Esai
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Dampak Bullying terhadap Pendidikan dan Psikologi Siswa Sekolah Dasar
APERO FUBLIC I ESAI.- Manusia disebut makhluk sosial karena dalam kehidupannya selalu terjadi proses interaksi di antara mereka. Setiap orang menghadapi konflik dan masalah yang berbeda-beda, mulai dari masalah konflik dalam sistem sosial, masalah konflik kekerasan, dan maupun konflik verbal maupun non verbal.
Menurut Coloroso, bullying adalah suatu tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok berkuasa terhadap kelompok yang lebih lemah, yang disengaja bertujuan untuk merugikan korbannya. Perilaku school bullying tidak hanya berdampak merugikan pada korban, melainkan juga berdampak pada seluruh lingkungan sekolah.
Riset menunjukkan bahwa korban bullying seringkali mengalami dampak emosional yang serius, seperti depresi, kecemasan, dan bahkan Perilaku Bullying Pada Anak Di Sekolah Dasar pemikiran untuk mengakhiri hidup.
Efek-efek tersebut juga dapat mempengaruhi pencapaian akademis mereka dan kualitas hidup secara keseluruhan. Sementara itu, pelaku bullying juga bisa menghadapi konsekuensi jangka panjang, termasuk keterlibatan dalam perilaku kriminal di masa depan. (Putri Felita Listiani et al., 2024).
Dari beberapa data yang penulis temukan bahwasannya anak yang mengalami bullying di usia dini lebih rentan terhadap berbagai masalah di kemudian hari, termasuk kesulitan dalam menjalin hubungan sosial dan risiko lebih tinggi terhadap perilaku menyimpang.
Oleh karena itu, memahami dampak bullying di sekolah dasar dan mengembangkan strategi pencegahan yang efektif menjadi sangat penting untuk melindungi kesejahteraan siswa dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.(Saiful Rahman et al., 2021).
Argumentasi:
Di Indonesia kasus bullying semakin tinggi saat ini salah satu kasus yang sangat terkenal yaitu kasus siswa sekolah dasar mensetubuhi kucing karena disuruh oleh temannya kemudian videonya viral di sosial media.
hal ini berakibat korban mengalami goncangan psikis yang berat sehingga tidak mau makan dan mengalami penurunan kondisi fisik hingga meninggal dunia. Bukan ini saja terdapat kasus siswa sekolah dasar kelas 2 yang mengalami perundungan oleh kakak kelasnya yaitu kelas VI hingga koma.
Menurut data Programme for International Students Assessment (PISA) anak dan remaja di Indonesia mengalami 15 persen intimidasi, 19 persen dikucilkan, 22 persen dihina, 14 persen diancam, 18 persen didorong sampai dipukul teman dan 20 persen digosipkan kabar buruk.
Tak hanya itu United Nation International Children’s Emergency Fund (UNICEF) mencatat bahwa Indonesia memiliki persentase tinggi terkait kekerasan anak. Bila dibandingkan negara Asia lainnya seperti Vietnam, Nepal maupun Kamboja, Indonesia menempati posisi yang lebih tinggi.
Bullying di SD Muhammadiyah 07 terpadu paling banyak terjadi dalam bentuk ejek-ejekan nama orang tua, nama panggilan, ada juga siswa yang mengatakan najis dan mengejek bau badan, memukul siswa lain, dan berkelahi antar siswa.
Bullying terjadi sebagai bentuk tindakan untuk menunjukkan kekuasaan pelaku bullying, sakit hati, dan bercanda berlebihan. Dampak dari bullying yang terjadi di SD Muhammadiyah 07 Terpadu membuat siswa menjadi tidak percaya diri, khawatir dengan lingkungan, tidak nyaman bila dekat perilaku bullying, malu, marah, dan trauma.
Siswa tidak percaya diri dalam menyampaikan pendapat ketika pembelajaran bahkan tidak percaya dengan kemampuan diri yang dimiliki oleh siswa. Individu yang tidak percaya diri biasanya disebabkan oleh individu tersebut tidak mendidik sendiri dan hanya menunggu orang melakukan sesuatu kepada dirinya (Masturina, 2018; Sahrunanca & Wulandari, 2013).
Korban bullying seringkali mengalami tingkat stres dan kecemasan yang tinggi (Khairunnisa et al, 2022). Mereka mungkin merasa takut, cemas, dan khawatir setiap hari, terutama ketika berada di lingkungan sekolah. Stres yang berkepanjangan dapat mengganggu konsentrasi, belajar, dan performa akademik mereka.
Bullying dapat merendahkan harga diri korban (Febriana, 2017). Korban dapat merasa rendah diri, tidak berharga, dan merasa tidak ada yang peduli terhadap mereka. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kepercayaan diri dan merusak citra diri yang positif.
Berbagai dampak yang muncul akibat perilaku bullying terhadap korbannya bisa berdampak kepada fisik dan psikologis korban, bahkan ada korban yang sampai merasa depresi dan jauh dari sosial lingkungan sekitarnya.
Menurut Zulqurnain & Thoha (2022) perilaku bullying hanya membuat anak takut terancam, rendah diri dan tak ada nilainya, sulit berkonsentrasi pada saat bbelajar, sulit bersosialisai dengan lingkungannya, tidak mau sekolah, sulit bersosialisasi dan menjadi seseorang yang tidak memiliki percaya diri, sulit untuk berfikir hingga prestasi akademiknya menurun.
Dapat disimpulkan dampak secara psikologis dari korban bullying di SD Muhammadiyah 07 Terpadu yang terlihat adalah kurangnya rasa percaya diri siswa, takut dengan lingkungan sekitar jika tidak ada guru atau orang yang lebih dituakan, trauma tidak mau berteman dekat dengan pelaku bullying, malu, dan marah tidak dikendalikan bila sudah tidak tahan diperlakukan tidak baik. Tulis penulis pada jurnal (Oktaviani, DKK. 2023).
Dampak bullying terhadap kesehatan mental merupakan permasalahan serius yang dapat memengaruhi korban dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Studi menunjukkan bahwa pengalaman menjadi korban bullying dapat berdampak negatif secara signifikan pada kesehatan mental individu, terutama pada anak-anak dan remaja.
Salah satu dampak utama dari bullying adalah terjadinya gangguan psikologis seperti depresi, kecemasan, dan gangguan tidur. Depresi merupakan salah satu dampak yang sering terjadi pada korban bullying. Mereka seringkali merasa sedih, kehilangan minat dalam aktivitas yang mereka sukai, dan merasa putus asa.
Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup mereka secara keseluruhan dan bahkan berpotensi memicu pemikiran atau perilaku yang merugikan diri sendiri (Wahani, 2022). Kecemasan juga merupakan dampak umum dari bullying.
Korban seringkali merasa cemas, takut, dan was-was dalam berbagai situasi, terutama di lingkungan sekolah. Hal ini dapat mengganggu konsentrasi mereka dalam belajar dan berinteraksi dengan orang lain, serta meningkatkan risiko pengembangan masalah kecemasan yang lebih serius di masa depan.
Selain dampak psikologis yang langsung terlihat, bullying juga dapat menyebabkan korban merasa tidak aman dan terisolasi di lingkungan sekolah. Perasaan tidak aman ini dapat menghambat partisipasi korban dalam kegiatan sekolah dan sosial, serta mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional mereka secara keseluruhan.
Dengan demikian, penting untuk memahami dampak-dampak ini secara mendalam agar langkah-langkah pencegahan dan intervensi yang tepat dapat diimplementasikan. Pencegahan bullying bukan hanya tentang mengurangi insiden bullying itu sendiri, tetapi juga tentang melindungi kesehatan mental dan kesejahteraan korban sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara optimal (Sari, 2022).
Reiterasi
Bullying merupakan tindakan agresif, baik secara berulang kali, dan terdapat perbedaan kekuatan antara pelaku dan korban. Dampak bullying bagi pelaku dan korban diantaranya pelaku bullying mempunyai empati yang minim dalam interaksi terhadap sosial.
Bukan hanya empatinya saja yang bermasalah tapi juga perilakunya pun tak normal. Perilaku yang hiperaktif dan pro-sosial saling berkaitan dengan tindakan pelaku bullying terhadap lingkungan disekitarnya. Pelaku bullying memiliki tingkat gangguan kesehatan mental terutama gejala emosional yang lebih tinggi dibandingkan dengan korban bullying.
Dampak bagi korban bullying seperti mengalami kekerasan fisik dan juga verbal. Tindakan seperti ini dapat menjadi trauma berkepanjangan bagi korban. Tidak hanya trauma saja yang dialami korban bullying, hasil belajar akademik juga sangat terpengaruh akibat korban bullying.
Kekerasan fisik yang diterima oleh korban bullying diantaranya sering terisolasi secara sosial, tidak mempunyai teman dekat, tidak memiliki hubungan baik dengan orang tua, kesehatan mental yang menurun, dan yang paling buruk bullying dapat mengakibatkan depresi hingga memicu bunuh diri.
Upaya mengatasi tindakan bullying pada anak yang paling utama yaitu memberikan kasih sayang, kepercayaan, dan melibatkan baik pelaku dan korban. Bukan itu saja diperlukannya kerjasama antara sekolah, guru, dan orang tua untuk mengatasi tindakan bullying terhadap anak (Lusiana, DKK. 2022).
Saran yang dapat penulis berikan yaitu penanganan bullying di sekolah dasar perlu melibatkan guru, sekolah, orang tua, dan siswa. Guru diharapkan menciptakan suasana kelas yang aman dengan menanamkan nilai empati dan saling menghargai serta peka terhadap perilaku siswa.
Sekolah perlu memiliki aturan anti-bullying yang tegas namun mendidik dan menyediakan layanan pendampingan. Orang tua diharapkan menjalin komunikasi dengan sekolah serta menanamkan sikap saling menghormati di rumah. Selain itu, siswa perlu didorong untuk berani melapor dan saling menjaga agar bullying dapat dicegah sejak dini.
Referensi:
Arifin, S. Lusiana, S. (2022). Dampak bullying terhadap kepribadian dan pendidikan seorang anak. Jurnal Pendidikan Keislaman, 10 (2), 337-350.
Oktaviany, D. Ramadan, Z. (2023). Analisis dampak bullying terhadap psikologi siswa sekolah dasar. Jurnal Educatio Fkip Unma, 9 (3), 1245-1251.
Yulianti, Y. Pakpahan, I. DKK. (2024). Dampak bullying terhadap kesehatan mental. Jurnal Mahasiswa BK An-Nur: Berbeda, Bermakna, Mulia, 10 (1), 153-160.
Oleh: Yeti Ramadhani
Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment