Cerpen
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Sastra Kita
MALAM; yang Tak Terlupakan
APERO FUBLIC I CERPEN.- Suatu malam yang seharusnya ada tawa dan candaan pada sebuah keluarga kecil, menjadi malam yang begitu mengerikan dan tak bisa terlupakan. Bintang yang bersinar terang memancarkan kedamaian yang abadi pupus, karena kejadian itu.
Aku, yang masih menduduki bangku sekolah dasar belum mengerti bagaimana dunia ini dapat bekerja . Malam itu ketika mata ini hendak tertutup, suara teriakan warga sangat jelas terdengar.
“Apa yang terjadi ibu” Aku bertanya dengan nada yang panic, kepanikan ini tidak terjadi pertama kalinya bagiku selepas ayahku tiada rasa takut terus menghantuiku. Ibu tak menjawab sebaliknya ia bergegas memeriksa keadaan di luar sana.
“Pak, ada apa ini malam-malam ramai sekali? ” ibu bertanya kepada salah satu warga dengan panik.
“A-api, ada api“ setelah mengucapkan kata itu jantungku berdebar sangat kencang.
‘Terjadi ini terjadi lagi debaran jantung ini aku sangat mengingatnya’ bagaimana tidak luka yang sempat hilang kini datang kembali seperti kobaran api.
Tanpa berfikir panjang ibu menyuruhku untuk bergegas membawa semua barang yang ada, kobaran api yang begitu kelaparan melahap semua yang ada disekelilingnya termasuk rumahku, aku sedih semua kenangan tentang rumah itu memenuhi fikiranku.
tawa,kehangatan,kebersamaan terlihat jelas dimataku ketika larut dalam kesedihan ini satu hal yang sempat ku lupakan, belum ku lihat lagi dalam kobaran api itu.
aku ingat senyuman hangat itu, “Ayah...” aku berlari mencari di semua tumpukan barang yang ada.
”Tidak ada, ia tidak ada, Ayahku…, Ayahku tidak ada”.
Aku menangis sangat kencang, begitu lirih dan pilu, sesuatu yang sangat berharga dan berarti tidak ada disisiku saat ini, melihat rumah itu sudah tidak tersisa.
Dadaku sakit, hatiku perih lantaran peti yang sangat di rawat dan di jaga hilang di lahab oleh api yang lapar, kenangan itu, foto-foto itu adalah satu satunya kenangan yang tersisa bersama ayahku dan sekarang kenangan itu hilang.
Aku berusaha berlari menyelamatkan ayahku, memberontak.
“Ayah…, Ayah… “ suara yang begitu lirih dan parau membuatku hampir pingsan, sebuah tangan meraihku dan memelukku, tangisku tak berhenti.
“Ibu.., Ayah Ayah masih berada di dalam, ayo kita selamatkan ayah ” lalu semuanya terasa begitu gelap, sunyi, hening.
Yang pertama kali tertangkap oleh mataku cahaya lampu terang. Pusing, air mata membasahi pipi tirusku.
"Apa ini semua hanya mimpi ’ ucapan yang pertama kali terlontar di dalam benakku.
Saat membuka pintu, ibu yang sedang menyiapkan sarapan memberikan senyuman manisnya, aku bergegas pergi ke kamar ibu dan melihat sebuah peti kokoh di atas lemari,
ketika ku buka peti itu sebuah senyuman hangat menyapaku “ hai Ayah jangan pernah pergi lagi ya ” “ibu fikir kamu kenapa bangun tidur langsung berlari tergesa gesa, rindu sama ayahmu?”ibu terus menggodaku setelah itu aku berfikir malam itu, tanggis itu, suara itu, menghantuiku setiap saat.
Malam itu ternyata tidak benar-benar pergi. Ia menetap diam-diam di sudut pikiranku, bersembunyi di balik cahaya pagi dan tawa yang dipaksakan. Setiap kali aku menutup mata, bayangan api itu kembali menari liar, merah, dan rakus, seolah masih mencari sesuatu yang tersisa untuk dihanguskan. Jantungku kembali berdebar seperti malam itu, cepat dan sesak, meski tubuhku aman di dalam rumah.
Aku sering terbangun di tengah malam, keringat membasahi pelipis, napas tersengal, memastikan bahwa rumah masih berdiri dan ibu masih bernapas tenang di kamar sebelah. Aku coba sekali lagi untuk memastikan, ku buka peti itu perlahan, memastikan wajah ayah masih tersenyum di balik bingkai foto. Setiap kali melihatnya, dadaku sedikit lebih ringan, meski luka itu tak pernah benar-benar sembuh.
Seiring waktu, aku mulai memahami satu hal yang dulu terlalu berat untuk dimengerti anak seusia itu. Api tidak hanya membakar rumah, tetapi juga kenangan dan rasa aman. Kehilangan bukan selalu tentang orang yang pergi, tetapi tentang ketakutan yang tinggal dan tumbuh bersama kita.
Kini aku tahu, ayah memang telah tiada jauh sebelum malam itu terjadi. Namun malam dengan kobaran api itu mengajarkanku arti kehilangan yang sesungguhnya bahwa cinta bisa tinggal dalam bentuk yang berbeda. Ia hidup dalam peti tua, dalam foto yang menguning, dalam ingatan yang terus menolak padam.
Dan setiap kali rasa takut kembali menyapaku, aku belajar menenangkannya dengan satu keyakinan sederhana:
selama kenangan masih ada, selama cinta masih ku jaga, ayah tidak pernah benar-benar pergi.
PENULIS:
Editor. Tim RedaRedaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerpen

Post a Comment