Cerita Kita
Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Ayah di Tepi Rel
APERO FUBLIC I CERPEN.- Suara kereta adalah musik yang tidak pernah berhenti di tempat tinggalku. Setiap dentangan roda besi yang beradu pada rel, selalu datang seperti denyut jantung yang berulang; keras, teratur, dan tak pernah benar-benar memberi jeda.
Getaran tajam yang merambat sampai ke lantai papan rumah. Aku sudah terbiasa hidup dengan ritme itu sejak kecil, seakan-akan rumah kami memiliki jantung sendiri yang ikut berdenyut setiap kali kereta lewat.
Ayah sering berkata sambil tersenyum, “Kalau kamu bangun sebelum kereta pertama lewat, berarti kamu siap hadapi hari apa pun.”
Aku hanya tertawa kecil setiap kali ia mengatakannya, meski kadang aku merasa pernyataan itu bukan sekadar candaan. Ayah memang selalu mencari cara agar hidup ini terasa lebih ringan.
Kami tinggal di sebuah rumah kecil dari papan bekas yang menempel langsung di tepi rel. Hanya ada satu kamar, satu ruang keluarga yang merangkap dapur, dan kamar mandi mungil dari seng. Tapi semua itu ayah bangun sendiri, pelan-pelan, sambil menabung dari hasil kerja serabutan.
Pekerjaan ayah tidak tetap. Hari ini ia membantu mengangkut karung di pasar, besok ia bekerja di bengkel las, lusa menjadi ojek payung ketika hujan turun tiba-tiba. Apa pun yang menghasilkan uang halal, ayah ambil.
“Ayah itu serabutan, tapi tidak pernah sembarangan,” katanya suatu hari sambil tertawa kecil.
Aku percaya itu. Dari caranya bekerja, dari caranya pulang dengan tubuh Lelah tapi wajah tetap berusaha ringan.
*****
Hari itu, aku bangun lebih pagi karena suara kereta yang lewat terlalu keras. Sedikit kemiringan pada rel membuat getarannya lebih kuat dari biasanya. Aku duduk sambil meminum teh yang masih hangat ketika ayah keluar dari kamar sambil mengencangkan ikat pinggang.
“Sekolah jam berapa hari ini?” tanya ayah sambil mengambil roti tawar.
“Jam tujuh, Yah.”
Ayah mengangguk pelan. “Ada yang harus dibayar lagi?”
Pertanyaan itu sebenarnya biasa, tapi aku selalu merasa tidak enak. Meskipun kami hidup sederhana, kebutuhan sekolah tidak pernah berhenti.
“Ada, Yah…” jawabku pelan. “Foto untuk kartu OSIS. Dua puluh ribu.”
Ayah lebih lama diam dari biasanya. Aku tahu, angka dua puluh ribu itu tidak kecil bagi kami. Tapi ia tersenyum juga kemudian.
“Nanti Ayah usahain, ya.”
Ia pergi dengan senyum tipis, seperti seseorang yang berusaha menyembunyikan betapa capeknya ia sebenarnya. Aku menatap punggungnya sampai menghilang di tikungan gang, menyadari betapa banyak hal yang selalu ia sembunyikan di balik kata usahain itu.
*****
Di sekolah, hidupku tidak begitu rumit, kecuali satu hal: aku selalu berusaha menyembunyikan tempat tinggalku.
Hari itu di kelas, beberapa teman sedang membahas kejadian di dekat rel belakang, tidak jauh dari rumahku.
“Eh, kemarin gue lewat daerah rel buat motong jalan,” kata salah seorang temanku. Rumahnya kecil-kecil banget. Kalau kereta lewat pasti geter semua tuh, haha!”.
Yang lain ikut menimpali, “Gila, kebayang nggak sih kalo tinggal di situ? Debunya aja pasti kayak hujan.”
Mereka tertawa. Aku ikut tertawa, tapi tawaku kosong. Tidak ada yang tahu bahwa rumah yang mereka bicarakan adalah rumahku sendiri.
Salah satu temanku tiba-tiba menatapku. “Ndak, kamu pulang lewat arah mana sih? Deket-deket situ bukan?”. Aku tercekat.
“Engg… nggak. Rumahku agak jauh kok,” jawabku cepat.
Aku menunduk, pura-pura sibuk dengan buku catatan. Ada rasa hangat di mata, tapi aku tahan sekuat mungkin. Untuk apa aku malu? Aku pun tidak tahu. Seharusnya aku bangga dengan perjuangan ayah.
Tapi umurku… perasaanku… harga diriku sebagai remaja… semua bercampur jadi satu dan menimbulkan rasa rendah diri yang sulit dijelaskan.
*****
Sore hari, ayah belum pulang. Aku duduk di depan rumah, mengayun-ayunkan kaki di tepi papan. Kereta lewat menimbulkan angin kencang yang menerbangkan debu ke wajahku.
Bu Rini, ibu warung depan rumah, menghampiri sambil mengipas-ngipas dirinya.
“Ayahmu kerja keras sekali hari ini,” katanya.
“Waktu siang aku lihat dia batuk-batuk pas angkat karung.”
Aku mengangguk, tidak menjawab.
“Suruh istirahat, Ndak. Badannya kelihatan makin kurus.”
Aku menatap jalanan kecil yang sepi menuju arah pasar. Setiap kali ayah belum pulang sampai malam, dadaku tidak pernah benar-benar tenang.
*****
Jam hampir sembilan malam ketika ayah akhirnya muncul dengan langkah gontai. Bajunya penuh debu, wajahnya sembab, dan napasnya tampak berat. Tapi ketika ia melihatku, senyum itu lagi-lagi muncul.
“Ini…” Ayah menaruh uang dua puluh ribu di meja kayu kecil. “Buat fotomu.”
“Yah… udah makan belum?” tanyaku.
“Belum. Nanti aja.”
Ada yang janggal. Ayah tidak biasanya selelah itu.
*****
Beberapa hari setelahnya, kabar tentang penggusuran semakin santer. Petugas kelurahan datang membawa berkas-berkas, memotret rumah-rumah kami.
Warga memulai ronde baru obrolan panik.
“Kalau digusur kita pindah ke mana?”.
“Kontrakan mahal!”.
“Anak-anak sekolah gimana?”.
Kegaduhan itu membuatku semakin khawatir. Aku membayangkan harus pindah jauh, harus menyesuaikan diri lagi, atau bahkan tidak bisa sekolah jika biaya semakin besar.
Ayah hanya menepuk bahuku dan berkata. “Selama Ayah ada, kamu sekolah terus".
Tapi bagaimana jika ayah tidak kuat lagi bekerja?.
Pertanyaan itu selalu muncul di kepalaku.
*****
Sampai suatu sore, semua kekhawatiranku terjawab dengan cara yang paling menakutkan. Aku baru pulang sekolah ketika mendengar orang-orang berkerumun di ujung gang.
Beberapa tetangga berteriak panik. Aku berlari, jantungku seakan berpacu dengan suara kereta yang baru saja lewat.
“Ndak! Ayahmu!” teriak Pak Jago, tetangga kami.
Ayah sedang dibopong dua orang. Kepalanya terkulai, wajahnya pucat, baju kerjanya basah oleh keringat.
“Ayah!” jeritku.
“Ayahmu jatuh waktu ngangkat besi. Pingsan,” kata seseorang. “Maksa kerja padahal dari pagi udah batuk keras.”
Mataku berair langsung. Ayah diletakkan di kasur kami. Napasnya satu-satu, berat. Aku memegang tangannya yang dingin.
“Yah… Ayah dengar aku?”. Suaraku gemetar.
Perlahan, ayah membuka mata. Ia tersenyum lemah. “Maafin Ayah… Ayah cuma ingin kamu punya yang terbaik. Biar kamu nggak malu…”
Dan kalimat itu menghancurkan semuanya. Aku merasa seperti ditampar oleh dunia.
“Yah, aku yang salah!” tangisku pecah. “Aku malu tinggal di sini, aku malu sama teman-teman… tapi Ayah yang kerja sampai begini. Aku egois! Maafin aku, Yah… maafin…”
Ayah mengusap kepalaku pelan. “Nggak apa-apa. Namanya juga tumbuh. Yang penting kamu jangan menyerah sama sekolah.”
Aku menangis lebih keras.
******
Ayah butuh beberapa minggu untuk benar-benar pulih. Selama itu, tetangga-tetangga kami membantu: mengirimkan makanan, membantu memperbaiki rumah, bahkan menawarkan pekerjaan ringan.
Pemukiman pinggir rel ini mungkin dianggap kumuh oleh banyak orang. Tapi di tempat inilah aku melihat betapa tulusnya manusia bisa saling membantu.
Aku duduk di dekat ayah hampir setiap malam sambil bercerita tentang sekolah, tentang teman-teman, tentang rel yang selalu bising. Ayah hanya tersenyum, mendengar tanpa mengeluh.
Suatu malam, aku berkata pelan, “Yah… nanti kalau kita benar-benar digusur… aku nggak apa-apa. Asal masih sama Ayah.”
Ayah menatapku lama, senyum lembut muncul.
“Kamu anak Ayah yang paling kuat.”
Rel bergetar lagi. Kereta malam melintasi pemukiman kecil kami. Dulu aku membenci suara itu. Tapi sekarang, entah kenapa… suara itu seperti mengingatkanku pada rumah, pada perjuangan, pada ayah.
Tempat tinggal bisa digusur kapan saja. Papan rumah bisa lapuk, atap bisa bocor. Tapi ayah… ayah adalah fondasi paling kokoh yang pernah aku punya.
Dan malam itu, aku memutuskan satu hal: Aku tidak akan pernah malu lagi pada suara kereta, pada rumah kecil ini, dan pada ayah yang berdiri di tepi rel demi masa depanku.
PENULIS: Ninda Dwi Trismayanti
Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment