondongan yang hanyut dari hulu Sungai.
Kayu kayu besar ini terus menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia dan dunia, hingga para ahli lingkungan karena dugaan bukan hasil alami dari hutan yang ambruk.
FENOMENA KAYU GELONDONGAN YANG TERBAWA ARUS BANJIR, DARIMANA?
(Foto : Dokumen Beritamerdeka.net)
Kayu Gelondongan di Kampung Menanggini Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang
Fenomena kayu gelondongan yang terbawa oleh banjir ini membuat banyak pihak bertanya, dari mana asalnya? Pemerintah dan penegak hukum tengah menyelidiki apakah kayu kayu tersebut berasal dari penebangan hutan, atau memang hasil alami dari bencana banjir tersebut.
Menurut Prof Dodik Ridho Nurochmat, selaku Ahli Kebijakan Hutan IPB University, kayu kayu besar dan kecil tampak berserakan di lokasi bencana tidak berasal dari satu penyebab tunggal.
Berdasarkan informasi visual yang beredar di media sosial dan televisi, ia menilai kayu tersebut kemungkinan berasal dari campuran penebangan, pohon tumbang, serta sisa land clearing yang tidak di bersihkan.
“Bisa dari penebangan lama atau pembersihan lahan yang tidak tuntas. Jika terbawa arus, kayu itu akan mengambang. Namun bisa juga dari penebangan kayu yang baru. Untuk itu harus di investigasi”, ujarnya.
Prof Dodik juga menjelaskan perbedaan kayu hasil pembalakan dengan kayu tumbang alami. Menurutnya, kayu hasil penebangan pasti memiliki bekas dari gergaji.
Sementara kayu yang tumbang alami tidak memiliki pola potongan yang rapi. Namun ia menilai sulit melakukan identifikasi detail hanya dari video atau foto.
“Dari gambar terlihat potongan kayu berukuran kecil dan besar. Tapi tidak bisa dilihat secara detail apakah potonganya rapi atau akibat tumbang alami”, katanya. Ia menekankan perlunya pembenahan tata kelola lingkungan lingkungan agar kejadian serupa dapat dicegah.
TEKNIK DAISUGI DITERAPKAN OLEH JEPANG SEJAK ABAD-14
Teknik Daisugi Jepang (Foto : By Wrath Of Gnon https://x.com/wrathofgnon/status/1250287741247426565/ )
Di sisi lain dunia, jepang justru mengembangkan pengelolaan hutan dengan cara tradisional yang telah diterapkan sejak abad ke-14, cara ini disebut teknik Daisugi.
Jepang memiliki cara unik dalam memanfaatkan pohon, yang dimana tunas tunas baru tumbuh lurus diatasnya lalu kayu dapat di panen dalam jangka panjang tanpa harus menebang pohon induknya.
Jepang berhasil menjaga stabilitas hutan sekaligus memenuhi kebutuhan material bangunan. Perbedaan ini menunjukkan cara pandang yang sangat berbeda terhadap hutan. Di Sumatra, hutan sering dianggap sebagai sumber kayu yang bisa dihabiskan.
Sedangkan dijepang, hutan dirawat agar bisa terus menerus menghasilkan tanpa merusaknya. Teknik Daisugi mengajarkan bahwa manusia bisa mengambil hasil alam sambil tetap menjaga kelestariannya.
Ditengah semakin seringnya bencana alam dan perubahan iklim, cara manusia memperlakukan hutan perlu dipikirkan kembali. Perbandingan antara Sumatra dan jepang menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak harus merusak alam. Jadi pilihan ada ditangan manusia. Terus merusak, atau Mulai menjaga alam untuk masa depan.
PENULIS : Ringga Kusuma Wardana
Mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment