Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Teknologi
Generasi Z dan Milenial Borong Aplikasi Dating: Hiburanatau Jebakan?
APERO FUBLIC I OPINI.- Data Ungkap Realitasnya Menurut data terbaru (awal 2024), Tinder, Tantan, dan Bumble adalah aplikasi dating paling populer di Indonesia, dengan Tinder memimpin dengan 38%, diikuti Tantan dengan 33%, dan Bumble dengan 17%, menurut survei Populix/GoodStats.
Di sisi lain, survei lain (Pertengahan 2024) menunjukkan bahwa Bumble mendominasi jumlah trafik, menunjukkan persaingan sengit dengan Tinder. Pengguna didominasi oleh generasi muda (Milenial dan Gen Z), yang sering datang untuk hiburan, sosialisasi, dan mencari pasangan serius. Omi akan menjadi pemimpin unduhan global pada tahun 2024.
Laporan Indonesia Usage Behavior and Online Security on Dating Apps
Menunjukkan bahwa sebanyak lima puluh persen responden yang menggunakan aplikasi kencan online berhasil mencapai tahap pacaran. Hubungan mereka sayangnya tidak bertahan lama setelah itu. Sementara 13% responden mengaku dalam tahap pacaran, dan 7% berhasil sampai jenjang pernikahan, hubungan mereka tidak bertahan lama.
“Hanya 20 persen pengguna aplikasi kencan online yang bisa menikah atau berkomitmen, menunjukkan bahwa pendekatan hati-hati diambil pengguna dalam proses pencocokan tersebut,” bunyi laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps. Sedangkan, 30 persen responden pengguna aplikasi kencan online mengaku belum pernah sampai ke tahap pacaran.
Berdasarkan hasil survei Populix yang tercantum dalam report “Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps” Februari 2024, sebanyak 63% responden mengaku menggunakan aplikasi kencan online, dengan mayoritas berasal dari generasi milenia. Dari data menunjukkan persaingan ketat di pasar aplikasi dating Indonesia, dengan Tinder memimpin pangsa pasar (38%) berdasarkan survei awal 2024, diikuti Tantan (33%) dan Bumble (17%).
Namun, survei pertengahan 2024 menunjukkan Bumble mendominasi traffic share, yang mengindikasikan pergeseran dinamis mungkin karena fitur Bumble yang lebih fokus pada empowermen wanita dan interaksi berkualitas.
Secara global, Omi muncul sebagai pemimpin unduhan 2024, menandai tren aplikasi lokal atau regional yang mulai bersaing dengan raksasa internasional. Opini saya: Persaingan ini positif untuk inovasi, tapi pengguna perlu lebih selektif karena perbedaan fitur (misalnya, Tinder lebih kasual, Bumble lebih serius) bisa memengaruhi pengalaman.
Demografi dan Tujuan Penggunaan
Pengguna didominasi generasi muda (Milenial dan Gen Z), dengan 63% responden survei Populix menggunakan aplikasi ini, mayoritas milenial. Tujuan utama bukan hanya mencari pasangan serius, melainkan hiburan dan sosialisasi. Ini mencerminkan perubahan budaya di Indonesia, di mana aplikasi dating menjadi alat untuk membangun jaringan sosial di era digital.
Opini saya: Ini menunjukkan evolusi dari stigma negatif dulu menjadi norma, terutama di kalangan urban. Namun, risiko seperti penipuan atau ekspektasi berlebih tinggi, sehingga pendidikan digital penting untuk generasi ini agar penggunaan lebih aman dan bermakna.
Keberhasilan Hubungan dan Tantangan
Statistik mengejutkan: hanya 20% dari responden yang mencapai komitmen jangka panjang, 30% belum pernah pacaran sama sekali, 13% pacaran aktif, dan 7% menikah. 50% dari mereka akhirnya putus. Menurut laporan, sikap hati-hati pengguna sangat penting.
Saya pikir angka ini menunjukkan bahwa aplikasi dating lebih baik untuk pertemuan awal daripada hubungan jangka panjang. Ini mungkin karena ekspektasi yang tidak realistis, budaya "swipe" yang mendorong keputusan impulsif, atau kurangnya verifikasi identitas.
Di Indonesia, fitur keamanan lebih baik diperlukan karena faktor budaya seperti tekanan keluarga atau norma sosial dapat memperburuk putusnya hubungan. Saya percaya bahwa persaingan antara Tinder, Tantan, dan Bumble sangat bermanfaat untuk inovasi baru Bumble karena orang mulai bosan dengan swipe kasual dan menginginkan sesuatu yang lebih "beradab".
Namun, secara pribadi, saya pikir pasar ini terlalu ramai: orang Indonesia mungkin lebih suka Tantan karena ia lebih lokal dan akrab, sementara Tinder masih menjadi raja bagi mereka yang suka pengguna dari seluruh dunia.
Opini pribadi: Bumble memiliki fitur yang memberi kontrol kepada wanita dengan kurang drama dan lebih empati, jadi saya mungkin akan mencobanya dulu. Tapi, jujur, aplikasi ini seringkali hanyalah sebagai hiburan daripada sumber cinta sejati. Saya senang dengan data yang menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial mendominasi; ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak takut stigma dan
lebih terbuka.
Saya melihat ini sebagai kemajuan sosial karena aplikasi ini memungkinkan orang untuk berhubungan dan mencari pasangan di dunia yang semakin digital. Secara pribadi, saya setuju bahwa tujuannya adalah untuk menghibur dan bersosialisasi, tapi saya khawatir generasi ini terlalu bergantung pada layar HP "hidup" di dunia maya. Budaya gotong royong Indonesia sangat kuat, jadi aplikasi ini bisa membantu. Namun, mereka tidak boleh mengganti interaksi nyata.
Lebih baik menggunakannya sebagai alat latihan komunikasi daripada sebagai pengganti kehidupan sosial. Karena tekanan budaya dan keluarga yang ada di Indonesia, hubungan online sering gagal karena kurangnya verifikasi atau komunikasi yang mendalam. Saya mungkin lebih memilih pendekatan konvensional, seperti teman atau acara sosial, yang lebih autentik.
Namun, 7% orang yang menikah menunjukka optimisme. Aplikasi dating itu alat yang bagus untuk era sekarang, tapi jangan jadikan satu-satunya cara cari cinta. Data ini menunjukkan tren positif untuk koneksi, tapi tantangannya besar keamanan, ekspektasi, dan budaya. Kalau mau sukses, fokus pada kualitas interaksi, bukan kuantitas swipe.
Oleh: Assyfa Putri Ramdhani
Mahasiswa Universitas kebangsaan Republik Indonesia.
Email: assyfaramadhani03@gmail.com
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment