-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Esai Feature Kampus Opini Pendidikan Sejarah Sejarah Islam Ketika Sejarah Terasa Tidak Netral: Apakah Ilmuwan Muslim Sengaja Dihapus dari Ingatan Dunia?
Esai Feature Kampus Opini Pendidikan Sejarah Sejarah Islam

Ketika Sejarah Terasa Tidak Netral: Apakah Ilmuwan Muslim Sengaja Dihapus dari Ingatan Dunia?

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
06 Jan, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

APERO FUBLIC  I  KAMPUS.-  Jika hari ini kita bertanya kepada pelajar, mahasiswa, atau masyarakat umum: siapa tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia? Jawabannya hampir selalu sama. Nama-nama seperti Isaac Newton, Galileo Galilei, René Descartes, atau Albert Einstein akan muncul dengan cepat dan mantap.

Nama-nama itu tidak hanya diajarkan di sekolah, tetapi juga diproduksi ulang secara masif melalui buku teks, media populer, film dokumenter, hingga narasi besar tentang kemajuan peradaban manusia. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: mengapa narasi tersebut hampir selalu berpusat pada Eropa?

Ke mana perginya nama-nama seperti Al-Khwarizmi, Ibn Sina (Avicenna), Ibn al-Haytham (Alhazen), Al-Biruni, atau Ibn Rushd (Averroes)—tokoh-tokoh yang kontribusinya bukan sekadar lokal, melainkan menjadi fondasi bagi sains modern itu sendiri? Kecurigaan pun muncul di ruang publik: apakah sejarah ilmu pengetahuan memang netral?. 

Ataukah ada narasi Euro-sentris yang secara sistematis mengangkat Eropa sebagai pusat rasionalitas dunia, sementara kontribusi peradaban Islam diredam, dipinggirkan, atau sekadar disebut sepintas sebagai “jembatan” menuju kebangkitan Barat?. 

Pertanyaan ini terasa semakin tajam jika kita mengingat satu fakta sejarah yang sulit disangkal. Ketika Eropa mengalami periode yang oleh sejarawan sendiri disebut sebagai Early Middle Ages—yang populer dikenal sebagai Dark Ages— dunia Islam justru memasuki masa yang sering disebut sebagai Islamic Golden Age (sekitar abad ke-8 hingga ke-13).

Pada periode ini, pusat-pusat intelektual seperti Baghdad, Cordoba, Damaskus, dan Kairo menjadi ruang produksi pengetahuan lintas disiplin: matematika, kedokteran, astronomi, optika, filsafat, hingga ilmu sosial awal (Saliba, 2007). 

George Sarton, salah satu sejarawan sains paling berpengaruh di abad ke-20, bahkan menulis bahwa selama berabad-abad, perkembangan sains dunia secara faktual didominasi oleh ilmuwan Muslim, sementara Eropa masih berada pada tahap awal rekonstruksi intelektual pasca runtuhnya Kekaisaran Romawi (Sarton, 1952). Pernyataan ini bukan datang dari sejarawan Muslim, melainkan dari akademisi Barat yang reputasinya justru menjadi fondasi historiografi sains modern. 

Lebih jauh lagi, sejarawan seperti David C. Lindberg dan Edward Grant menunjukkan bahwa banyak karya klasik Yunani yang hari ini dianggap sebagai akar filsafat dan sains Barat justru bertahan dan berkembang melalui terjemahan, komentar, dan kritik ilmuwan Muslim sebelum akhirnya masuk kembali ke Eropa melalui Andalusia dan Sisilia (Grant, 1996; Lindberg, 2007).

Dengan kata lain, apa yang sering disebut sebagai Renaissance Eropa tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari rantai panjang transmisi pengetahuan lintas peradaban. Di titik ini, kecurigaan publik terasa wajar: mengapa narasi besar tentang kemajuan ilmu pengetahuan lebih sering memotong mata rantai Islam dari cerita tersebut?. 

Apakah ini kebetulan historiografis? Ataukah sejarah memang ditulis dari sudut pandang pemenang—seperti yang diingatkan oleh E. H. Carr bahwa fakta sejarah tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu dipilih, disusun, dan diberi makna oleh penulisnya (Carr, 1961)?.

Tidak mengherankan jika sebagian kalangan kemudian menyimpulkan bahwa ada semacam “konspirasi global” yang secara sadar ingin menurunkan posisi Islam dalam sejarah intelektual dunia. Narasi ini menemukan momentumnya di tengah pengalaman kolonialisme, dominasi Barat modern, dan ketimpangan global yang nyata.

Dalam konteks ini, Euro-sentrisme tidak lagi dipahami sekadar sebagai bias akademik, melainkan sebagai bagian dari hegemoni pengetahuan, di mana Barat bukan hanya menguasai ekonomi dan politik, tetapi juga menentukan apa yang dianggap sebagai pengetahuan sah.

Namun, di sinilah refleksi yang lebih jujur perlu dimulai. Sebab, jika kita berhenti pada tuduhan konspirasi semata, kita justru berisiko menghindari pertanyaan yang jauh lebih sulit dan tidak nyaman: mengapa dunia Islam, yang pernah menjadi pusat intelektual global, hari ini lebih sering hadir sebagai konsumen pengetahuan daripada produsen?. 

Apakah penghapusan itu sepenuhnya datang dari luar, atau sebagian juga lahir dari perubahan internal dalam cara umat Islam memandang ilmu, otoritas, dan berpikir kritis?. Pertanyaan inilah yang akan membawa diskusi ini melampaui nostalgia kejayaan masa lalu—menuju refleksi yang lebih tajam tentang posisi dunia Islam dalam lanskap intelektual global hari ini.

Jika kita melepaskan diri sejenak dari narasi emosional dan masuk ke wilayah fakta sejarah, satu hal menjadi jelas: kontribusi ilmuwan Muslim terhadap ilmu pengetahuan dunia bukan mitos, bukan klaim identitas, dan bukan propaganda keagamaan, melainkan tercatat rapi dalam sejarah akademik global.

Pada periode abad ke-8 hingga ke-13, dunia Islam mengalami apa yang oleh sejarawan disebut sebagai Islamic Golden Age. Masa ini ditandai oleh institusionalisasi ilmu pengetahuan, bukan sekadar kemunculan individu jenius.

Negara dan elite politik saat itu—khususnya Dinasti Abbasiyah—secara aktif mendukung riset, penerjemahan, dan produksi ilmu melalui lembaga seperti Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad (Gutas, 1998). 

1. Dari Penerjemahan ke Produksi Pengetahuan 


Salah satu kekeliruan besar dalam narasi populer adalah anggapan bahwa ilmuwan Muslim hanya “menerjemahkan” karya Yunani. Faktanya, proses tersebut justru melahirkan tradisi kritik, pengembangan, dan inovasi. 

 Al-Khwarizmi (abad ke-9) bukan hanya penerjemah matematika Yunani dan India, tetapi pencipta aljabar sebagai disiplin sistematis.

Istilah algebra berasal langsung dari karyanya Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala (Rashed, 2009). Bahkan kata algorithm adalah latinisasi dari namanya—sebuah bukti bagaimana sains modern masih menggunakan warisan linguistik Islam hingga hari ini.

 Ibn al-Haytham (Alhazen) secara luas diakui sebagai pelopor metode ilmiah eksperimental. Dalam Kitab al-Manazir, ia menolak teori penglihatan Yunani kuno dan membuktikan melalui eksperimen bahwa cahaya masuk ke mata, bukan sebaliknya. Sebuah pendekatan empiris yang kemudian menjadi fondasi sains modern (Lindberg, 2007). 

 Ibn Sina (Avicenna) melalui The Canon of Medicine menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran di Eropa selama lebih dari lima abad. Buku ini digunakan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17 (Porter, 1997). 

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim tidak hanya melestarikan pengetahuan, tetapi juga mengubah cara manusia memahami alam, tubuh, dan logika. 

2. Jembatan Peradaban: Dari Dunia Islam ke Eropa


Kebangkitan intelektual Eropa tidak bisa dilepaskan dari proses transmisi ilmu dari dunia Islam, khususnya melalui Andalusia (Spanyol Islam) dan Sisilia. Edward Grant (1996) menjelaskan bahwa hampir seluruh teks ilmiah penting yang menjadi dasar Renaissance—mulai dari Aristoteles hingga Ptolemy, masuk ke Eropa melalui terjemahan Arab-Latin.

Ironisnya, dalam proses ini, nama ilmuwan Muslim sering terhapus atau dilatinkan, sehingga kontribusinya tampak kabur. Ibn Rushd dikenal sebagai Averroes, Ibn Sina menjadi Avicenna, dan Al-Khwarizmi menjadi Algoritmi. Proses ini bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga asimilasi pengetahuan ke dalam kerangka Barat, yang kemudian dipresentasikan sebagai kebangkitan internal Eropa semata (Huff, 2017).

Di sinilah akar Euro-sentrisme mulai terbentuk: bukan dengan menghapus fakta secara total, tetapi dengan menggeser posisi Islam dari subjek utama menjadi sekadar perantara.

3. Mengapa Fakta Ini Jarang Ditekankan? 
Penting untuk jujur secara akademik: sebagian pengaburan ini bukan hasil konspirasi terorganisir, melainkan akibat dari tradisi historiografi Barat yang berkembang dalam konteks kolonialisme dan nation-state Eropa.

Sejarah ditulis untuk membangun identitas, dan Eropa modern membutuhkan narasi bahwa kemajuannya lahir dari rasionalitas internal, bukan dari ketergantungan pada peradaban lain (Said, 1978).

Namun, di saat yang sama, dunia Islam juga kehilangan momentum untuk mengontrol narasi sejarahnya sendiri. Ketika Barat mulai mendokumentasikan, menginstitusikan, dan mengkanonisasi ilmu melalui universitas modern, dunia Islam justru mengalami stagnasi intelektual dan fragmentasi politik. Dengan kata lain, hilangnya peran ilmuwan Muslim dalam narasi global bukan semata karena mereka “dihapus”, tetapi juga karena tidak lagi hadir sebagai produsen pengetahuan aktif.

Setelah fakta sejarah ditegakkan, satu pertanyaan tidak terelakkan muncul: jika dunia Islam pernah begitu dominan dalam produksi ilmu pengetahuan, mengapa hari ini ia lebih sering hadir sebagai konsumen, bukan produsen gagasan global? Di titik inilah narasi “konspirasi global” mulai kehilangan daya jelaskannya.

Menyandarkan kemunduran intelektual Islam semata pada faktor eksternal— kolonialisme, Euro-sentrisme, atau Islamofobia global—memang menggoda secara emosional. Namun, secara akademik, penjelasan itu tidak memadai. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh hanya karena ditekan dari luar, melainkan karena kehilangan daya hidup dari dalam (Toynbee, 1934).

A. Romantisasi Kejayaan dan Mandeknya Tradisi Kritis 

Salah satu problem utama dalam diskursus keislaman kontemporer adalah kecenderungan merayakan masa lalu tanpa upaya serius mereproduksi semangat intelektualnya. Nama-nama besar seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, atau Ibn Rushd sering diulang dalam khutbah, seminar, dan buku populer, namun lebih sebagai ikon identitas, bukan sebagai metodologi berpikir.

Padahal, para tokoh tersebut justru besar karena keberanian mereka mengkritik arus utama zamannya. Ibn Rushd dikucilkan karena rasionalismenya; Al-Ghazali dikritik keras karena metodologi teologisnya; Ibn Sina dituduh menyimpang oleh sebagian ulama sezamannya. Artinya, kejayaan intelektual Islam lahir dari perdebatan, konflik gagasan, dan kebebasan berpikir, bukan dari keseragaman (Hodgson, 1974). 

Ironisnya, di banyak konteks hari ini, kritik justru dianggap ancaman terhadap iman, bukan bagian dari tradisi intelektual Islam itu sendiri.

B. Pendidikan Agama: Dari Produksi Ilmu ke Reproduksi Dogma 


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem pendidikan di banyak negara Muslim mengalami dogmatisasi pengetahuan, terutama dalam studi keagamaan. Talal Asad (1986) dan Abdullahi An-Na’im (2008) menyoroti bagaimana agama sering diajarkan sebagai kumpulan kebenaran final, bukan sebagai lapangan interpretasi yang hidup.

Akibatnya, lahir generasi yang: sangat piawai menghafal teks, tetapi minim kemampuan metodologis, alergi terhadap kritik, dan kesulitan berdialog dengan ilmu kontemporer seperti sains, teknologi, filsafat, dan ilmu sosial modern.

Bandingkan dengan era Golden Age, ketika ulama sekaligus adalah filsuf, ilmuwan, dokter, dan matematikawan. Hari ini, sekat antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia” justru semakin kaku—sebuah dikotomi yang tidak dikenal dalam tradisi Islam klasik (Nasr, 1968). 

C. Ketika Identitas Mengalahkan Intelektualitas 


Narasi konspirasi global sering kali tumbuh subur bukan karena bukti empiris yang kuat, tetapi karena krisis kepercayaan diri intelektual. Dalam kondisi seperti ini, identitas menjadi benteng terakhir: Islam dibela bukan melalui prestasi ilmu, tetapi melalui sentimen kolektif.

Edward Said (1978) memang benar ketika mengkritik Orientalisme Barat. Namun, Said sendiri juga mengingatkan bahwa kritik terhadap Barat tidak boleh berhenti pada posisi korban, karena itu justru memperkuat ketergantungan epistemik.

Di sinilah paradoksnya: ketika umat Islam terlalu sibuk menuduh dunia ingin menjatuhkan Islam, mereka justru lupa membangun kembali tradisi intelektual yang dahulu membuat Islam diperhitungkan. Konspirasi menjadi narasi yang menenangkan, ia membebaskan dari tanggung jawab untuk berbenah.

D. Konspirasi sebagai Alibi Kemandekan 

Menganggap setiap kritik sebagai bagian dari proyek global anti-Islam pada akhirnya berfungsi sebagai tameng anti-refleksi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam mencapai puncaknya justru ketika umatnya paling terbuka terhadap kritik, perbedaan mazhab, dan dialog lintas budaya (Lapidus, 2014). 

Jika hari ini dunia Islam tertinggal dalam: riset ilmiah, inovasi teknologi, produksi teori sosial, dan kepemimpinan intelektual global, maka penyebab utamanya bukan karena Islam “disingkirkan”, melainkan karena umat Islam gagal menjadikan ilmu sebagai proyek peradaban, bukan sekadar simbol identitas.

Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur yang perlu diajukan bukanlah “siapa yang sengaja menghapus peran Islam dari sejarah?” melainkan “apa yang sudah kita lakukan agar Islam kembali relevan dalam sejarah hari ini?”

Narasi konspirasi global memang efektif sebagai umpan diskursif. Ia membangkitkan emosi, memperkuat solidaritas identitas, dan memberi rasa nyaman karena menyediakan musuh yang jelas. Namun, sejarah tidak bergerak oleh rasa curiga, melainkan oleh produksi pengetahuan, keberanian berpikir, dan konsistensi kerja intelektual.

Ironisnya, peradaban Islam yang dahulu dituduh “dihapus” justru dibangun oleh sikap yang hari ini sering dicurigai: keterbukaan terhadap ilmu asing, kebebasan berpikir, perdebatan keras antargagasan, serta keberanian mengoreksi otoritas keagamaan maupun politik (Hodgson, 1974; Lapidus, 2014). 

Jika ilmuwan Muslim masa lalu hanya sibuk mempertahankan identitas dan menuduh dunia memusuhi mereka, Golden Age Islam tidak akan pernah lahir. Dunia modern tidak menilai peradaban dari seberapa sering ia menyebut masa lalunya, tetapi dari apa yang ia sumbangkan hari ini.

Ketika universitas-universitas global, jurnal ilmiah, dan pusat inovasi dunia minim kontribusi dari negara-negara Muslim, masalahnya bukan pada sejarah yang disembunyikan, melainkan pada pengetahuan yang tidak diproduksi. 

Seperti diingatkan oleh Edward Said (1993), kritik terhadap dominasi Barat hanya bermakna jika disertai kemampuan epistemik untuk berdiri sejajar, bukan sekadar perlawanan simbolik.

Di titik ini, kritik terhadap Islam—atau lebih tepatnya terhadap umat Islam— bukanlah bentuk kebencian, melainkan upaya penyelamatan. Kritik menjadi bentuk iman intelektual: keyakinan bahwa Islam cukup kuat untuk diuji, dipertanyakan, dan diperbarui. Menghormati kejayaan ilmuwan Muslim masa lalu adalah hal wajar.

Namun, menjadikan kejayaan itu sebagai alasan untuk berhenti berpikir adalah pengkhianatan terhadap semangat mereka. Sejarah tidak pernah menjanjikan kejayaan yang abadi. Ia hanya memberi satu pilihan: bergerak dan beradaptasi, atau dikenang tanpa dilanjutkan. 

Maka, membela Islam hari ini tidak cukup dengan membongkar “konspirasi global”, melainkan dengan: membangun pendidikan yang melatih nalar kritis, menumbuhkan tradisi riset dan debat yang sehat, serta mencetak cendekiawan yang mampu berbicara pada dunia, bukan hanya pada sesama. Karena pada akhirnya, Islam tidak membutuhkan perlindungan dari kritik, tetapi membutuhkan keberanian untuk kembali berpikir besar.

Oleh: Yudistira Pradipta Rusmana
Mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Jujuran Ilmu Komunikasi. 
Editor. Tim Redaksi

Sy. Apero Fublic

Via Esai
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja

Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja

Tuesday, June 09, 2026
Egoisme di Atas Roda: Ketika Bara Rokok Merenggut Hak Kenyamanan Pengguna Jalan

Egoisme di Atas Roda: Ketika Bara Rokok Merenggut Hak Kenyamanan Pengguna Jalan

Wednesday, June 17, 2026
MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba

MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba

Wednesday, December 06, 2023
Dampak Rupiah Terus Melemah dan Menguat tanpa Stabilitas yang Pasti: Harga Kemasan Melonjak, Bagaimana Pedagang Plastik di Padang Memutuskan Harga Terbaik?

Dampak Rupiah Terus Melemah dan Menguat tanpa Stabilitas yang Pasti: Harga Kemasan Melonjak, Bagaimana Pedagang Plastik di Padang Memutuskan Harga Terbaik?

Wednesday, June 17, 2026
Mitos Harimau Jejadian: Hingga Krisis Harimau 1960-1980

Mitos Harimau Jejadian: Hingga Krisis Harimau 1960-1980

Friday, October 18, 2019

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Dua Peran Satu Sosok: Rayden sebagai Kreator dan Pemeran Karakter Saka Aribi di Berandal Bandung

PT. Media Apero Fublic- Tuesday, July 14, 2026 0
Dua Peran Satu Sosok: Rayden sebagai Kreator dan Pemeran Karakter Saka Aribi di Berandal Bandung
APERO FUBLIC  I  ​ Dunia literasi ini telah mengalami transformasi yang sangat menarik. Jika dulu pembaca hanya bisa menikmati karya sastra melalui…

Most Popular

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Legenda Putri Bulan. Kesetiaan Yang di Abadikan Menjadi Sungai Sake

Sunday, November 10, 2019
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Pantun Berbahasa Daerah Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Wednesday, April 22, 2020
Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Legenda Asal Mula Bukit Pendape. Musi Banyuasin.

Tuesday, October 15, 2019
Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Legenda Cinta Puyang Gadis. Sumatera Selatan

Saturday, March 21, 2020
Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Asal Mulah Sungai Keruh dan Kutukan Puyang Dulu

Thursday, November 07, 2019
Mengenal Buah Pedare

Mengenal Buah Pedare

Monday, June 22, 2020
Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Syair Khadamuddin. Syair Sastra Melayu Klasik

Tuesday, June 25, 2019
Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 20261415
  • 20251140
  • 2024209
  • 2023142
  • 2022104
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019282
  • 20183

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Utara Alor Amerika Serikat Anambas Andai-Andai Angkat Besi Antropologi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bahasa Bali Bandar Lampung Bandung Bangka Barat Bangka Belitung Bangkinang Banjarmasin Banjarnegara Banten Bantul Banyuasin Batam Batang Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Bekasi Beladiri Belanda Belarusia Belu Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Bengkulu Selatan BENGSEL Berita Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biologi Biruisme Bisnis Blitar BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Bosnia Boven Digoel Brand Brazil Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Ciamis Cililin Cina Dairi Daratan dan Hutan Deli Serdang Depok Dompu Dongeng Dongeng Dunia DPD RI DPR RI DPRD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi IsIam Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai Event FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Flores Fotografi Gatget Gunungsitoli Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ideologi Ilmu Kesastraan Ilmu Sastra India Indragiri Hulu Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jerman Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik Kabar Buku Kabar Desa KALBAR Kalimantan Utara KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kanada Kapolri Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kelautan Kepahiang Kepemimpinan Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita Kesenian Ketapang Keuangan Kimia Kisah Legenda KKN Kolaka Konawe Selatan Korea Selatan Korupsi Kota Kota Bengkulu Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu LABURA Lahat Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Magang Mahasiswa Mahasiswi Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Malinau Manado Mappi Marinir Mask Mataram Medan Media Sosial Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Mojokerto Morowali Morut Muara Enim Muaro Jambi MUBA Muratara Musi Rawas Musik Nasional Natuna Nias Selatan NTB NTT Ogan Ilir OKI OKU OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Opini Pertanian Organisasi Ormas Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Pakpak Bharat Palangkaraya Palembang Palopo Palu Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Papua Barat Daya Papua Selatan Papua Tengah Parigi Moutong Paringi Moutong Pariwisata Partai Pasaman Pasaman Barat Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perancis Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang PKM Politik Pontianak Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi PPKn PPL Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI SumSel Redaksi AF Renang Resensi Riau Rote Ndao Rusia Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Sidoarjo Sijunjung Silat Simalungun Singapura Singkawang Skil Wanita SMA Smart TV Solok Sorong Sosial Masyarakat Sosiologi Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA Sumba Sumba Barat SUMBAR Sumber Air Sumedang Sumenep SUMSEL SUMUT Sungai Sungai Penuh Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tailan Tamiang Tanah Datar Tangerang Tanjab Barat Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPTENG Teater Tebing Tinggi Teknologi Temanggung Tenaga Kerja Thailand TNI TNI AD TNI AL TNI Angkatan Laut TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi TTU UKM-Bisnis Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts

  • Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja
    APERO FUBLIC  I  ESAI . -  Data BPS per Februari 2025 mencatat bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan perguruan ...
  • Egoisme di Atas Roda: Ketika Bara Rokok Merenggut Hak Kenyamanan Pengguna Jalan
    Penulis :   Muliana Putri APERO FUBLIC   I  OPINI. --   Pernahkah Anda berada di situasi ketika sedang berkendara, tiba-tiba mat...
  • MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba
    APERO FUBLIC.- Makanan "Pundang Muba" merupakan salah satu kekayaan kuliner yang membanggakan dari Kota Sekayu, Kabupaten Musi B...
  • Dampak Rupiah Terus Melemah dan Menguat tanpa Stabilitas yang Pasti: Harga Kemasan Melonjak, Bagaimana Pedagang Plastik di Padang Memutuskan Harga Terbaik?
    APERO FUBLIC   I  OPINI .--  Berdasarkan data yang telah saya kumpulkan, Tingkat inflasi Kota Padang mencapai 0,79% secara tahun...
  • Mitos Harimau Jejadian: Hingga Krisis Harimau 1960-1980
    Apero Fublic.- Harimau Sumatera adalah subspesies harimau di dunia. Habitat aslinya adalah Pulau Sumatera. Harimau sumatera dalam bahas...
  • Menolak FOMO Kampus, Dibaiat MAPABA, dan Menghidupi Jiwa Pergerakan yang Sesungguhnya
    APERO FUBLIC   I  KAMPUS .--  Dunia kampus itu, kalau boleh jujur, adalah sebuah miniatur negara. Semuanya tersistem dengan rapi...
  • Hilangnya Arsitektur Asli Atap Masjid Sumatera Selatan.
    Apero Fublic.- Arsitektur Masjid Agung Palembang Adalah Induk Dari Atap Masjid-Masjid Ttradisional di Sumatra Selatan. Mengapa demiki...
  • Mismatch Tenaga Kerja Masih Jadi Tantangan Besar di Jawa Barat
    APERO FUBLIC   I  BANDUNG .— Tingginya jumlah angkatan kerja di Jawa Barat belum diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang memad...
  • Kesejahteraan Sosial: Mengenal Apa Itu Profesi Pekerjaan Sosial?
    Kesejahteraan Sosial: Mengenal Apa Itu Profesi Pekerjaan Sosial? Oleh: Muhammad Izaz Alhafiz Dosen Pengampu: Apriani Riyanti, S....
  • GIG ECONOMY: Fleksibel Bagi Perusahaan, Rapuh Bagi Pekerja
    Ketika Pekerjaan Modern Tidak Lagi Menjamin Kepastian Hidup   APERO FUBLIC   I  ESAI .--   Di tengah mahalnya biaya hidup dan su...

Editor Post

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Mengenal Empat Varian Sepeda Listrik (e-Bike) Goda Series

Sunday, July 14, 2024
Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sepeda Listrik (e-Bike) Produk Unggulan U^Winfly

Sunday, July 14, 2024
Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Smartphone Oppo Terbaru Tahan Terbanting: Oppo A3 Pro 5G

Monday, July 15, 2024
Mengenal Buah Raman

Mengenal Buah Raman

Tuesday, June 23, 2020
Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Raden Kamandaka. Cerita Rakyat Dari Banyumas. Jawa Tengah.

Friday, January 17, 2020
Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Bupati Toha Tegaskan Komitmen Pelayanan Listrik di Muba Wajib Maksimal

Wednesday, April 16, 2025
Fungsi Manajemen dalam Pariwisata Syari’ah (Studi Kasus Lombok)

Fungsi Manajemen dalam Pariwisata Syari’ah (Studi Kasus Lombok)

Thursday, June 04, 2026
Mengenal Pohon Serdang

Mengenal Pohon Serdang

Saturday, August 05, 2023
Profesionalisme Keperawatan Di Era Digital: Menjaga Etika dan Moral Di Tengah Kemajuan Teknologi

Profesionalisme Keperawatan Di Era Digital: Menjaga Etika dan Moral Di Tengah Kemajuan Teknologi

Wednesday, June 03, 2026
Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja

Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja

Tuesday, June 09, 2026

Popular Post

Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja

Fresh Graduate Menganggur, Antara Gengsi Gaji dan Realita Lapangan Kerja

Tuesday, June 09, 2026
Egoisme di Atas Roda: Ketika Bara Rokok Merenggut Hak Kenyamanan Pengguna Jalan

Egoisme di Atas Roda: Ketika Bara Rokok Merenggut Hak Kenyamanan Pengguna Jalan

Wednesday, June 17, 2026
MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba

MAKANAN CIRI KHAS SEKAYU: Pundang Muba

Wednesday, December 06, 2023
Dampak Rupiah Terus Melemah dan Menguat tanpa Stabilitas yang Pasti: Harga Kemasan Melonjak, Bagaimana Pedagang Plastik di Padang Memutuskan Harga Terbaik?

Dampak Rupiah Terus Melemah dan Menguat tanpa Stabilitas yang Pasti: Harga Kemasan Melonjak, Bagaimana Pedagang Plastik di Padang Memutuskan Harga Terbaik?

Wednesday, June 17, 2026
Mitos Harimau Jejadian: Hingga Krisis Harimau 1960-1980

Mitos Harimau Jejadian: Hingga Krisis Harimau 1960-1980

Friday, October 18, 2019
Menolak FOMO Kampus, Dibaiat MAPABA, dan Menghidupi Jiwa Pergerakan yang Sesungguhnya

Menolak FOMO Kampus, Dibaiat MAPABA, dan Menghidupi Jiwa Pergerakan yang Sesungguhnya

Wednesday, June 17, 2026
Hilangnya Arsitektur Asli Atap Masjid Sumatera Selatan.

Hilangnya Arsitektur Asli Atap Masjid Sumatera Selatan.

Sunday, June 30, 2019
Mismatch Tenaga Kerja Masih Jadi Tantangan Besar di Jawa Barat

Mismatch Tenaga Kerja Masih Jadi Tantangan Besar di Jawa Barat

Monday, June 15, 2026
Kesejahteraan Sosial: Mengenal Apa Itu Profesi Pekerjaan Sosial?

Kesejahteraan Sosial: Mengenal Apa Itu Profesi Pekerjaan Sosial?

Monday, June 29, 2026
GIG ECONOMY: Fleksibel Bagi Perusahaan, Rapuh Bagi Pekerja

GIG ECONOMY: Fleksibel Bagi Perusahaan, Rapuh Bagi Pekerja

Monday, June 15, 2026

Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 69 Berita 1745 Berita Daerah 1681 Berita Internasional 43 Berita Nasional 1220 Brand 117 Budaya Daerah 38 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 64 Cerita Rakyat 12 Cerpen 30 Dongeng 67 Ekonomi 105 Elektronik 21 FASHION 14 Fauna 4 Flora 65 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 11 Islam dan Budaya 12 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Jurnalisme Kita 20 Kampus 885 Kesehatan 41 Kisah Legenda 10 Kuliner 31 Mitos 15 Opini 651 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 48 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 7 Puisi 64 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 4 Sastra Kita 56 Sastra Klasik 55 Sastra Lisan 15 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 29 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 8 Tablet 20 Teknologi 201 Tokoh Wanita 11 UKM-Bisnis 36 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us