Esai
Feature
Kampus
Opini
Pendidikan
Ketika Sejarah Terasa Tidak Netral: Apakah Ilmuwan Muslim Sengaja Dihapus dari Ingatan Dunia?
APERO FUBLIC I KAMPUS.- Jika hari ini kita bertanya kepada pelajar, mahasiswa, atau masyarakat umum: siapa tokoh paling berpengaruh dalam sejarah ilmu pengetahuan dunia? Jawabannya hampir selalu sama. Nama-nama seperti Isaac Newton, Galileo Galilei, René Descartes, atau Albert Einstein akan muncul dengan cepat dan mantap.
Nama-nama itu tidak hanya diajarkan di sekolah, tetapi juga diproduksi ulang secara masif melalui buku teks, media populer, film dokumenter, hingga narasi besar tentang kemajuan peradaban manusia. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: mengapa narasi tersebut hampir selalu berpusat pada Eropa?
Ke mana perginya nama-nama seperti Al-Khwarizmi, Ibn Sina (Avicenna), Ibn al-Haytham (Alhazen), Al-Biruni, atau Ibn Rushd (Averroes)—tokoh-tokoh yang kontribusinya bukan sekadar lokal, melainkan menjadi fondasi bagi sains modern itu sendiri? Kecurigaan pun muncul di ruang publik: apakah sejarah ilmu pengetahuan memang netral?.
Ataukah ada narasi Euro-sentris yang secara sistematis mengangkat Eropa sebagai pusat rasionalitas dunia, sementara kontribusi peradaban Islam diredam, dipinggirkan, atau sekadar disebut sepintas sebagai “jembatan” menuju kebangkitan Barat?.
Pertanyaan ini terasa semakin tajam jika kita mengingat satu fakta sejarah yang sulit disangkal. Ketika Eropa mengalami periode yang oleh sejarawan sendiri disebut sebagai Early Middle Ages—yang populer dikenal sebagai Dark Ages— dunia Islam justru memasuki masa yang sering disebut sebagai Islamic Golden Age (sekitar abad ke-8 hingga ke-13).
Pada periode ini, pusat-pusat intelektual seperti Baghdad, Cordoba, Damaskus, dan Kairo menjadi ruang produksi pengetahuan lintas disiplin: matematika, kedokteran, astronomi, optika, filsafat, hingga ilmu sosial awal (Saliba, 2007).
George Sarton, salah satu sejarawan sains paling berpengaruh di abad ke-20, bahkan menulis bahwa selama berabad-abad, perkembangan sains dunia secara faktual didominasi oleh ilmuwan Muslim, sementara Eropa masih berada pada tahap awal rekonstruksi intelektual pasca runtuhnya Kekaisaran Romawi (Sarton, 1952). Pernyataan ini bukan datang dari sejarawan Muslim, melainkan dari akademisi Barat yang reputasinya justru menjadi fondasi historiografi sains modern.
Lebih jauh lagi, sejarawan seperti David C. Lindberg dan Edward Grant menunjukkan bahwa banyak karya klasik Yunani yang hari ini dianggap sebagai akar filsafat dan sains Barat justru bertahan dan berkembang melalui terjemahan, komentar, dan kritik ilmuwan Muslim sebelum akhirnya masuk kembali ke Eropa melalui Andalusia dan Sisilia (Grant, 1996; Lindberg, 2007).
Dengan kata lain, apa yang sering disebut sebagai Renaissance Eropa tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari rantai panjang transmisi pengetahuan lintas peradaban. Di titik ini, kecurigaan publik terasa wajar: mengapa narasi besar tentang kemajuan ilmu pengetahuan lebih sering memotong mata rantai Islam dari cerita tersebut?.
Apakah ini kebetulan historiografis? Ataukah sejarah memang ditulis dari sudut pandang pemenang—seperti yang diingatkan oleh E. H. Carr bahwa fakta sejarah tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu dipilih, disusun, dan diberi makna oleh penulisnya (Carr, 1961)?.
Tidak mengherankan jika sebagian kalangan kemudian menyimpulkan bahwa ada semacam “konspirasi global” yang secara sadar ingin menurunkan posisi Islam dalam sejarah intelektual dunia. Narasi ini menemukan momentumnya di tengah pengalaman kolonialisme, dominasi Barat modern, dan ketimpangan global yang nyata.
Dalam konteks ini, Euro-sentrisme tidak lagi dipahami sekadar sebagai bias akademik, melainkan sebagai bagian dari hegemoni pengetahuan, di mana Barat bukan hanya menguasai ekonomi dan politik, tetapi juga menentukan apa yang dianggap sebagai pengetahuan sah.
Namun, di sinilah refleksi yang lebih jujur perlu dimulai. Sebab, jika kita berhenti pada tuduhan konspirasi semata, kita justru berisiko menghindari pertanyaan yang jauh lebih sulit dan tidak nyaman: mengapa dunia Islam, yang pernah menjadi pusat intelektual global, hari ini lebih sering hadir sebagai konsumen pengetahuan daripada produsen?.
Apakah penghapusan itu sepenuhnya datang dari luar, atau sebagian juga lahir dari perubahan internal dalam cara umat Islam memandang ilmu, otoritas, dan berpikir kritis?. Pertanyaan inilah yang akan membawa diskusi ini melampaui nostalgia kejayaan masa lalu—menuju refleksi yang lebih tajam tentang posisi dunia Islam dalam lanskap intelektual global hari ini.
Jika kita melepaskan diri sejenak dari narasi emosional dan masuk ke wilayah fakta sejarah, satu hal menjadi jelas: kontribusi ilmuwan Muslim terhadap ilmu pengetahuan dunia bukan mitos, bukan klaim identitas, dan bukan propaganda keagamaan, melainkan tercatat rapi dalam sejarah akademik global.
Pada periode abad ke-8 hingga ke-13, dunia Islam mengalami apa yang oleh sejarawan disebut sebagai Islamic Golden Age. Masa ini ditandai oleh institusionalisasi ilmu pengetahuan, bukan sekadar kemunculan individu jenius.
Negara dan elite politik saat itu—khususnya Dinasti Abbasiyah—secara aktif mendukung riset, penerjemahan, dan produksi ilmu melalui lembaga seperti Bayt al-Hikmah (House of Wisdom) di Baghdad (Gutas, 1998).
1. Dari Penerjemahan ke Produksi Pengetahuan
Salah satu kekeliruan besar dalam narasi populer adalah anggapan bahwa ilmuwan Muslim hanya “menerjemahkan” karya Yunani. Faktanya, proses tersebut justru melahirkan tradisi kritik, pengembangan, dan inovasi.
Al-Khwarizmi (abad ke-9) bukan hanya penerjemah matematika Yunani dan India, tetapi pencipta aljabar sebagai disiplin sistematis.
Istilah algebra berasal langsung dari karyanya Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala (Rashed, 2009). Bahkan kata algorithm adalah latinisasi dari namanya—sebuah bukti bagaimana sains modern masih menggunakan warisan linguistik Islam hingga hari ini.
Ibn al-Haytham (Alhazen) secara luas diakui sebagai pelopor metode ilmiah eksperimental. Dalam Kitab al-Manazir, ia menolak teori penglihatan Yunani kuno dan membuktikan melalui eksperimen bahwa cahaya masuk ke mata, bukan sebaliknya. Sebuah pendekatan empiris yang kemudian menjadi fondasi sains modern (Lindberg, 2007).
Ibn Sina (Avicenna) melalui The Canon of Medicine menjadi rujukan utama pendidikan kedokteran di Eropa selama lebih dari lima abad. Buku ini digunakan di universitas-universitas Eropa hingga abad ke-17 (Porter, 1997).
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa ilmuwan Muslim tidak hanya melestarikan pengetahuan, tetapi juga mengubah cara manusia memahami alam, tubuh, dan logika.
2. Jembatan Peradaban: Dari Dunia Islam ke Eropa
Kebangkitan intelektual Eropa tidak bisa dilepaskan dari proses transmisi ilmu dari dunia Islam, khususnya melalui Andalusia (Spanyol Islam) dan Sisilia. Edward Grant (1996) menjelaskan bahwa hampir seluruh teks ilmiah penting yang menjadi dasar Renaissance—mulai dari Aristoteles hingga Ptolemy, masuk ke Eropa melalui terjemahan Arab-Latin.
Ironisnya, dalam proses ini, nama ilmuwan Muslim sering terhapus atau dilatinkan, sehingga kontribusinya tampak kabur. Ibn Rushd dikenal sebagai Averroes, Ibn Sina menjadi Avicenna, dan Al-Khwarizmi menjadi Algoritmi. Proses ini bukan sekadar soal bahasa, tetapi juga asimilasi pengetahuan ke dalam kerangka Barat, yang kemudian dipresentasikan sebagai kebangkitan internal Eropa semata (Huff, 2017).
Di sinilah akar Euro-sentrisme mulai terbentuk: bukan dengan menghapus fakta secara total, tetapi dengan menggeser posisi Islam dari subjek utama menjadi sekadar perantara.
3. Mengapa Fakta Ini Jarang Ditekankan?
Penting untuk jujur secara akademik: sebagian pengaburan ini bukan hasil konspirasi terorganisir, melainkan akibat dari tradisi historiografi Barat yang berkembang dalam konteks kolonialisme dan nation-state Eropa.
Sejarah ditulis untuk membangun identitas, dan Eropa modern membutuhkan narasi bahwa kemajuannya lahir dari rasionalitas internal, bukan dari ketergantungan pada peradaban lain (Said, 1978).
Namun, di saat yang sama, dunia Islam juga kehilangan momentum untuk mengontrol narasi sejarahnya sendiri. Ketika Barat mulai mendokumentasikan, menginstitusikan, dan mengkanonisasi ilmu melalui universitas modern, dunia Islam justru mengalami stagnasi intelektual dan fragmentasi politik. Dengan kata lain, hilangnya peran ilmuwan Muslim dalam narasi global bukan semata karena mereka “dihapus”, tetapi juga karena tidak lagi hadir sebagai produsen pengetahuan aktif.
Setelah fakta sejarah ditegakkan, satu pertanyaan tidak terelakkan muncul: jika dunia Islam pernah begitu dominan dalam produksi ilmu pengetahuan, mengapa hari ini ia lebih sering hadir sebagai konsumen, bukan produsen gagasan global? Di titik inilah narasi “konspirasi global” mulai kehilangan daya jelaskannya.
Menyandarkan kemunduran intelektual Islam semata pada faktor eksternal— kolonialisme, Euro-sentrisme, atau Islamofobia global—memang menggoda secara emosional. Namun, secara akademik, penjelasan itu tidak memadai. Sejarah menunjukkan bahwa peradaban tidak runtuh hanya karena ditekan dari luar, melainkan karena kehilangan daya hidup dari dalam (Toynbee, 1934).
1. Romantisasi Kejayaan dan Mandeknya Tradisi Kritis
Salah satu problem utama dalam diskursus keislaman kontemporer adalah kecenderungan merayakan masa lalu tanpa upaya serius mereproduksi semangat intelektualnya. Nama-nama besar seperti Ibn Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, atau Ibn Rushd sering diulang dalam khutbah, seminar, dan buku populer, namun lebih sebagai ikon identitas, bukan sebagai metodologi berpikir.
Padahal, para tokoh tersebut justru besar karena keberanian mereka mengkritik arus utama zamannya. Ibn Rushd dikucilkan karena rasionalismenya; Al-Ghazali dikritik keras karena metodologi teologisnya; Ibn Sina dituduh menyimpang oleh sebagian ulama sezamannya. Artinya, kejayaan intelektual Islam lahir dari perdebatan, konflik gagasan, dan kebebasan berpikir, bukan dari keseragaman (Hodgson, 1974).
Ironisnya, di banyak konteks hari ini, kritik justru dianggap ancaman terhadap iman, bukan bagian dari tradisi intelektual Islam itu sendiri.
2. Pendidikan Agama: Dari Produksi Ilmu ke Reproduksi Dogma
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistem pendidikan di banyak negara Muslim mengalami dogmatisasi pengetahuan, terutama dalam studi keagamaan. Talal Asad (1986) dan Abdullahi An-Na’im (2008) menyoroti bagaimana agama sering diajarkan sebagai kumpulan kebenaran final, bukan sebagai lapangan interpretasi yang hidup.
Akibatnya, lahir generasi yang: sangat piawai menghafal teks, tetapi minim kemampuan metodologis, alergi terhadap kritik, dan kesulitan berdialog dengan ilmu kontemporer seperti sains, teknologi, filsafat, dan ilmu sosial modern.
Bandingkan dengan era Golden Age, ketika ulama sekaligus adalah filsuf, ilmuwan, dokter, dan matematikawan. Hari ini, sekat antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia” justru semakin kaku—sebuah dikotomi yang tidak dikenal dalam tradisi Islam klasik (Nasr, 1968).
3. Ketika Identitas Mengalahkan Intelektualitas
Narasi konspirasi global sering kali tumbuh subur bukan karena bukti empiris yang kuat, tetapi karena krisis kepercayaan diri intelektual. Dalam kondisi seperti ini, identitas menjadi benteng terakhir: Islam dibela bukan melalui prestasi ilmu, tetapi melalui sentimen kolektif.
Edward Said (1978) memang benar ketika mengkritik Orientalisme Barat. Namun, Said sendiri juga mengingatkan bahwa kritik terhadap Barat tidak boleh berhenti pada posisi korban, karena itu justru memperkuat ketergantungan epistemik.
Di sinilah paradoksnya: ketika umat Islam terlalu sibuk menuduh dunia ingin menjatuhkan Islam, mereka justru lupa membangun kembali tradisi intelektual yang dahulu membuat Islam diperhitungkan. Konspirasi menjadi narasi yang menenangkan, ia membebaskan dari tanggung jawab untuk berbenah.
4. Konspirasi sebagai Alibi Kemandekan
Menganggap setiap kritik sebagai bagian dari proyek global anti-Islam pada akhirnya berfungsi sebagai tameng anti-refleksi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam mencapai puncaknya justru ketika umatnya paling terbuka terhadap kritik, perbedaan mazhab, dan dialog lintas budaya (Lapidus, 2014).
Jika hari ini dunia Islam tertinggal dalam: riset ilmiah, inovasi teknologi, produksi teori sosial, dan kepemimpinan intelektual global, maka penyebab utamanya bukan karena Islam “disingkirkan”, melainkan karena umat Islam gagal menjadikan ilmu sebagai proyek peradaban, bukan sekadar simbol identitas.
Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur yang perlu diajukan bukanlah “siapa yang sengaja menghapus peran Islam dari sejarah?” melainkan “apa yang sudah kita lakukan agar Islam kembali relevan dalam sejarah hari ini?”
Narasi konspirasi global memang efektif sebagai umpan diskursif. Ia membangkitkan emosi, memperkuat solidaritas identitas, dan memberi rasa nyaman karena menyediakan musuh yang jelas. Namun, sejarah tidak bergerak oleh rasa curiga, melainkan oleh produksi pengetahuan, keberanian berpikir, dan konsistensi kerja intelektual.
Ironisnya, peradaban Islam yang dahulu dituduh “dihapus” justru dibangun oleh sikap yang hari ini sering dicurigai: keterbukaan terhadap ilmu asing, kebebasan berpikir, perdebatan keras antargagasan, serta keberanian mengoreksi otoritas keagamaan maupun politik (Hodgson, 1974; Lapidus, 2014).
Jika ilmuwan Muslim masa lalu hanya sibuk mempertahankan identitas dan menuduh dunia memusuhi mereka, Golden Age Islam tidak akan pernah lahir. Dunia modern tidak menilai peradaban dari seberapa sering ia menyebut masa lalunya, tetapi dari apa yang ia sumbangkan hari ini.
Ketika universitas-universitas global, jurnal ilmiah, dan pusat inovasi dunia minim kontribusi dari negara-negara Muslim, masalahnya bukan pada sejarah yang disembunyikan, melainkan pada pengetahuan yang tidak diproduksi.
Seperti diingatkan oleh Edward Said (1993), kritik terhadap dominasi Barat hanya bermakna jika disertai kemampuan epistemik untuk berdiri sejajar, bukan sekadar perlawanan simbolik.
Di titik ini, kritik terhadap Islam—atau lebih tepatnya terhadap umat Islam— bukanlah bentuk kebencian, melainkan upaya penyelamatan. Kritik menjadi bentuk iman intelektual: keyakinan bahwa Islam cukup kuat untuk diuji, dipertanyakan, dan diperbarui.
Menghormati kejayaan ilmuwan Muslim masa lalu adalah hal wajar.
Namun, menjadikan kejayaan itu sebagai alasan untuk berhenti berpikir adalah pengkhianatan terhadap semangat mereka. Sejarah tidak pernah menjanjikan kejayaan yang abadi. Ia hanya memberi satu pilihan: bergerak dan beradaptasi, atau dikenang tanpa dilanjutkan.
Maka, membela Islam hari ini tidak cukup dengan membongkar “konspirasi global”, melainkan dengan: membangun pendidikan yang melatih nalar kritis, menumbuhkan tradisi riset dan debat yang sehat, serta mencetak cendekiawan yang mampu berbicara pada dunia, bukan hanya pada sesama. Karena pada akhirnya, Islam tidak membutuhkan perlindungan dari kritik, tetapi membutuhkan keberanian untuk kembali berpikir besar.
Oleh: Yudistira Pradipta Rusmana
Mahasiswa Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Jujuran Ilmu Komunikasi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment