7/14/2022

DONGENG WOLIO. Pelanduk dan Harimau

APERO FUBLIC.- Pada suatua masa disuatu kawasan hutan luas, hiduplah seekor harimau dan seekor pelanduk di sana. Harimau tersebut menyimpan rasa sakit hati pada pelanduk yang selalu berhasil menipunya. Suatu hari, lagi-lagi harimau berhasil di tipu pelanduk yang sama. Sejak saat itu, harimau mulai menghabiskan waktu hanya untuk mencari pelanduk. Dia sudah sangat marah pada pelanduk itu.

Waktu berlalu, tanpa disangka-sangka harimau menemukan pelanduk yang sedang berjalan menuju sebuah sungai. Harimau mengikuti dari belakang, dan pelanduk tahu kalau dia sedang diikuti harimau. Tapi, untuk berbalik arah tidak mungkin, sama saja dia menyerahkan diri. Pelanduk pun akhirnya timbul rasa takut.

“Suda pasti harimau tidak akan memberiku jalan dan tidak akan melepaskanku.”       Kata pelanduk. Dia berjalan cepat-cepat dan terus menuju sungai. Ternyata sungai itu sangat besar dan dia tidak mungkin menyemberanginya. Sementara harimau berjalan santai mendekati pelanduk dari belakang sambil tersenyum.

“Baru kau rasa, akan Aku koyak-koyak tubuhmu. Baru Aku dapati sekarang. Mau kemana lagi kau.” Kata hati harimau penuh kemenangan. Pelanduk berpikir keras, di belakang harimau di depan sungai membentang lebar dan banyak buaya sepertinya. Benar saja, pelanduk melihat seekor buaya yang sedang mengapung di permukaan sungai.

“Hai kawan, apakah engkau belum mendengarnya?.” Kata Pelanduk, buaya mendengarkan dan melihat harimau yang berjalan mendekat tebing sungai . “Raja negeri ini hendak mengetahui, seberapa banyak jumlah kalian di dalam sungai ini. Oleh karenah itu, panggil memanggilah kalian datang kemari dan berbaris agar aku mudah menghitung jumlah kalian.” Kata pelanduk dengan serius, buaya yang mendengar memanggil teman-temannya semua. Mereka percaya pada kancil, karena mereka pikir benar sebab harimau yang menjadi raja hutan sedang menuju tempat itu. Maka muncullah buaya satu demi dan berbaris memanjang sehingga sampai ke seberang.

“Satu, dua, tiga, empat, lima.” Kata pelanduk menghitung buaya sisetiap dia melompati di belakang para buaya itu, dan sampailah dia di seberang. Sementara harimau telah mendekati tebing sungai dan melihat apa yang terjadi.

“Sudah, tugas kalain sudah selesai dan pulanglah. Penghitungan kalian sangat baik karena disaksikan langsung oleh wakil raja hutan.” Kata pelanduk sambil cengar-cengir, dan para buaya merasa bingung, benarkah pelanduk sudah jadi raja hutan.

Mendengar kata-kata pelanduk itu, betapa geram hati harimau. Sekarang pelanduk akan lepas lagi darinya. Kemudian dia melompat untuk mengejar pelanduk. Tapi sayang para buaya sudah mulai menenggelamkan diri. Sehingga saat harimau tiba di atas para buaya tubuh harimau langsung masuk kedalam air dan buayan terus menyelam pergi. Harimau sangat marah, dan kembali berenang ke pinggir sungai. Tubuhnya basah dan kedinginan sehingga dia menggigil. Saat melihat ke seberang sungai, pelanduk sudah pergi entah kemana.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Selita, S.Pd.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 14 Juli 2022.
Sumber: M.Arief Mattalitti, Dkk. Sastra Lisan Walio. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Jakarta, 1985.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment